Perempuan Petani Kopi Dari Sepenat

Lingkungan & Krisis Iklim

June 17, 2026

Prameswari Rajapatni/Kota Jambi

Suyati sedang memetik buah kopi. (credits: Hidayat/AJI Jambi)

MENYUSUTNYA tutupan hutan Bentang Alam Bukit Tigapuluh (BABT), tidak membuat turunnya semangat untuk menjaga kelestarian alam dari para petani perempuan. Satu diantarnaya, adalah Suyati (70), anggota Kelompok Sepenat Unggul di Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo, Jambi.

Perempuan asal Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, itu telah menetap selama 20 tahun di kawasan penyangga Bentang Alam Bukit Tigapuluh. Sehari-hari, ia menggantungkan hidup dari menyadap getah karet di kebun seluas satu hektare.

Namun, lahannya kini tidak lagi hanya ditumbuhi karet saja. Suyati menerapkan sistem agroforestri dengan menanam berbagai jenis tanaman dalam satu hamparan lahan, seperti kopi, durian, alpukat, hingga pohon meranti.

Upaya tersebut mendapat dukungan dari WWF Indonesia melalui Program Restorasi Berbasis Masyarakat (RBM). Melalui program itu, Suyati memperoleh bantuan berbagai bibit tanaman produktif dan tanaman kayu.

“Kami dapat bantuan bibit ada empat macam, yaitu durian, alpukat, kopi dan pohon meranti,” kata Suyati, mengutip rilis dari AJI Jambi.

Secara keseluruhan, ia menerima 125 bibit yang terdiri dari 25 bibit kopi, 25 bibit jeruk, 25 bibit alpukat, 25 bibit durian, dan 25 bibit pohon meranti untuk ditanam di lahan miliknya.

Biji kopi di tangkup tangan Suyati. (credits: Hidayat/AJI Jambi)

“Totalnya ada 125 bibit untuk kami tanam sebagai bagian dari restorasi berbasis masyarakat,” katanya.

Tanaman buah seperti kopi, kakao, ditanam di sela-sela tanaman yang sudah ada, seperti sawit ataupun karet. Sehingga membentuk sistem agroforestri yang lebih beragam.

Menjadi petani di kawasan penyangga habitat gajah Sumatera bukan tanpa tantangan. Suyati mengaku kebun masyarakat kerap dimasuki kawanan gajah liar yang merusak berbagai tanaman.

“Tanaman yang sering diganggu gajah itu sawit, pisang, pinang, dan pohon karet,” kata Suyati.

Setiap kali kawanan gajah datang ke perkebunan, warga biasanya bergotong royong menghalau satwa tersebut menggunakan kembang api agar kembali ke habitatnya.

“Jika gajah datang, kami ramai-ramai mengusirnya memakai kembang api,” katanya.

Di antara berbagai tanaman yang dibudidayakan, katanya, kopi menjadi komoditas yang paling aman dari gangguan gajah.

“Gajah tidak pernah makan tanaman kopi. Paling kalau lewat terinjak, tapi tidak dimakan,” katanya.

Selain ancaman satwa liar, petani juga menghadapi kendala lain berupa serangan penyakit tanaman. Bibit alpukat menjadi jenis tanaman yang paling rentan mengalami serangan jamur yang menyebabkan akar membusuk hingga akhirnya mati.

“Yang sering kena jamur itu tanaman alpukat,” katanya.

Walaupun dihadapkan pada berbagai tantangan, Suyati tetap berkomitmen mengembangkan sistem agroforestri di lahannya. Bibit kopi, durian, alpukat, dan meranti ditanam di sela-sela pohon karet sehingga lahan tidak hanya menghasilkan getah, tetapi juga memiliki potensi ekonomi dari berbagai komoditas sekaligus mendukung pemulihan ekosistem.

Bagi Suyati, program restorasi berbasis masyarakat bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menjadi harapan untuk menjaga keseimbangan antara kelestarian hutan, habitat satwa liar, dan keberlanjutan penghidupan masyarakat yang tinggal di BABT.

Rara Yulia Putri, Community Development Officer WWF Indonesia mengatakan pihaknya melakukan pendekatan strategi barrier atau penghalang alami dengan melakukan penanaman tanaman yang kurang disukai gajah oleh petani dalam Kawasan. Ini dengan tujuan untuk membangun koeksistensi hidup berdampingan antara manusia dan gajah.

“Berdasarkan data pergerakan gajah dari tahun 2018 hingga 2024 dari data BKSDA, wilayah desa dampingan kami ini adalah area yang cukup sering dilalui gajah. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat telah mengembangkan kebun sawit, sementara sawit merupakan salah satu tanaman yang cukup menarik bagi gajah sebagai sumber pakan,” katanya.

Atas kondisi ini, katanya, WWF mendorong masyarakat untuk menanam jenis-jenis tanaman yang kurang disukai gajah sebagai lapisan penghalang alami.

Sedangkan untuk pohon kayu seperti Gaharu, Meranti dan Pulai umumnya ditanam di bagian tepi atau batas kebun sehingga dapat berfungsi sebagai pagar alami seiring pertumbuhannya.

“Melalui pendekatan ini, diharapkan gajah menjadi kurang tertarik untuk masuk ke area kebun karena berkurangnya daya tarik pakan, dan, masyarakat tetap memperoleh manfaat ekonomi dari berbagai jenis tanaman yang ditanam,” katanya.

Sebab, agroforestri tidak hanya mendukung pemulihan ekosistem, tetapi juga menjadi salah satu upaya mitigasi konflik manusia dan gajah secara alami dan berkelanjutan.

Terkait dengan pemilihan jenis tanaman, katanya, pihaknya tidak menentukannya secara sepihak. Melalui proses FPIC, masyarakat diajak mengusulkan jenis tanaman yang tersedia di sekitar mereka, dapat dibibitkan sendiri, dan ingin mereka tanam dalam jangka panjang.

Pohon hutan seperti Meranti dan Pulai dipilih karena berperan penting dalam memulihkan tutupan hutan dan mendukung habitat satwa liar. Sementara itu, pohon buah seperti durian, petai, jengkol, dan alpukat dipilih karena selain memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat juga dapat menjaga melindungi ekositem landscape Bukit Tigapuluh yang merupakan hutan dataran rendah sumatra.

Dengan kombinasi ini, pola Agroforestry, restorasi dapat memberikan manfaat bagi ekosistem sekaligus mendukung penghidupan masyarakat secara berkelanjutan.*

Share:
avatar

Redaksi