Lokomotif Bernama “Bah Djambi”
Ekonomi & Bisnis
January 29, 2026
Jon Afrizal

Lokomotif “Bah Djambi”. (credits: Nationaal Archief Nederland)
BEBERAPA photo lawas dari Nationaal Archief Nederland memperlihatkan sebuah lokomotif bernama “Bah Djambi”. Satu photo memperlihatkan lokomotif sedang berjalan diantara kebun karet dan padang ilalang. Sementara, photo lainnya memperlihatkan lokomotif, yang sedang berhenti, dengan seorang masinis (juru mesin), dan tanpa gerbong.
Ada juga, photo-photo yang memperlihatkan lokomotif itu berada di luar jalur rel kereta api, dan tanpa gerbong.
Data Perpusnas, diketahui bahwa lokomotif dengan nama “Bah Djambi” adalah lokomotif yang telah ada di era sebelum Perang Dunia ke-2. Lokomotif itu masih beroperasi menjelang akhir tahun 1980-an.
Di akhir tahun 1980-an, lokomotif itu, “mengabdi” untuk mengangkut Tandan Buah Segar (TBS) di kompleks perkebunan sawit milik PT Perkebunan VII di Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.
Lokomotif ini, mengutip PTPN4, berhubungan erat dengan Gedung Kantor PTPN IV (PalmCo) Regional II, yang sebelumnya disebut dengan PTPN II, yang berada di Jl. Letjend Suprapto No. 2, Medan, Sumatera Utara.
Keseluruhannya, adalah peninggalan Kolonial Belanda. Dan, usianya, telah lebih dari satu abad.

Lokomotif “Bah Jambi”. (credits: Nationaal Archief Nederland)
Pada tahun 1958, setelah Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, secara otomatis kebun-kebun dan juga lokomotif “Bah Djambi” berpindah pengelolaannya ke pemerintah Indonesia. Melalui Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958 tentang “Nasionalisasi Perusahan-Perusahaan Milik Belanda”, maka seluruh aset perusahaan perkebunan Belanda, termasuk perkebunan sawit, dinasionalisasi.
Dari proses ini, maka lahirlah Perseroan Perkebunan Negara (PPN), yang menjadi cikal bakal perusahaan-perusahaan perkebunan milik negara. Pada 1968, PPN bertransformasi menjadi Perusahaan Negara Perkebunan (PNP), dan kemudian menjadi PT Perkebunan (Persero) pada 1974.
Reformasi perusahaan terjadi pada tahun 1996. Dengan penggabungan sejumlah PTP menjadi PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) yang berkantor pusat di Medan.
Dan, sejak saat itu, PTPN IV menjadi satu pemain utama dalam industri sawit dan teh di Indonesia, dengan kebun-kebun yang tersebar di Sumatera Utara dan daerah pegunungan seperti Bah Butong serta Tobasari.
Sejak 2015, PTPN IV berubah bentuk menjadi induk PalmCo, dengan lahan lebih dari 600.000 hektare.
Diketahui, sawit (Elaeis guineensis) masuk ke Indonesia pada tahun 1848. Yakni ketika Belanda membawa empat biji sawit dari empat tempat. Yakni; Bourbon, Mauritius, dan Hortus Botanicus, Amsterdam, Belanda.
Keempat biji sawit itu kemudian ditanam di Kebun Raya Bogor dan ternyata berhasil tumbuh dengan subur. Setelah berbuah, biji-biji dari induk sawit itu disebar ke Sumatra.
Mengutip Komisi Pengawas Pengusaha RI, perkebunan sawit skala besar dibuka untuk pertama kalinya dengan luas dengan luas 5.123 hektare di Sumatera Oostkus (Pantai Timur Sumatra), yakni; Deli dan Sungai Liat, Aceh, pada tahun 1911. Perkebunan sawit ini dikelola oleh perusahaan Sungai Lipoet Cultuur Maatschappij, yang didirikan oleh dua orang Belgia; Adrien Hallet asal Belgia dan K. Schadt.
Usahanya berkembang, dan tercatat tujuh perusahaan perkebunan sawit dan karet di Sumatera Oostkus. Yakni; Onderneming Soengei Lipoet, Onderneming Kuala Simpang, N.V Moord Sumatra Rubber Maatschappij, Onderneming Soengei Ijoe, Tanjung Suemanto’, Batang Ara, dan Mopoli.

PKS “Bah Jambi”. (credits: PTPN4)
Pada tahun 1910, organisasi perusahaan perkebunan bernama Algemene Vereneging voor Rubberpalnters ter Oostkus van Sumatera (AVROS), berdiri di Sumatera Utara dan Rantau Panjang, Kuala Selangor. AVROS adalah organisasi yang menaungi berbagai macam perusahaan perkebunan dengan didasari kepentingan yang sama.
Yakni menyikapi persoalan yang muncul dalam usaha perkebunan. Seperti kekurangan pekerja, menjalin hubungan dengan sesama pengusaha dan komunikasi dengan pemerintah, dan permasalahan transportasi.
Maka, lokomotif “Bah Djambi” adalah bagian dari kebijakan AVROS untuk tetap bertahan dan terus memperbaiki dan mengembangkan usaha perkebunan di Sumatera Oostkus kala itu.
Saat ini, lokomotif “Bah Djambi” telah pengsiun. Dan, tidak ditemukan informasi dimana letak rongsokannya kini. Apakah masih ada, atau telah melebur menjadi wujud besi lainnya.
Namun, satu yang masih melekat dalam sejarah hingga hari ini, adalah, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Bah Jambi, yang terletak di Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Pabrik tepat lokomotif “Bah Jambi” mengabdi.*
