Atas Nama Gandum; Perang Russia – Ukraina
Ekonomi & Bisnis
November 4, 2025
Zachary Jonah

Petani Gandum di Ukraina. (credits: Reuters)
UKRAINA adalah gambaran dari “keranjang roti Eropa”. Tetapi sejak invasi Russia di tahun 2022, semuanya jadi berantakan.
Pada tahun 2020, mengutip laporan European Parliament berjudul “Ukrainian Agriculture: From Russian invasion to EU integration” lahan pertanian Ukraina mencapa 41,3 juta hektare, atau 68,5 persen dari total luas lahan Ukraina.
Pertanian adalah penyumbang terbesar ketiga bagi perekonomian Ukraina, setelah jasa dan industri. Pada tahun 2021, pertanian menyumbang 10,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Ukraina, dan mempekerjakan 2,5 juta orang, atau sekitar 14 persen dari total populasi.
Terkait hasil pertanian, sereal dan tanaman industri ditujukan untuk tujuan ekspor Ukraina.
Pada tahun 2021, sebanyak 56 persen dari luas tanam Ukraina dialokasikan untuk menanam sereal, yang sebagian besar adalah gandum, jagung, dan jelai. Sementara 32,3 persen lainnya menghasilkan tanaman industri, seperti bunga matahari, rapeseed dan kedelai.
Panen sereal tahun 2021 di Ukraina menghasilkan 32 juta ton gandum, 42 juta ton jagung, dan 9,4 juta ton jelai. Sementara produksi tanaman industri di Ukraina adalah 16,4 juta ton bunga matahari, 10,8 juta ton bit gula pabrik, 3,5 juta ton kedelai, dan 2,9 juta ton rapeseed.

Roti dari gandum. (credits: Real Simple)
Ukraina adalah produsen dan eksportir utama komoditas pertanian utama, yang memasok banyak negara yang mengalami kesulitan pangan di Timur Tengah dan Afrika Timur, dan mempengaruhi harga pangan internasional.
Menurut laporan United Nations (UN), Ukraina adalah pemasok 50 persen stok biji-bijian UN World Food Programme Program (WFP), sebelum invasi Rusia di tahun 2022.
Mengutip World Bank, Ukraina adalah pengekspor gandum terbesar kelima di dunia, mengirimkan 20 juta ton gandum dan memegang 10 persen pangsa pasar global, pada tahun 2021.
Setelah Russia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, logistik ekspor menjadi terganggu. Ini karena rute berbiaya rendah untuk mengekspor biji-bijian melalui pelabuhan Laut Hitam telah diblokir oleh Russia.
Maka harga bahan bakar melonjak naik. Biaya produksi tanaman pun meningkat dua kali lipat dibanding tahun 2022.
Kerusakan sektor pertanian Ukraina di akhir tahun 2023 mencapai USD 10,3 miliar, serta pendapatan yang hilang dan peningkatan biaya produksi mencapai USD 69,8 miliar.

Angkatan bersenjata Rusia sedang berlatih di lapangan tembak Kadamovsky, Rostov, Rusia. (credits: Reuters)
European Parliament menyatakan bahwa tujuan invasi Russia terhadap Ukraina adalah untuk melumpuhkan perekonomi Ukraina. Akibatnya, kemampuan Ukraina untuk melawan invasi menjadi lemah.
Namun, pada posisi yang lain, invasi Russia telah memprovokasi terjadinya krisis ketahanan pangan global. Sehingga telah menciptakan tekanan internasional terhadap Ukraina. Akibat lainnya, sebanyak 400 juta jiwa yang bergantung pada ekspor pangan Ukraina, terutama di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan, menjadi tersandera.
Dibutuhkan biaya sebesar USD 56,1 miliar untuk kebutuhan rekonstruksi dan pemulihan kembali pertanian Ukraina, agar situasinya kembali mendekati situasi sebelum invasi terjadi. Pelaksanaan rekonstruksi dan pemulihan kembali diperkirakan mencapai waktu 10 tahun lamanya.
Biaya ini tidak termasuk biaya penjinakan ranjau dan pembersihan alat peledak yang belum meledak, yang diperkirakan mencapai USD 32 miliar.
Ukraina telah mengajukan permohonan menjadi anggotaan Uni Eropa pada Februari 2022 lalu. Dan Ukraina mendapat status kandidat pada Juni 2022.
Namun, semuanya tidak semudah membalikan telapak tangan.
Mengutip Euronews, Uni Eropa telah menyetujui perjanjian ekspor baru dengan Ukraina, yang diberlakukan sejak Rabu (29/10). Sebuah perjanjian yang dirancang untuk lebih meliberalisasi perdagangan antara Uni Eropa dan Ukraina.
Negara-negara seperti Hungaria, Polandia dan Slovakia hingga saat ini masih mempertahankan larangan impor pertanian Ukraina. Sehingga menjadi tantangan lain dalam mengintegrasikan sektor pertanian Ukraina yang luas ke Uni Eropa, dan juga terkait ketahanan pangan Uni Eropa.*
