Mengamati Tananam Dengan Aplikasi Reconnect
Lingkungan & Krisis Iklim
June 19, 2026
Prameswari Rajatni/Kota Jambi

Yoyok sedang berada di gudang penyimpanan pinang. (credits: Hidayat/AJI Jambi)
BENTANG Alam Bukit Tigapuluh (BABT) di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, kini hanya menyisakan sekitar 40 persen tutupan hutan dari total luas yang mencapai 450.000 hektare. Kondisi ini mendorong berbagai upaya restorasi berbasis masyarakat untuk memulihkan kawasan, Dan sekaligus menjaga habitat satwa liar yang tersisa.
Satu kelompok yang terlibat aktif dalam program tersebut adalah Kelompok Petani Bukit Tigapuluh yang diketuai Yoyok. Kelompok ini beranggotakan 15 petani yang mengelola lahan dengan beragam komoditas, mulai dari jahe, kopi, pinang, karet, kakao, petai, jengkol, vanili hingga gaharu.
Yoyok mengatakan, sejak 2023 kelompoknya mendapat pendampingan dari WWF Indonesia projeknya sekolah lapang karet berkelanjutan dengan skema agroforestry. Kemudian dilanjut ditahun 2026 itu Program Restorasi Berbasis Masyarakat (RBM). Program itu mendorong masyarakat menjadi pelaku utama dalam pemulihan kawasan hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kami mendapatkan bantuan bibit kopi, jahe, jeruk, serta bibit pohon seperti meranti dan gaharu untuk ditanam di lahan petani,” kata Yoyok, mengutip rilis dari AJI Jambi.
Sebagian besar petani di kawasan tersebut awalnya mengandalkan tanaman karet sebagai sumber penghasilan. Namun ketika harga karet anjlok, banyak petani memilih mengganti kebun mereka menjadi perkebunan kelapa sawit.
Ia mengatakan bahwa setiap anggota kelompok mengusulkan lahan mereka untuk masuk dalam program restorasi dengan luas bervariasi, mulai dari 0,5 hektare hingga 4 hektare.

Yoyok sedang mengukur tanaman dengan aplikasi Reconnect di androidnya. (credits: Hidayat/AJI Jambi)
Berbeda dengan petani lainnya, Yoyok tetap mempertahankan kebun karetnya yang mencapai sekitar 4 hektare.
“Banyak yang beralih ke sawit karena harga karet turun. Tapi saya tidak tega menebang pohon karet. Sayang kalau diganti semua dengan sawit,” katanya.
Ia mengatakan bahwa kebun karet masih memiliki prospek karena seluruh hasil pertanian yang mereka tanam selalu memiliki pasar. Dan, katanya, seluruh tanaman yang ia tanam, telah ada pembelinya.
Melalui program RBM, para petani juga menerima bibit tanaman buah seperti durian, matoa serta beberapa jenis pohon kayu. Sebagian bibit pohon bahkan berasal dari hasil pencarian masyarakat yang kemudian dibeli oleh WWF Indonesia untuk mendukung kegiatan restorasi.
Dimana setiap hektare lahan memperoleh sekitar 30 bibit lengkap dengan penyulaman untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh.
Seluruh proses penanaman dilakukan menggunakan aplikasi Reconnect. Melalui aplikasi android ini, setiap bibit yang ditanam didata secara rinci, mulai dari lokasi, tinggi tanaman hingga nomor seri bibit.
“Setelah ditanam, datanya langsung dimasukkan ke aplikasi Reconnect, mulai dari tinggi tanaman sampai nomor seri bibit,” katanya.
Menurutnya, aplikasi ini memudahkan proses pemantauan perkembangan tanaman. Setiap tiga bulan sekali petani melakukan pengecekan untuk memastikan bibit yang ditanam tetap hidup.
Dari aplikasi ini dapat diketahui bibit yang hidup atau mati. Sehingga petani punya tanggungjawab untuk terus memantau tanaman yang sudah ditanam,” pungkasnya.
Program RBM di Bentang Alam Bukit Tigapuluh tidak hanya mempercepat pemulihan kawasan hutan yang tersisa. Tetapi juga menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus menjaga habitat penting bagi gajah Sumatera, harimau Sumatera, dan satwa liar lainnya.
Nazli Herimsyah, Project Executant Bukit Tigapuluh Landscape WWF Indonesia mengatakan landscape Bukit Tigapuluh adalah hutan tropis dataran rendah di Pulau Sumatera yang memiliki nilai konservasi tinggi dan berfungsi sebagai habitat penting bagi berbagai spesies kunci yang dilindungi, seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), dan berbagai jenis satwa liar lainnya.
Menurutnya, tutupan hutannya sekarang hanya tersisa 191.400 hektare 40 persen dari total llebih dari 450.000 hektare.
Selain itu juga sebagai penopang kehidupan bagi 1.000 masyarakat adat seperti suku talang mamak ada 800 orang kemudian suku orang rimba 210 orang juga Masyarakat Lokal yang menggantungkan hidup disana serta landscape ini juga di dominasi oleh lima Konsesi.
“Dalam beberapa dekade terakhir, Landscape Bukit Tiga Puluh menghadapi berbagai tantangan berupa perubahan tutupan hutan, fragmentasi habitat, degradasi ekosistem, perambahan kawasan, serta meningkatnya interaksi negatif antara manusia dan satwa liar,” katanya.
Kondisi ini, katanya, berpotensi mengurangi kualitas habitat, menghambat pergerakan satwa liar, serta meningkatkan risiko konflik yang dapat mengancam keselamatan maupun sumber ekonomi masyarakat serta keberlangsungan populasi satwa liar yang dilindungi. Sehingga diperlukan upaya konservasi yang terencana, terpadu, dan berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan termaksud masyarak yang berdiam di dalamnya,
Nazli mengatakan bahwa secara keseluruhan, tekanan yang paling dominan terhadap keberlangsungan landscape Bukit Tigapuluh adalah perubahan tutupan lahan yang menyebabkan fragmentasi habitat, yang kemudian memicu meningkatnya konflik manusia dan satwa liar, khususnya gajah Sumatera, yang mengakibatkan kerusakan tanaman, kerugian ekonomi masyarakat, hingga ancaman terhadap keselamatan manusia dan satwa. Selain itu, tekanan ini saling berkaitan dan menjadi akar berbagai permasalahan konservasi di Landscape Bukit Tigapuluh.
Secara umum, hingga Juni 2026 Program RBM menunjukkan perkembangan yang positif. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari 30.000 jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari tingkat kelangsungan hidup tanaman (setidaknya memiliki survival rate 80 persen), keterlibatan aktif masyarakat (tujuh kelompok masyarakat di dua desa (: Suo-suo dan Muara Kilis) dengan 112 masyarakat yang terlibat), penguatan kelembagaan lokal, serta kontribusinya terhadap pemulihan fungsi ekosistem dan pengurangan tekanan terhadap habitat satwa liar (setidaknya berkonstribusi pada 163,62 hektare.
“Indikator-indikator tersebut akan terus dipantau secara berkala melalui kegiatan monitoring dan evaluasi dengan aplikasi Reconnect untuk memastikan keberlanjutan hasil dalam jangka panjang,” katanya.
Sedangkan untuk aplikasi Reconnect tidak hanya berfokus pada aksi penanaman pohon. Melainkan menggunakan pendekatan pengelolaan restorasi berbasis Web-based Geographic Information System (WebGIS).
Aplikasi ini dapat memastikan tingkat keberhasilan restorasi dengan melakukan monitoring kondisi penanaman berbasis geotagging dan akan diolah dalam bentuk tingkat hidup penanaman. Proses pemantauan ini merupakan dasar utama bagi fase pemeliharaan dalam siklus penanaman, sehingga akan mendukung upaya memastikan keberhasilan tingkat penanaman.
“Kami menerapkan 2 petak ukur 1 petak ukur permanen (PUP) yang akan dilakukan monitoring rutin di tempat yang sama dengan luasan yang representatif untuk melihat tingkat pertumbuhan tanaman. Kami membuat petak ukur yang dipilih dengan metode stratified sampling with random start yang dibuat secara khusus untuk melihat survival rate hidup/ mati lokasi petak ukur ini dibedakan tiap kali monitoring untuk menghindari bias,” katanya.
Keberhasilan restorasi dilihat dari tingkat survival rate dan tingkat pertumbuhan yang akan dimonitor.*
