Jejak Penyebaran Islam Di Kampar
Resonansi
June 29, 2026
Jon Afrizal/Bangkinang, Kampar

Pintu gerbang makam Syekh Abdul Gani Al Khalidy Al Kampari di Desa Batu Bersurat Kecamatan XIII Koto Kampar. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
DUA makam dengan nisan terbuat dari kayu, dan kayu itu telah memfosil menjadi batu. Makam itu berada di sebuah bukit kecil, Air Tiris, Simpang Kubu, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar Provinsi Riau.
Bukit itu berada di sisi Jalan Nasional Pekanbaru – Bangkinang, tepatnya di KM 54. Dua makam pada bukit itu, adalah; makam Datuk Panglima Khatib dan makam Teuku Aceh.
Terdapat keterangan angka tahun 1627 pada makam Datuk Panglima Khatib. Dengan melihat bentuk dari nisan yang sama di kedua makam, yakni berbentuk segi empat, maka kesimpulan sementara, kedua makam itu adalah pada masa yang berdekatan.
Assalamualaikum Ya Ahli Kubur. Aku menjejakkan kaki untuk menaiki 17 anak tangga, menuju ke makam Datuk Panglima Khatib dan makam Teuku Aceh.
Berdasarkan folklore, Datuk Panglima Khatib adalah anak dari Teuku Aceh.
Kedua makam itu berada di satu hamparan, dan berpagar besi. Tak seberapa jauh dari makam, dibuatkan Tugu Kabupaten Kampar.

Makam Datuk Panglima Khatib dan Teuku Aceh Air Tiris, Simpang Kubu, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar Provinsi Riau. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Sedikit sekali keterangan tertulis yang dapat ditemukan untuk mengungkap dua makam yang berusia sekitar 5 abad ini. Namun, dari sedikit literasi itu, dapat disimpulkan, bahwa kedua makam ini terhubung dengan Kerajaan Gunung Sahilan.
Kerajaan Gunung Sahilan (: Kesultanan Kampar Kiri) diperkirakan berdiri pada awal abad ke-17 M oleh Tengku Yang Dipertuan Bujang Sati bergelar Sutan Pangubayang. Ia adalah putra Yang Dipertuan Pagaruyung.
Awalnya Kerajaan Gunung Sahilan adalah kerajaan vassal Kerajaan Pagarruyung. Setelah keruntuhan Kerajaan Pagarruyung di tahun 1833, akibat dari Perang Paderi, maka Kerajaan Gunung Sahilan pun berubah bentuk menjadi kerajaan independen dan berdaulat.
Di Kabupaten Kampar, banyak ditemui jejak Tarekat. Terutama Naqsabandiyah dan Satariyah.
Tarekat (: Thariqah) adalah istilah yang merujuk kepada aliran-aliran dalam dunia tasawuf (sufisme) Islam yang berfungsi sebagai jalan khusus untuk menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Jika mengartikan secara bahasa, maka Thariqah memiliki arti: “jalan”. Namun, secara konsep, Thariqah memiliki makna sebagai: jalan yang kering di tengah lautan.
Makna ini, merujuk kepada sebuah ayat dalam Alquran, tentang Nabi Musa yang membawa Bani Israil, ketika dikejar-kejar Fir’aun, yakni Surat Thaha ayat ke-77. Mengutip NU Online, artinya, adalah; “Sungguh, telah Kami wahyukan kepada Musa, “Pergilah bersama hamba-hamba-Ku (Bani Israil) pada malam hari dan pukullah laut itu untuk menjadi jalan yang kering bagi mereka tanpa rasa takut akan tersusul dan tanpa rasa khawatir akan tenggelam.”
Tarekat, dalam pelaksanaannya, bermakna sebagai jalan khusus bagi individual. Tarekat adalah fase kedua dari skema umum tahapan perjalanan keagamaan, yakni; syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.
Teuku Aceh adalah seorang guru agama Islam yang berasal dari Aceh. Ia menyebarkan agama Islam di wilayah Limo Koto. Yakni; Kuok, Salo, Bangkinang, Air Tiris, dan Rumbio.
Setelah berada di sana, Teuku aceh pun menikah dengan seorang gadis asal daerah Koto Pukatan, yang bernama Gadi Kuniang. Mereka di Bukit Cocang (Bukit Gocang), yang kini biasa disebut dengan Bukit Ambacang.
Dari perkawinan itu, lahirlah Khatib. Namun, ketika Khatib berusia sekitar 4 tahun, Teuku Aceh meninggal dunia.
Gadi Kuniang pun lalu menikah dengan lelaki duda bernama Bujang Jaketo.
Setelah dewasa, sebagaimana masyarakat disana, Gindo Khatib, demikian sapaannya, pun mencari ikan di Sungai Air Tiris, yang dalam bahasa lokal artinya adalah: sungai yang bocor.

Plakat makam Tuanku Guru Besar Mursyid Thoriqoh Naqsabandiah Syekh Haji Abdul Rahman Bin Paduko Lakmano di Desa Tanjung Alai Kecamatan XIII Koto Kampar. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Suatu ketika, Khatib melemparkan tombak tempuling, dan mengenai ikan tapa (Siluriformes). Namun, Khatib muda malah terseret ikan tapa hingga ke wilayah Lipat Kain.
Selanjutnya, diketahui, bahwa Khatib telah menjadi panglima istana Kerajaan Gunung Sahilan, dengan nama Panglima Khatib. Dengan perkiraan, Khatib menjadi panglima adalah di masa pemerintahan Tengku Yang Dipertuan Bujang Sati.
Lalu, Panglima Khatib ditugaskan berlayar ke Malaka, bersama 14 anak buahnya dari Kampar Kiri. Diketahui, ia sampai ke Negeri Sembilan.
Dan, ini pun menjelaskan bahwa hingga hari ini, banyak warga Kampar yang merantau ke Malaysia, terutama ke Negeri Sembilan.
Di Batang Sebayang Desa Kuntu, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, juga terdapat makam Syekh Burhanuddin, pensyiar agama Islam dan guru besar Tarekat Naqsabandiyah. Syekh Burhanuddin diperkirakan lahir 530 H (1111 M) di Makkah dan meninggal pada 610 H (1191 M).
Syekh Burhanuddin mengembangkan Islam Mazhaf Syafi’i di Kuntu. Sehingga menyebabkan Islam Syi’ah yang datang sebelumnya ke Kuntu kehilangan kekuatan politik pada tahun 1238 M. Islam Syi’ah dikembangkan oleh orang Cambay Gudjarat.
Buku “Sejarah Riau” dari tim penulis Universitas Riau menyebutkan bahwa Kuntu adalah daerah yang pertama di Riau yang berhubungan dengan pedagang-pedagang asing dari Cina, India, dan negeri Arab Persia. Kuntu, di lembah Sungai Kampar Kiri adalah daerah penghasil lada antara tahun 500 himgga 1400 M.
Di Desa Tanjung Alai Kecamatan XIII Koto Kampar, juga ditemui makam Tuanku Guru Besar Mursyid Thoriqoh Naqsabandiah Syekh Haji Abdul Rahman Bin Paduko Lakmano.
Sementara di Desa Batu Bersurat Kecamatan XIII Koto Kampar, juga dapat dijumpai makam Syekh Abdul Gani Al Khalidy Al Kampari (1811-1961). Syaikh Abdul Ghani Al-Kampari diperkirakan lahir di tahun 1811, dan wafat pada tahun 1961 dalam usia 150 tahun.
Masuknya Islam di Kampar tidak dapat dipisahkan dengan kedatangan pedagang Arab, Persia, ataupun India ke wilayah ini.
Penyebaran agama islam di Kampar, dipermudah setelah Kerajaan Kampar masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Islam Malaka pada abad ke-15 M. Pedagang yang melintasi sungai ini turut menyebarkan ajaran Islam ke pedalaman Sumatra.
Ketika Dinasti Abbasiyah runtuh pada pertengahan abad ke-13 M, maka pusat Islam berpindah ke Mesir, Maroko, dan Persia. Orang-orang dari ketiga wilayah inilah yang berhubungan dan berdagang hingga ke bagian terdalam Pulau Sumatra.
Penyebaran Islam di Riau pada masa itu, adalah; Kuntu/Kampar, Rokan, Kuantan, Gasib/Siak, dan, Tapung.
Sehingga, bukti-bukti fisik berupa makam-makam ini adalah penjelasan mengapa hingga hari ini ajaran tarekat masih ada dan terus berkembang di Riau daratan.*
