Mereka Kembali Ke Desa

Ekonomi & Bisnis

August 9, 2026

Nkomo A Gogo

Kehidupan tenang di desa. (credits: Dianxi Xiaoge/Facebook)

Banyak warga kota menikmati ketenangan di pedesaan. Tetapi belum tentu mereka dapat beradaptasi jika harus tinggal di desa secara permanen.

BEIJING dengan daya tariknya, sebagai tempat terbaik untuk menempuh pendidikan, membangun karier, dan meningkatkan status sosial bagi warga China, kini mulai ditinjau ulang. Ini seiring dengan berbagai tantangan, mulai dari persaingan kerja yang kian ketat, mahalnya biaya perumahan, hingga munculnya peluang di kota-kota lain di China maupun di luar negeri.

Data resmi pemerintah kota Beijing yang dipublikasikan pada Mei 2026 lalu di China Economic Observer menyebutkan bahwa dalam satu dekade terakhir, jumlah penduduk Beijing yang berusia 20 hingga 29 tahun menurun sekitar 46 persen, dari sekitar 4,62 juta orang pada 2015, menjadi 2,49 juta orang pada 2024.

Meskpun, jumlah penduduk Beijing secara keseluruhan relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir, hanya turun tipis dari sekitar 21,89 juta orang pada 2020 menjadi 21,83 juta orang pada akhir 2024. Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata penurunan jumlah penduduk, melainkan perubahan komposisi siapa yang tinggal di ibu kota.

“Angka ini tidak seharusnya dimaknai sebagai eksodus besar-besaran. Sebab, penurunan ini harus dilihat dalam konteks perubahan demografi yang lebih luas, mengecilnya jumlah penduduk usia muda, perubahan arus migrasi, serta perkembangan kondisi perkotaan dan pasar tenaga kerja di Beijing,” kata Zhao Litao, peneliti senior di East Asian Institute (EAI), National University of Singapore, mengutip CNA.

Menurutnya, penurunan jumlah penduduk muda di Beijing bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Ini mengingat jumlah dan proporsi kelompok usia 20 hingga 29 tahun memang terus menurun di seluruh China.

Pun Provinsi Henan, Hebei, dan Anhui juga mengalami penurunan proporsi penduduk usia muda. Di Henan, misalnya, jumlah penduduk berusia 20-29 tahun turun dari 14,75 juta orang pada 2015 menjadi 10,37 juta orang pada 2024.

Orang muda yang bekerja di desa. (credits: Dianxi Xiaoge/Facebook)

Saat ini, terjadi trend baru bagi pemuda di China. Masih mengutip CNA, bahwa media sosial dipenuhi video dan unggahan tentang kebun sayur yang asri serta homestay yang indah di desa.

Kehidupan desa, adalah juga fakta urbanisasi pesat di China selama bertahun-tahun ini. Yang ditandai dengan perpindahan besar-besaran penduduk dari desa ke kota.

Fenomena ini didorong kombinasi tekanan ekonomi, berbagai inisiatif pemerintah, dan perubahan aspirasi gaya hidup.

Per tahun 2025, mengutip Xinhua, lebih dari 12 juta orang telah kembali ke pedesaan untuk memulai usaha, menciptakan industri baru dan model bisnis inovatif. Per tanggal 26 Februari 2025, misalnya, jumlah kreator platform Douyin yang kembali menetap di kampung halaman di perdesaan sepanjang setahun terakhir telah melampaui 130.000 orang.

Pada periode yang sama, lebih dari 1,36 miliar video bertema pedesaan diunggah ke platform Douyin. Sementara itu, jumlah kreator berusia di bawah 30 tahun meningkat 45 persen per tahun pada 2025.

Sementara itu, hingga Oktober 2025, platform Kuaishou, menampilkan lebih dari 140 juta pengguna yang tertarik pada pertanian, pedesaan, dan petani. Demikian mengutip People’s Daily pada 14 Mei 2026.

Kementerian Perdagangan China, menyebut platform e-commerce utama telah menayangkan lebih dari 4 juta siaran langsung bertema pertanian sepanjang 2025. Pada 2025, nilai penjualan ritel daring di wilayah perdesaan China untuk pertama kalinya melampaui CNY 3 triliun atau sekitar IDR 7.800 triliun.

Bagi banyak kaum muda perkotaan di China, pindah ke perdesaan kini tidak lagi berarti harus mengorbankan berbagai kenyamanan modern.
Infrastruktur di pedesaan China yang berkembang pesat, jalan yang lebih baik, akses internet yang luas, serta kondisi tempat tinggal yang semakin layak membuat kehidupan di desa kian memungkinkan.

Desa Wisata Xuexiang, Provinsi Heilongjiang, China. (credits: Wiki Commons)

“Sejumlah wilayah di Delta Sungai Mutiara, Delta Sungai Yangtze, dan sekitar Chengdu sebagai contoh kawasan perdesaan yang kini menjadi alternatif menarik dibanding kehidupan di kota,” kata Qian Forrest Zhang, lektor kepala sosiologi di Singapore Management University (SMU), mengutip CNA.

Menurutnya, warga di sana umumnya menikmati rumah yang lebih luas, lingkungan yang lebih hijau, dan akses ke berbagai fasilitas modern. Tentunya, sambil tetap berada dalam jarak tempuh menuju kota-kota besar.

Sektor pariwisata juga membuka sumber pendapatan baru. Banyak desa yang berkembang menjadi tujuan wisata kini memiliki kafe, toko roti, dan berbagai fasilitas bergaya perkotaan yang memenuhi imajinasi wisatawan kota tentang kehidupan desa.

Desa wisata Xuexiang, Provinsi Heilongjiang yang terkenal dengan pemandangan musim dinginnya, terlihat peningkatan infrastruktur jalan dan pengembangan sektor pariwisata telah mengubah kawasan tersebut menjadi destinasi wisata sepanjang tahun.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa gambaran kehidupan pedesaan di media sosial tidak disamakan dengan kenyataan. Sebab, pada dasarnya, wisatawan dari kota hanya berpindah ke lokasi pedesaan untuk menikmati jenis konsumsi yang serupa, tanpa benar-benar melihat sisi pertanian dari kehidupan desa.

Seba, tinggal sepanjang tahun di kota kecil atau desa sangat berbeda dengan sekadar berkunjung saat akhir pekan.*

Share:
avatar

Redaksi