Ma’af, Sumatra Blackout
Ekonomi & Bisnis
May 26, 2026
Farokh Idris/Kota Jambi

Ilustrasi cahaya lilin. (credits: Pixabay)
SETELAH kejadian blackout (listrik padam) di sebagian wilayah Sumatra selama tiga jam, pada Jum’at (15/5) malam, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta PT PLN (persero) untuk memaksimalkan proses pemulihan pasokan listrik. Ini dengan tujuan agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal.
“Kementerian ESDM sebagai regulator dan pengawas subsektor ketenagalistrikan memberikan perhatian serius terhadap kejadian blackout di Sumatra ini,” kata Wakil Menteri ESDM Yuliot, mengutip Antara.
Kementerian ESDM, katanya, bersama Kementerian Sekretariat Negara dan PT PLN (Persero) terus melakukan koordinasi intensif dalam penanganan gangguan sistem kelistrikan yang terjadi di sebagian wilayah Sumatera pada Jumat (23/5).
“Kami memahami gangguan ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat serta berdampak pada aktifitas ekonomi dan sosial di wilayah terdampak,” katanya.
Yuliot juga memastikan bahwa investigasi teknis dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif. Dengan tujuan untuk mengetahui akar penyebab gangguan, dan menyiapkan langkah mitigasi supaya kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
“Pada tahap awal pasca padam meluas, kami telah menerjunkan tim inspektur ketenagalistrikan ke lapangan dan akan diperkuat tim berikutnya untuk melakukan investigasi lebih intensif untuk memastikan agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Tri Winarno.
Ia mengatakan, selain proses pemulihan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah meminta PLN untuk melakukan peningkatan keandalan backbone sistem Sumatera. Yakni dengan pembangunan pembangkit dan transmisi 500 kV/275 kV dan penguatan keandalan sub sistem di setiap provinsi.
Selain itu, katanya, PLN juga perlu menyiapkan pembangkit atau infrastruktur blackstart untuk percepatan pemulihan apabila terjadi gangguan. Sehingga, PLN akan melakukan percepatan pembangunan pembangkit di wilayah Sumatera bagian barat agar dapat berjalan baik.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo meminta ma’af kepada masyarakat atas gangguan yang terjadi serta memastikan seluruh personel di lapangan bekerja secara maksimal untuk mempercepat normalisasi sistem kelistrikan di wilayah terdampak.

Ilustrasi cahaya lilin. (credits: Pixabay)
“Sejak kejadian terjadi, seluruh personel kami langsung bergerak melakukan asesmen, pemulihan sistem transmisi dan gardu induk, serta menyalakan kembali pembangkit secara bertahap dan terkoordinasi,” katanya.
Ia mengatakan bahwa indikasi awal gangguan berasal dari sistem transmisi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi, yang diduga dipengaruhi kondisi cuaca. Gangguan ini kemudian memicu domino effect pada sistem kelistrikan Sumatera, yang berdampak pada sejumlah pembangkit di berbagai wilayah.
“Fokus PLN saat ini adalah menyalakan pembangkit, menyambungkan kepada sistem transmisi, serta mensinkronisasi,” katanya.
Proses penormalan terus menunjukkan perkembangan signifikan, hingga Sabtu (23/5) pukul 19.00 WIB. Menurutnya, dari total 13,1 juta pelanggan terdampak, sebanyak lebih dari 8,5 juta pelanggan telah kembali menikmati aliran listrik.
Beban sistem yang telah berhasil dipulihkan mencapai 3.431,21 MW dari total 5.334 MW yang sebelumnya terdampak. Selain itu, seluruh gardu induk terdampak atau sebanyak 176 unit telah berhasil beroperasi kembali.
Sementara itu, YLKI Jambi meminta PLN tidak hanya fokus pada pemulihan sistem pascakejadian saja. Tetapi juga menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi serius.
“PLN harus belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya. Jangan hanya selesai ketika listrik kembali menyala, tapi harus ada evaluasi total agar masyarakat tidak terus menjadi pihak yang dirugikan,”kata Ketua YLKI Jambi Ibnu Kholdun, mengutip Jambi Independent.
PLN memiliki tiga sistem pertahanan kelistrikan untuk wilayah Sumatera Bagian Selatan, Sumatera Bagian Tengah dan Sumatera Bagian Utara. Ketiganya tidak dapat berdiri sendiri, dan saling berhubungan.
Begitu pula jika ada sub sistem yang terganggu. Maka yang lainnya pun ikut terganggu. Sehingga terjadilah blackout.
Blackout adalah pemadaman total yang terjadi secara meluas dan mendadak. Wilayah-wilayah yang terdampak blackout Sumatra, adalah; Jambi, Sumatra Barat, Riau, Sumatra Utara dan Aceh.
Dan, ganggunan yang terjadi pada sistem transmisi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai, telah menunjukan kerentanan sistem kelistrikan Indonesia.
Jika gangguan yang terjadi pada satu sistem transmisi dapat melumpuhkan aktifitas di separuh wilayah Pulau Sumatra, maka bagaimana jika gangguan yang terjadi lebih besar lagi? Efek domino apa yang kira-kira terjadi?

Ilustrasi cahaya lilin. (credits: Pixabay)
Blackout, tidak hanya soal lampu rumah yang padam. Saat ini di eranya digital, blackout juga terhubung dengan sinyal internet yang masih bergantung dengan listrik. Juga pasokan air bersih, dan seterusnya.
Kondisi blackout, dimana masyarakat hanya memiliki sumber kelistrikan dari PLN, sebagi objek vital, maka hanya lilin yang masyarakat punya untuk menerangi rumah masing-masing. Bagaimana dengan telekomunikasi, dan seterusnya?
Mengutip penelitian dari Anna T Falentina berjudul “The impact of blackouts on the performance of micro and small enterprises: Evidence from Indonesia” bahwa kondisi blackout listrik di Indonesia dapat mengurangi produktivitas karyawan UMKM sehingga perusahaan merugi hingga IDR 71,5 miliar per tahun.
Lantas, lagi dan lagi, pada blackout kali ini, permintaan bertabur maaf diberikan kepada masyarakat. Tanpa kompensasi apapun kepada konsumen.
Padahal, jika mengutip Investor Trust, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan PT PLN (Persero) mencatat pendapatan sebesar IDR 582,68 triliun sepanjang tahun 2025. Pendapatan ini tumbuh 6,84 persen jika dibandingkan tahun 2024 yang sebesar IDR 545,38 triliun.
Pertumbuhan pendapatan ini terjadi karena pertumbuhan penjualan tenaga listrik dan percepatan penyambungan pelanggan di berbagai wilayah Indonesia.
Dua tahun berselang, pada 4 Juni 2024, juga terjadi blackout selama beberapa jam di wilayah Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu.
Pada saat itu, jaringan transmisi SUTT 275 kV Lubuklinggau – Lahat menggalami gangguan yang mengakibatkan terganggunya pelayanan PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (S2JB).
GM PT PLN UID S2JB, Adhi Herlambang, mengutip Detik, mengatakan bahwa hasil penyelidikan internal PLN menyebut adanya dugaan petir yang mengenai jaringan transmisi SUTT 275 kV Lubuklinggau – Lahat. Dugaan lainnya karena gangguan jaringan 150 kV di ruas Prabumulih Simpang 3 imbas warga menebang pohon.
Serentan inilah sistem kelistrikan kita. Dengan kabel-kabel listrik di sepanjang jalan lintas Sumatera, yang terbentang saling berhubungan di bagian barat, tengah dan timur Sumatra.
Lantas, apa antisipasi dari ini semua?*
