Wabah Hoax Menular
Lifestyle
April 18, 2026
Jon Afrizal/Kota Jambi

Molekul harus menembus ke bagian dalam virus untuk menghancurkannya. (credits: Hartmann Science-Center)
MESKIPUN Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jambi menyatakan wilayah Provinsi Jambi masih aman dan nihil kasus terkait lonjakan Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau yang disebut dengan Flu Singapura, namun, hoax telah menyebar dan menular lebih cepat dari wabah penyakit itu sendiri.
Kemarin, Kamis (16/4), dengan pola share to share melalui WhatsApp, satu Taman Kanak-Kanak (TK) di Kota Jambi memberikan himbauan kepada para orangtua murid, jika anak mereka sedang mengalami flue untuk “beristirahat di rumah”, yang artinya: Libur, dan diminta untuk segera memeriksakan anaknya ke dokter.
Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran wabah penyakit Flu Singapura.
Dari “bisik-bisik” antar orangtua dan para guru, yang, “katanya, katanya, dan, katanya”, ada murid yang terindikasi menderita Flu Singapura.
“Katanya, katanya, dan, katanya.”
Ini adalah kondisi yang sama, seperti ketika wabah Covid 19 mulai memasuki wilayah Provinsi Jambi di awal tahun 2000 lalu. Setelah hoax menyebar luas cetar membahana, maka, seluruh ketakutan pun berwujud beda; jam malam, pembatasan, masker, cuci tangan, dan seterusnya, dan seterusnya.
Padahal, bulan April adalah masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Dan, seperti pada umumnya, flu akan cepat berkembang saat peralihan musim.
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Kesehatan Provinsi Jambi terkait suspect Flu Singapura di Provinsi Jambi. Namun, hoax memiliki kecenderungan berubah menjadi mass panic (kepanikan massal).
Kepanikan massal, dalam ilmu sosiologi dan psikologi, adalah fenomena yang mentransmisikan ilusi ancaman kolektif, baik nyata atau imajiner, melalui populasi dan masyarakat sebagai akibat dari rumor dan ketakutan.

Ilustrasi HFMD. (credits: Primaya Hospital)
Akibatnya, yang terjadi selanjutnya, adalah tuduhan, dan, stigma.
Sebagai ilustrasi, pada satu liputan tentang Covid 19 di Kota Pekanbaru Provinsi Riau, di akhir tahun 2020 lalu, Amira pernah bertemu satu keluarga dari suspect Covid 19. Keluarga yang dikucilkan dari lingkungannya karena stigma Covid 19.
Dan, keluarga, yang sedang berduka karena “kehilangan” seoranga anggotanya. Sebab, pada awalnya ia dinyatakan positif Covid 19, lalu menghadapi isolasi dan akhirnya meninggal dunia, bersama anak dikandungannya.
Padahal, setelah keluar pernyataan dari tim dokter beberapa pekan kemudian, sebenarnya, ia adalah: negatif Covid 19.
Namun, stigma telah terlanjut menular.
Dan, sangat terbuka kemugkinan, hal yang sama juga terjadi saat ini. Posisi Provinsi Jambi yang tak seberapa jauh dari Singapura, dapat saja menjadi indikator. Yang bahkan, di awal Covid 19 lalu, suspect pertama di Jambi adalah berasal dari Wuhan, China.
Maka, kita akan bicara panjang lebar soal “sosialisasi”, yang, ditambahkan dengan “dana yang harus dianggarkan”.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada tahun 2024 lalu, mengutip Antara, mengatakan bahwa Flu Singapura bukanlah varian yang mematikan seperti flu burung.
Menurutnya, influenza memiliki banyak varian yang terus bermutasi. Seperti H1N1 (flu babi), H5N1 (flu burung), hingga Flu Singapura.
Mengutip laman resmi Kemenkes, data terakhir tentang kasus HFMD, adalah pada pekan ke-13 tahun 2024, yakni sebanyak 6.500 kasus. Kasus ini berada di Provinsi Jawa Barat (2.119 kasus), Banten (1.171 kasus) DI Yogyakarta (561 kasus), dan Jawa Tengah (464 kasus).
“Yang sebenarnya paling banyak terjadi bukanlah Flu Singapura, tapi flu biasa,” kata Menteri Kesehatan.
Flu Singapura, mengutip Halodoc, dapat terjadi pada orang dewasa dan anak-anak. Dengan ciri-ciri; demam tinggi hingga lebih dari 37 derajat Celsius, muncul ruam merah di tangan, kaki, pantat, selangkangan, dan area tubuh lainnya, sakit kepala dan pusing, sariawan pada area mulut, dan, sakit tenggorokan hingga kesulitan menelan.
Sehingga, anak-anak di pusat penitipan lebih rentan untuk mengalaminya, karena penyebarannya melalui kontak dari satu orang ke orang lainnya. Namun, anak-anak biasanya mengembangkan kekebalan terhadap penyakit ini saat usianya terus bertambah.
Sejauh ini, memang belum ada obat yang dapat mengatasi penyakit Flu Singapura. Selain itu, belum juga ada vaksin yang ampuh untuk mencegahnya.
Penyakit ini menyebar lewat ke orang lain melalui; cairan dari hidung maupun tenggorokan yang keluar saat bersin, air liur atau ludah yang terlempar ke udara saat batuk, cairan yang berasal dari luka melepuh, dan, permukaan benda yang sudah terkontaminasi oleh tinja pengidap.
Flu Singapura disebabkan oleh strain coxsackievirus, dan yang paling sering adalah jenis A16. Coxsackievirus adalah bagian dari kelompok virus yang dapat dengan mudah menyebar yang disebut dengan enterovirus.
Virus jenis ini menyebar ke jaringan di mulut, sekitar amandel, dan masuk ke dalam sistem pencernaan. Dan, akhirnya, penyakit ini akan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.
Namun, sebelum menyerang ke organ vital di dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh akan berusaha mengendalikannya. Sehingga, jangan terburu-buru mempercayai hoax dan rumors.*
