“Emas Hijau” Di Eks Areal Konflik
Ekonomi & Bisnis
October 29, 2025
Jon Afrizal/Sungai Jerat, Batanghari

Sungai Jerat, akhir September 2019. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
“Semua penyedap vanili buatan terbuat dari vanillin yang diproduksi secara sintetis. Yakni senyawa kimia yang secara alami ditemukan di tanaman vanili murni.”
AREAL ini, sebelumnya, adalah wilayah yang dengan sengaja di-konflik-kan oleh beberapa pihak. Ketika ego manusia memainkan peran, dan seolah lupa dengan kepentingan orang banyak.
Masih ku ingat, ketika itu di kitaran 2015 hingga 2018, dimana perambah, demikian istilah tepatnya, membabat hutan yang baru setengah bertumbuh, untuk diubah menjadi perkampungan dan kebun sawit mandiri.
Ego, berlandas keuntungan pribadi. Toh, narasi dapat diolah sedemikian rupa, bahwa “Apapun yang terbentang adalah milik Tuhan”?
Dan, ketika itu, mereka lupa bahwa kebutuhan akan lahan garapan per perseorangan telah mengalahkan kebutuhan banyak orang terhadap air dan udara bersih. Padahal, seharusnya, konservasi, adalah tentang kebutuhan orang banyak, terutama di wilayah perbatasan Provinsi Jambi – Sumatera Selatan ini.
Setelah konflik dapat diredam di akhir tahun 2019, maka hamparan sekitar 100 hektare di Sungai Jerat perlahan mulai di-hutan-kan kembali. Hutan, yang tentu dapat dimanfaatkan dengan baik, tanpa mengurangi fungsi hutan-nya.
Pihak pengelola Hutan Harapan, PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki) mulai menapak langkah baru. Skema restorasi ekosistem di Indonesia, mengharuskan conservationist untuk tidak hanya menghutankan suatu wilayah eks logging saja. Tapi, juga harus ada keuntungan ekonomi yang didapat, tanpa merusak hutan.
Sungai Jerat, kemudian diolah menjadi plant nursery. Dipilihlah vanilla (Vanilla planifolia) untuk dikembangkan di areal ini, sejak tahun 2022 lalu.
Tetapi, tentu harus ada ahli vanilla. Maka digandenglah PT Java Agro Spices untuk membantu Hutan Harapan dalam pembiakan “Emas Hijau” ini. Serta, juga untuk penjualannya.
Secara teori, satu pohon vanilla berusia lima tahun dapat menghasilkan antara 1,5 kilogram hingga 3 kilogram buah per tahun. Selanjutnya, jumlah panenan akan terus meningkat dengan batas maksimum 6 kilogram per pohon.
Namun, vanilla adalah tumbuhan eksotis. Jenis anggrek ini awalnya berasal dari Meksiko, Amerika Tengah, Kolombia, dan Brasil. Dan, budidaya vanilla planifolia adalah sumber ekonomi bagi warga pedesaan di Meksiko.
Ketika Christopher Columbus menginisiasi Columbian Exchange di akhir abad ke-14 Masehi, vanilla, dan juga kakao, pun berpindah dari Dunia Baru ke Dunia Lama. Dikarenakan populasi spesies yang menurun dan habitatnya telah dikonversi ke tujuan lain, maka International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah mengkategorikannya sebagai Endangered (Terancam Punah).
Mexico berada di dataran dengan ketinggan antara 1.286 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga 5.700 mdpl. Dengan curah hujan rata-rata 2.000 milimeter per tahun dan dengan suhu rata-rata 40 derajat Celsius.

Polong vanilla yang menunggu masa panen, di “Rumah Vanilla” di Sungai Jerat. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Sementara, Provinsi Jambi didominasi oleh dataran dengan ketinggian 1.000 mdpl, dengan curah hujan tahunan 2.577 milimeter per tahun, dan suhu rata-rata adalah 26,1 derajat Celcius per tahun.
Maka, perlakuan terhadap vanilla di sini pun agak sedikit berbeda, dari daerah asalnya.
M Sadat, staff Hutan Harapan yang bertugas merawat vanilla di “Rumah Vanilla” di Sungai Jerat mengatakan vanilla adalah tanaman polong yang gampang untuk hidup. Namun, perawatannya harus telaten, dan tidak banyak tangan yang memegangnya.
“Vanila adalah sama sifatnya dengan tumbuhan kopi. Vanilla akan menyerap bau apa saja di sekelilingnya. Sehingga, untuk masuk ke nursery setiap orang haruslah steril,” katanya.
Ia mengatakan, semut adalah hama yang paling merugikan bagi vanilla. Terlebih jika terlalu banyak sinar ultra violet, maka kacang planifolia vanilla tidak dapat berkembang dengan baik.
Setelah “Rumah Vanilla” mulai terlihat hasil perkembangbiakannya, maka Kamar Dagang Industri (Kadin) pun turut mendukung perekonomian berbasis agroforestry ini. Disemailah tumbuhan vanilla di lahan seluas 3 hektare tidak jauh dari “Rumah Vanilla”, sejak tahun 2024 lalu.
Adalah Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi yang membantu pekerjaan lapangan ini. Secara berkala staff KKI Warsi melakukan pengecekan terhadap tumbuhan vanilla di Sungai Jerat.
Dengan total jumlah 15.000 batang vanilla, setiap batang akan dilindungi oleh pohon gamal (Gliricidia sepium). Gamal adalah nama sejenis perdu dari kerabat polong-polongan (suku Fabaceae atau Leguminosae).
Pohon gamal acap digunakan sebagai pagar hidup atau peneduh. Pohon jenis leguminosa ini sangatlah multiguna.
Sama seperti vanilla, gamal pun berasal dari Amerika Tengah dan Brazil. Di daerah asalnya, tanaman perdu yang dikenal dengan nama madre cacao ini digunakan sebagai pelindung tanaman kakao (Theobroma cacao L.).
Selanjutnya, di era kolonialisasi Eropa, gamal dibawa ke Asia.
Sejak tahun 1870-an, gamal ditanam di India dan Srilangka sebagai tanaman pelindung the (Camellia sinensis).

Staff lapangan KKI Warsi sedang memeriksa vanilla di Sungai Jerat. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Sehingga, pertemuan antara vanilla dan gamal, adalah seperti para perantau yang bertemu teman satu daerah: merasa tidak sendirian.
“Setiap bulan, vanilla akan diteliti terkait kelembapan, antisipasi hama dan lainnya. Perlakuan ini agar vanilla dapat tumbuh dengan baik,” kata Wardoyo, staf lapangan KKI Warsi.
Pucuk-pucuk baru pohon gamal akan selalu dipangkas secara berkala. Ini dengan tujuan agar tercipta kanopi yang melindungi vanilla.
Mengutip laman Java Agro Spices, butuh waktu antara dua hingga tiga tahun bagi vena vanili untuk mekar. Dan, kacang planifolia dapat dipanen setahun sekali dengan waktu panen yang berlangsung dari dua hingga empat bulan.
Adapun waktu panenan ini tergantung pada periode penyerbukan, karena jatuh tempo kacang terjadi tidak secara bersamaan.
Tetapi, kesalahan paling umum yang terjadi di pasar Indonesia saat ini, adalah bahwa mayoritas pedagang dan pembeli cenderung membeli biji planifolia dalam jumlah besar. Meskipun, kadang, sebagian besar kacang masih sangat prematur.
Vanila sering dijadikan sebagai pengharum makanan. Adapun proses pembuatannya adalah dengan mengawetkan buah yang sudah matang selama tiga hingga enam bulan untuk menghasilkan aroma yang khas.
Data ITC Export Potential Map menyebutkan bahwa potensi peningkatan ekspor vanila Indonesia ke seluruh dunia saat ini adalah sebesar USD 59 Juta. Pada tahun 2022 lalu, Indonesia telah mengekspor vanilla ke Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Singapura, dan Kanada.
Adapun harga vanila di pasar global saat ini, adalah mencapai EUR 270,40 per kilogram untuk vanila ekstrak, dan EUR 175,56 per kilogram untuk vanili utuh.
Peluang ekonomi telah terbuka. Dan, adalah lebih baik untuk memperbaiki kondisi kehutanan dan mencari prospek ekonominya, untuk keuntungan banyak orang yang menikmati air dan udara bersih, ketimbang hanya menciptakan konflik.*
