Temuan Api Di Gua Wonderwerk

Inovasi

October 29, 2026

Junus Nuh

Ilustrasi pembuatan api. (credits: Craig Williams/The Trustees of the British Museum)

PARA ilmuwan telah menemukan bukti baru bahwa manusia purba telah menggunakan api sekitar 1,07 hingga 1,79 juta tahun yang lalu, di Gua Wonderwerk di Afrika Selatan.

Penelitian ini dilakukan secara berkolaborasi antara; Liora Kolska Horwitz dari Hebrew University of Jerusalem’s National Natural History Collections, dan tim ilmuwan internasional dari Spanyol, Argentina, Kanada, AS, Afrika Selatan, Portugal, dan Israel.

Penelitian ini menggabungkan ilmu-ilmu terapan arkeologi, paleontologi, geologi, dan dengan pendekatan ilmiah lainnya untuk menyelidiki perkembangan terpenting dalam evolusi manusia: penggunaan api.

Dengan menggunakan teknik yang baru dikembangkan yang dapat mendeteksi tanda-tanda pembakaran pada fosil tulang, para peneliti mengidentifikasi bukti berulang adanya api di bagian dalam gua.

Dikarenakan, bukti-bukti ini ditemukan jauh di luar jangkauan kebakaran hutan alami, maka temuan ini menunjukkan bahwa manusia purba sengaja membawa api yang terjadi secara alami ke dalam gua dan menjaganya tetap menyala.

Studi baru ini didasarkan pada penelitian sebelumnya di Gua Wonderwerk, yang berada di Gurun Kalahari, Afrika Selatan. Ketika pada tahun 2012, anggota tim peneliti melaporkan bukti adanya api yang berasal dari sekitar 1 juta tahun yang lalu. Bukti ini dianggap sebagai bukti tertua yang diketahui tentang penggunaan api secara sengaja di seluruh dunia.

Lalu, dilakukan penggalian dan analisis berkelanjutan. Dimana para peneliti mengidentifikasi jejak penggunaan api dalam endapan arkeologis yang berasal dari 1,07 hingga 1,79 juta tahun yang lalu. Ini menjadikan Gua Wonderwerk sebagai satu situs tertua yang diketahui terkait dengan penggunaan api oleh hominin.

Temuan yang dipublikasikan di PLOS One ini, telah memberikan wawasan baru tentang bagaimana manusia purba berinteraksi dengan api, jauh sebelum mereka belajar cara menghasilkannya sendiri.

Api menawarkan banyak keuntungan, termasuk kehangatan, perlindungan dari predator, penerangan setelah gelap, dan akhirnya kemampuan untuk memasak makanan. Namun, menentukan kapan manusia pertama kali mulai menggunakan api, tetap menjadi satu pertanyaan tersulit dalam arkeologi.

Seniman Cro-Magnon melukis mamut berbulu di Font-de-Gaume. (credits: Charles Robert Knight)

“Bukti adanya api dari situs-situs kuno seperti itu seringkali samar dan sulit dideteksi,” kata Kolska Horwitz, mengutip Science Daily.

Ia mengatakan bahwa penelitiannya memberikan alat baru untuk mengidentifikasi jejak pembakaran kuno dan mengungkapkan bahwa api berulang kali hadir jauh di dalam Gua Wonderwerk.

Studi ini juga memperkenalkan pendekatan baru berdasarkan sifat pemancar cahaya dari tulang yang terbakar. Saat terpapar panjang gelombang cahaya tertentu, tulang yang mengalami pemanasan intens akan menghasilkan cahaya yang khas.

Para peneliti menggabungkan metode luminesensi non-destruktif ini dengan analisis kimia yang sudah mapan. Sehingga memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi tulang hewan yang terbakar dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.

Teknik ini portabel, tidak invasif, dan dapat digunakan pada koleksi fosil besar tanpa menyebabkan kerusakan. Untuk menguji metode tersebut, maka tim memeriksa ratusan tulang fosil kecil yang ditinggalkan oleh burung hantu yang pernah bertengger di dalam gua.

Karena sisa-sisa ini terakumulasi secara alami dari waktu ke waktu, maka mereka memberikan catatan independen dan non-antropogenik tentang peristiwa masa lalu yang terawetkan di lantai gua.

Para peneliti menemukan bukti jelas adanya pembakaran di dalam lapisan arkeologi yang terkait dengan artefak Acheulean awal, terkait dengan Homo erectus. Sisa-sisa yang terbakar ditemukan sekitar 30 meter di dalam gua, jauh di luar area yang mungkin terkena dampak kebakaran hutan alami.

Sisa-sisa pembakaran ini juga terletak di lapisan yang tidak memiliki endapan guano. Sehingga menyingkirkan kemungkinan pembakaran spontan sebagai penjelasan.

Tidak terdapat bukti bahwa manusia purba mampu menciptakan api kapan pun mereka inginkan. Namun, temuan ini menunjukkan bahwa besar kemungkinan api dikumpulkan dari sumber-sumber alami, seperti sambaran petir atau kebakaran hutan di savana Afrika.

Menurut para peneliti, manusia purba membawa api ke dalam gua beberapa kali, dan memeliharanya untuk beberapa waktu sebelum akhirnya padam. Tim juga menduga bahwa pelet burung hantu mungkin berfungsi sebagai bahan bakar, yang dapat menjelaskan mengapa tulang-tulang kecil hewan pengerat yang terdapat di dalamnya menunjukkan tanda-tanda terbakar.

Namun, kemampuan untuk membawa api dan menjaganya tetap menyala di dalam gua merupakan tonggak perilaku yang sangat penting.

“Penemuan ini menunjukkan bahwa manusia purba bukanlah hanya pengamat pasif terhadap kebakaran alam. Namun, mereka secara aktif terlibat dengan api dan mengintegrasikannya ke dalam kehidupan mereka,” kata Kolska Horwitz melanjutkan.

Penelitian ini memberikan fakta baru kepada para arkeolog meneliti kapan dan bagaimana manusia pertama kali mulai menggunakan api.

Ketika para ilmuwan menerapkan teknik ini ke banyak situs arkeologi di seluruh dunia, akan membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan lama tentang asal-usul dan evolusi salah satu teknologi paling transformatif dalam sejarah manusia.*

Share:
avatar

Redaksi