Hikayat Dua Kota Yang Dihancurkan

Inovasi

April 8, 2026

Zachary Jonah

Tall el-Hammam, Lembah Jordan, Provinsi Amma, Jordania. (credits: Wiki Commons)

Lalu Tuhan berfirman: “Karena seruan menentang Sodom dan Gomora sangat besar, dan karena dosa mereka sangat berat, Aku akan turun sekarang dan melihat apakah mereka telah melakukan semuanya sesuai dengan seruan menentang mereka yang telah sampai kepada-Ku; dan jika tidak, Aku akan mengetahuinya.” (Genesis 18: 20-21)

PARA ilmuwan telah menemukan bukti tentang peristiwa ledakan udara kosmik sekitar 1650 SM yang telah menghancurkan kota kuno Tall el-Hammam di Lembah Jordan, Provinsi Amman, Jordania. Ledakan kosmik ini telah menyebabkan suhu ekstrem dan menyimpan konsentrasi garam yang tinggi.

Peristiwa ini, tercatat dalam Alkitab, tentang kehancuran Sodom dan Jericho, yakni pada Kejadian 18:20-21.

Pada Zaman Perunggu Tengah, sekitar 3.600 tahun yang lalu atau sekitar 1650 SM, kota Tall el-Hammam tengah berjaya. Kota ini terletak di dataran tinggi di Lembah Yordan selatan, timur laut dari Laut Mati.

Kota ini adalah pemukiman pada masanya, dan telah menjadi kota Zaman Perunggu terbesar yang terus diduduki di Levant selatan, setelah menjadi tuan rumah peradaban awal selama beberapa ribu tahun. Pada saat itu, kota kuno Tall el-Hammam adalah 10 kali lebih besar dari Yerusalem dan 5 kali lebih besar dari Jericho.

“Kota ini adalah bidang yang sangat penting secara budaya. Sebab sebagian besar di mana kompleksitas budaya awal manusia dikembangkan di sini,” kata James Kennett, profesor emeritus ilmu bumi di University of California, Santa Barbara, mengutip Scitech Daily.

Tall el-Hammam adalah situs favorit bagi para arkeolog dan ahli Alkitab. Situs berbentuk gundukan itu menjadi bukti budaya yang terbentang dari Zaman Chalcolithic, atau Copper, semuanya dipadatkan menjadi lapisan ketika pemukiman yang sangat strategis dibangun, dihancurkan, dan dibangun kembali selama ribuan tahun.

Penggalian di situs Tall el-Hammam. (credits: Tall el-Hammam)

Tetapi terdapat interval 1,5 meter di stratum Zaman Pertengahan Zaman II Perunggu yang menarik minat beberapa peneliti untuk bahan yang sangat tidak biasa. Selain puing-puing yang hancur melalui peperangan dan gempa bumi, mereka menemukan pecahan tembikar dengan permukaan luar meleleh ke dalam kaca, yang bergelembung, dan sebagian bahan bangunan meleleh.

Ini semua, mengindikasikan peristiwa suhu tinggi yang anomaly. Yang jauh lebih panas daripada apapun yang dapat dihasilkan oleh teknologi waktu.

“Kami melihat bukti tentang kekuatan suhu yang lebih besar dari 2.000 derajat Celcius,” katanya.

Kelompok penelitiannya telah meneliti kasus tentnag serangan udara kosmik yang lebih tua sekitar 12.800 tahun yang lalu, yang memicu pembakaran besar, perubahan iklim, dan kepunahan hewan.

Material-material yang hangus dan meleleh di Tall el-Hammam itu yang kini tengah diteliti, untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di kota ini 3.650 tahun yang lalu. Pun, hasi penelitiannya telah dipyblikasikan, dengan judul A Tunguska sized airburst destroyed Tall elHammam a Middle Bronze Age city in the Jordan Valley near the Dead Sea”.

“Terdapat bukti ledakan udara kosmik besar di Tall el-Hammam,” katanya.

Ledakan ini, katanya, mirip dengan Peristiwa Tunguska, yakni sebuah ledakan udara sekitar 12 megaton yang terjadi pada tahun 1908, ketika meteor berukuran 56 hingga 60 meter menembus atmosfer Bumi di atas Taiga Siberia Timur.

Kejutan ledakan di atas Tall el-Hamma pun telah meratakan kota, meratakan istana dan dinding sekitarnya dan struktur batu bata lumpur. Sementara temuan tulang belulang menunjukkan disartikulasi ekstrim dan fragmentasi kerangka pada manusia terdekat.

Menuurtnya, bukti-bukti lebih lanjut dari ledakan udara ditemukan dengan melakukan berbagai jenis analisis di tanah dan sedimen dari lapisan kritis. Bola besi kecil dan halus kaya silika muncul dalam analisis mereka, seperti halnya logam yang meleleh.

Temuan di situs Tall el-Hammam. (credits: Tall el-Hammam)

“Satu penemuan utama adalah kuarsa yang mengejutkan. Ini adalah butiran pasir yang mengandung retakan yang hanya terbentuk di bawah tekanan yang sangat tinggi,” katanya.

Menurutnya, kuarsa ini menunjukan adanya sebuah tekanan luar biasa yang terjadi di kota kuno ini. Dan juga, konsentrasi garam yang sangat tinggi yang ditemukan di lapisan material yang rusak, rata-rata 4 persen dalam sedimen dan setinggi 25 persen dalam beberapa sampel.

“Garam itu terlempar karena tekanan benturan yang tinggi,” katanya.

Kennett mengatakan, tentang kemungkina meteor yang terfragmentasi setelah kontak dengan atmosfer Bumi. Dan mungkin dampaknya sebagian menghantam Laut Mati, yang kaya akan garam.

Pantai lokal Laut Mati juga kaya akan garam, sehingga dampaknya mungkin telah mendistribusikan kembali kristal garam itu jauh dan luas, tidak hanya di Tall el-Hammam saja.

Tetapi juga di dekat Tell Es-Sultan, yang disebut sebagai Jericho dalam Alkitab, yang juga mengalami penghancuran kekerasan pada saat yang sama, dan Tall-Nimrin yang kemudian juga turut dihancurkan.

Laut Mati, Yordania. (credits: iStock)

Tanah dengan salinitas tinggi ini kemudian dapat disebut dengan “Kesenjangan Zaman Perunggu Akhir”. Dimana kota-kota di sepanjang Lembah Yordan yang lebih rendah ditinggalkan, menjatuhkan populasi dari puluhan ribu menjadi beberapa ratus nomaden.

Tidak ada lagi yang dapat tumbuh di tanah yang sebelumnya subur ini. Yang kemudian memaksa orang-orang untuk meninggalkan daerah itu selama berabad-abad.

Bukti untuk pemukiman kembali Tall el-Hamma dan komunitas terdekat muncul lagi di Zaman Besi, kira-kira 600 tahun setelah kehancurannya di Zaman Perunggu.

Sodom Gomorrah

Tall el-Hamman telah menjadi fokus perbincangan ilmiah, terutama terkait tentang apakah Tall el-Hamman adalah kota Sodom dalam Alkitab, yakni satu dari dua kota, yang dicatat dalam Kitab Kejadian Perjanjian Lama, yang dihancurkan oleh Tuhan, karena penduduknya yang ingkar.

Sedangkan, Lot, diselamatkan oleh dua malaikat yang menginstruksikannya untuk tidak melihat ke belakang saat mereka melarikan diri. Istri Lot, telah berubah menjadi pilar garam. Sementara itu, api dan belerang jatuh dari langit, bagian-bagian kota hancur, asap tebal membubung tinggi ke udara.

Penduduk kota terbunuh dan tanaman daerah dihancurkan dalam apa yang terdengar seperti laporan saksi mata tentang peristiwa dampak kosmik. Ini adalah koneksi yang memuaskan untuk membuat.

“Seluruh pengamatan yang dinyatakan dalam Genesis (Kejadian) adalah konsisten dengan ledakan udara kosmik,” katanya.

Meskipun, katanya, sejauh ini belum ada bukti ilmiah yang cukup detail bahwa kota yang hancur ini memang adalah benar kota Sodom yang disebutkan di Perjanjian Lama.

Namun, para peneliti mengatakan, bencana dapat menghasilkan tradisi lisan, yang tercatat dalam kitab Kejadian, serta kisah tentang pembakaran Jericho dalam Kitab Perjanjian Lama Yosua.*

Share:
avatar

Redaksi