Melayu Di Tanjung Harapan
Budaya & Seni
March 21, 2026
Jon Afrizal

Seorang perempuan Melayu Muslim di Bo-Kaap, Cape Town, Afrika Selatan. (credits: Wiki Commons)
“Pada tahun 1652 orang Melayu dari Batavia dibawa oleh Belanda ke dalam Residensi, dan selanjutnya menjadi Pemukiman Tanjung Harapan. Berkemungkinan bahwa “orang Melayu Batavia” ini adalah Muslim pertama yang datang ke negara ini.” J.S. Mayson, “The Malays of Cape Town”
CAPE Town adalah satu dari tiga ibukota Afrika Selatan. Secara resmi, Afrika Selatan memiliki tiga ibukota, yang terkait dengan urusan pemerintahan. Yakni; Pretoria (administratif/eksekutif), Cape Town (legislatif), dan, Bloemfontein (yudisial/kehakiman).
Orang Eropa pertama yang berlayar mencapai wilayah ini, adalah Bartolomeu Dias pada tahun 1488. Ia menamakan tenpat ini sebagai “Cape of Storms” (Cabo das Tormentas).
Dan selanjutnya, wilayah ini dikenal dengan nama Cape of Good Hope (Cabo da Boa Esperanca) yang dalam Bahasa Indonesia disebut dengan nama: “Tanjung Harapan”.
Wilayah Tanjung Harapan adalah Orang Khoikhoi (Khoekhoe), yang telah berada di sana sekitar 1.500 tahun. Dan dapat disebut juga sebagai penduduk asli negara Namibia, Botswana dan Afrika Selatan.
Mereka adalah komunal pengelana dengan kehidupan food and gathering.
Namun, ketika Belanda pertama kali menetap di Tanjung Harapan pada tahun 1652, Orang Khoikhoi disebut oleh kolonialisme Belanda sebagai: Hottentots.

Satu sudut di Bo-Kaap, Cape Town, Afrika Selatan. (credits: Google Photos)
Yakni sebuah istilah rasial yang cenderung merendahkan penduduk setempat. Dan kini, istilah itu ditolak di seantero benua Afrika, dan juga oleh setiap orang yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM).
Sebuah istilah berkonotasi negatif, yang sepertinya berasal dari Bahasa Belanda Lama, yang berarti atau sama dengan: “gagap”.
Pada tahun itu juga, administrator Perusahaan Hindia Timur Belanda (United East India Company), Jan van Riebeeck mendirikan kamp pasokan persediaan makanan untuk Perusahaan Hindia Timur Belanda yang berada sekitar 50 kilometer arah utara Table Bay.
Secara harfiah, Cape Town adalah Pulau Robben, yang diduduki oleh kolonial Belanda, sejak tahun 1600-an hingga tahun 1700-an.
Maka, sejak saat itu, dimulailah perjalanan panjang hubungan Muslim Nusantara dengan Tanjung Harapan. Yang, hingga hari ini, dikenal dengan nama: Cape Malay (Melayu Tanjung Harapan).
Komunitas Cape Malay, mengutip laman South Africa, telah berkontribusi pada landasan tradisi Afrika Selatan. Yakni dengan cara yang membangun masjid pertama di Afrika Selatan, dan juga memakamkan orang-orang suci yang diasingkan ke Cape Town.
Semuanya, dapat dijumpai di wilayah Bo-Kaap, Cape Town.
Bo-Kaap adalah Dunia Melayu di Cape Town, sebuah dunia yang tidak ada di mana pun di luar Afrika Selatan. Dengan tradisi “kehangatan dan ramah tamah” khas Nusantara, maka Bo-Kaap menjadi sangat unik di Cape Town.
Senyatanya, Cape Malays adalah satu masyarakat yang paling berbeda dan unik di seluruh Afrika Selatan. Sebuah budaya yang lahir dari masa lalu yang gelap dan berat, yang terbebani oleh perpindahan, perbudakan dan pemilik budak.

Makanan Melayu Muslim di Bo-Kaap, Cape Town, Afrika Selatan. (credits: South Africa Travel)
Namun, telah dan terus tumbuh menjadi satu wilayah budaya yang paling hidup, penuh cinta kasih, dan paling definitif. Dan juga menjadi satu budaya eksklusif tertua di Afrika Selatan.
Secara umum, orang-orang Cape Malay berasal dari Indonesia, yang sewaktu itu dikenal dengan sebutan: Hindia Belanda). Orang-orang yang dibawa ke Tanjung Harapan untuk dijadikan sebagai budak oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda.
Dan juga sebagian kecil orang-orang dari beberapa wilayah di Asia Tenggara lainnya.
Para budak ini adalah orang pertama di Afrika Selatan yang memperkenalkan Islam sebagai agama. Sebuah keyakinan yang mereka bawa dari tanah airnya, dan sebagai komunal Muslim pertama di Cape Town.
Sebab, Tanjung Harapan adalah juga “pulau” untuk orang-orang buangan. Tempat dimana kolonial Belanda mengirim orang-orang yang dicap sebagai “pemberontak” dari negara-negara jajahannya.
Ketika terjadinya perdagangan budak selama abad ke-17 hingga abad ke-18, Belanda terus membawa banyak orang dari berbagai belahan dunia ke Cape Town. Termasuk pula dari India, Afrika Timur, Brasil dan Madagaskar.

Potret almarhum Sheikh Yusuf dari Goa, Celebes (Provinsi Sulawesi Selatan). (credits: SA History)
Orang-orang yang “tercerabut dari akar” ini, pada akhirnya, juga mendapatkan kehidupan baru; lahan baru bagi mereka, dan, juga undang-undang yang juga baru, yang tidak sama dengan yang mereka miliki di tanah airnya.
Sehingga, Cape Malay, adalah juga kisah tentang bagaimana ajaran dan keyakinan Islam menyebar jauh, dari Indonesia ke Afrika Selatan.
Hari ini, mereka menggunakan bahasa yang disebut dengan Afrikaaps. Yang tentu saja berbeda dengan Bahasa Afrikaans pada umumnya.
Yang tentunya, dengan ungkapan budaya kesantunan ala Orang Indonesia, yang kerap identik dengan kata “tolong” dan “permisi”.
Dan juga, mereka berkontribusi terhadap makanan di Afrika Selatan. Dengan unsur rempah-rempah yang menjadi andalan dalam setiap bumbu masakan. Yang, truely Indonesia.
Seperti; Bredie, theaterie dan frikkadel, misalnya, yang berasal dari Cape Malay.
Begitu juga dengan musik. Irama musik yang berasal campuran musik Timur dan Barat, namun dengan lirik yang cenderung sedih dan meratap, yang secara emosional menceritakan tentang pembuangan dan ketercerabutan.
Seperti lagu Kaapse Moppie, dengan lirik yang politis, humoris dan penuh satire.
Sehingga, mungkin saja sejarah adalah tidak melulu bercerita tentang luka. Tapi juga tentang bagaimana sebuah kelompok bertahan hidup, dan menjadi satu dengan lingkungan barunya, hingga hari ini.*
