Bangsa Arya Dari Persia
Budaya & Seni
March 18, 2026
Jon Afrizal

Prasasti Behistun abad ke-6 SM. (credits: Wiki Common)
“Pada hari ke-10 bulan Bagayadis (29 September 522 M) aku,
dengan sedikit orang, membunuh Gaumata itu, orang Magi,
dan para pejabat utama yang adalah pengikutnya.
Di benteng yang disebut Sikayauvatis, di daerah bernama Nisaia di Media,
aku membunuhnya; aku merebut kerajaan darinya.
Dengan rahmat Ahuramazda aku menjadi raja; Ahuramazda memberiku kerajaan ini.”
Raja Darius, Prasasti Behistun
ARYA, adalah kata yang umumnya digunakan untuk menjelaskan akar bahasa Proto-Indo-Iran. Sehingga, Arya, adalah etnonim yang diadopsi oleh bangsa Indo-Iran untuk menyebutkan: bangsa Arya.
Dalam bahasa Sanskerta Klasik, kata “arya” memiliki arti: mulia, terhormat, bangsawan”.
Rand McNally dalam “World Atlas” edisi tahun 1944, menyebutkan ras Arya sebagai satu dari 10 kelompok ras besar umat manusia. Pun, penulis fiksi ilmiah berdarah Skandinavia yang bernama Poul Anderson, telah secara konsisten menggunakan istilah Arya sebagai sinonim untuk “Indo-Eropa” dalam karya-karyanya.
Namun, ideologi Nazisme yang didasarkan pada konsep ras Arya kuno sebagai ras unggul, telah memegang posisi tertinggi dalam hierarki rasial, dan menganggap bangsa Jerman adalah golongan ras Arya yang paling murni secara rasial. Konsep Nazi mengenai ras Arya muncul dari para pendukung supremasi ras sesuai dengan yang dijelaskan oleh pakar teori rasialisme, seperti; Arthur de Gobineau dan Houston Stewart Chamberlain.
Konsep ini berasal dari anggapan bahwa penutur asli bahasa Indo-Eropa dan keturunannya adalah satu ras atau subras yang berbeda dari ras Kaukasia, hingga hari ini.
Seorang arsitek idelogi Nazisme yang bernama Alfred Rosenberg, telah mengusulkan keyakinan baru tentang “Blut und Boden”. Ini semua berdasarkan pada dorongan jiwa Nordik untuk mempertahankan karakter mulia mereka untuk melawan degenerasi rasial dan budaya.
Maka melalui Rosenberg, teori-teori Arthur de Gobineau, Georges Vacher de Lapouge, Blavatsky, Houston Stewart Chamberlain, Madison Grant, dan teori-teori Hitler, mencapai puncak popularitasnya dalam kebijakan ras Nazi Jerman dan dekrit “Aryanisasi” pada tahun 1920-an hingga 1940-an.
Dalam model medikalnya yang mengerikan, maka penghancuran Untermenschen yang secara rasial mereka anggap merendahkan bangsa non-Arya, telah “disucikan” melalui Holocaust. Yang, menurut pemahaman Nazi adalah seperti menghilangkan organ yang sakit dalam tubuh yang sehat.
Maka selanjutnya, kata “Arya” telah kehilangan konotasi romantisme dan idealisnya, pada akhir Perang Dunia II. Dan, sejak saat itu selalu dikaitkan dengan ideologi dan tindakan rasisme Nazi.

Bisotun, Iran. (credits: Wiki Commons)
Meskipun, gagasan tentang “ras Arya sebagai kelompok elit yang dianggap lebih unggul dari ras lainnya” masih bertahan di beberapa kelompok Eropa sayap kanan, hingga hari ini. Seperti partai Neo-Nazi, ultra-nasionalis Rusia, serta kelompok nasionalis tertentu di Iran.
Kembali ke masa lalu, dimana kata Arya tidak berhubungan sama sekali dengan ideologi rasialisme Nazi, dalam bahasa Sanskerta dan bahasa berumpun Indo-Arya yang berkaitan, kata “arya” memiliki arti: manusia yang melakukan perbuatan yang mulia, atau, orang yang dimuliakan. dalam literatur Sanskerta, kata “Aryavarta” (: wilayah arya) adalah juga istilah umum untuk menunjukkan India Utara .
Nama ini tersebutkan dalam Kitab “Manusmeṛti”. Yakni, bahwa Aryavarta adalah berada di bentangan Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Vindhya, dari Laut Timur ke Laut Barat.
Gelar arya juga digunakan dengan berbagai tujuan dan variasi di seluruh anak benua India. Kaisar Kalinga pada abad ke-2 SM, Kharavela, adalah sebagai arya yang namanya tersebutkan di Prasasti Hathigumpha dari Gua Udayagiri dan Khandagiri di Bhubaneswar, Odisha.
Pun penguasa Gurjara-Pratihara pada abad ke-10 M bergelar “Maharajadhiraja dari Aryavarta”.

Gambar Mohammad Reza Pahlavi di uang logam 20 Rial Iran, sebagai peringatan Asian Games 1974 di Tehran. (credits: Wiki Commons)
Agama-agama India lainnya, terutama Hindu, Jainisme, dan Buddha, menggunakan istilah arya sebagai gelar kehormatan. Penggunaan ini sama seperti yang ditemukan dalam kepercayaan Arya Samaj.
Dan, kata arya dalam Ramayana dan Mahabharata, digunakan sebagai simbol penghormatan bagi banyak tokoh di dalamnya, termasuk Hanoman.
Sementara, nama “Iran” adalah berasal dari kata “Aryan” yang berarti: negeri bangsa Arya.
Mengutip Joshua A. Fishman, dalam buku berjudul “Handbook of Language and Ethnic Identity: Disciplinary and Regional Perspectives” menyebutkan bahwa Iran dan Persia adalah dua kata yang kerap digunakan untuk suatu kawasan yang sama. Iran digunakan oleh bangsa setempat, sementara Persia digunakan oleh bangsa luar.
Meskipun Persia sendiri sebenarnya adalah bagian dari Iran, tetapi bangsa luar menggunakannya untuk merujuk pada Iran secara keseluruhan.
Iran terletak di Asia Barat. Yang, hingga tahun 1935 masih disebut dengan nama “Persia” oleh dunia Barat.
Namun, Mohammad Reza Pahlavi sebagai raja kedua dari Dinasti Pahlavi dan syah terakhir dari monarki Iran, menyatakan pada tahun 1959, bahwa kedua nama itu boleh digunakan.
Iran berbatasan dengan Azerbaijan dan Armenia di barat laut, Laut Kaspia di utara, Turkmenistan di timur laut, Pakistan dan Afganistan di timur, Turki dan Irak di barat, dan perairan Teluk Persia dan Teluk Oman di selatan.
Iran adalah negara multibudaya yang memiliki banyak kelompok suku dan juga bahasa. Yakni; Persia (61 persen), Azerbaijan (16 persen), Kurdistan (10 persen) dan Lorestan (6 persen).
Memahami sejarah Iran, adalah juga memahami Prasasti Behistun. Yakni sebuah prasasti multibahasa yang terletak di Gunung Behistun, provinsi Kermanshah, Iran.
Prasasti ini berkisah tentang Darius yang Agung. Tepatnya, prasasti ini menceritakan pada masa antara pengangkatannya sebagai raja tahun 522 SM, hingga kematiannya pada 486 SM.
Dalam Prasasti Behistun, Darius menyatakan dirinya berjaya dalam seluruh pertempuran selama periode pergolakan. Ia pun menghubungkan keberhasilannya dengan rahmat Ahura Mazda.*
