Ria Rago, Sebuah Etnografi Ende
Budaya & Seni
July 20, 2026
Jon Afrizal

Masyarakat Lembah Ndona. (credits: Google Photos)
DRAMA berdurasi 110 menit, yang telah lulus sensor dan dipublikasikan di Belanda di tahun 1930. Kala itu masih “film bisu” dam masih “hitam putih”.
Ria Rago, demikian judul filmnya. Yang berkisah tentang seorang gadis dengan nama yang sama dengan judul film, dari Desa Nua Nellu, di Lembah Ndona, Flores.
Kini, lembah Ndona, masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di awal film, terdapat tulisan “plaats en tijde van het werkelijk gebeurde” dalam Bahasa Belanda, yang artinya, kira-kira: tempat dan waktu benar-benar terjadi. Sehingga, memberi kesan bahwa kisah ini adalah begitu nyata. Sebuah trik publikasi yang biasa dilakukan pada era itu.
Namun, jika mengacu pada nama-nama desa di Kecamatan Ndona pada saat ini, maka tidak terdapat nama Desa Nua Nellu (Noea Nelloe – dalam ejaan Bahasa Belanda). Adapun desa-desa di Kecamatan Ndona, pada saat ini, adalah; Kelikiku, Kekasewa, Manulando, Nanganesa, Ngalupolo, Ngaluroga, Nila, Puutuga, Reka, Wolokota, Wolotopo, dan Wolotolo Timur.
Pun, mengutip laman Film Indonesia, antara tahun 1925 hingga 1933, Simon Buis SVD telah menghasilkan tiga film perjalanan dan tiga film cerita rekaan. Film-film karyanya itu diputar oleh Societas Verbi Divini (Soverdi/SVD) atau Serikat Sabda Allah, sebuah ordo misionaris Katolik. Tujuan dari pemutaran itu, adalah penggalangan dana, terutama di Belanda dan sekitarnya.

Cuplikan film Ria Rago. (credits: Ria Rago)
Untuk menghasilkan karya-karya film yang mengesankan umat, maka ordo SVD mengerahkan pastor-pastornya untuk menempuh pendidikan sinematografi. Maka Simon Buis pun mendapatkan tugas yang sama.
Simon Buis (1892 – 1960) yang adalah seorang pastor, adalah tokoh penting bagi komunitas Katolik Indonesia, terutama di wilayah Flores, Bali dan sekitarnya. Ia ditugaskan merintis komunitas gereja Katolik di beberapa wilayah di daerah ini.
Terdapat dua hal yang menjadi prioritas saat Uskup Nusa Tenggara Monsinyor Arnold Verstraelen, SVD (1882 – 1932) menugaskan pembuatan film-film rekaan dari Flores itu. Pertama, ketepatan detil etnografis. Dan kedua, perlakuan yang peka terhadap warga lokal.
Seperti juga banyak film yang diproduksi pada periode pra-kemerdekaan di Indonesia, film-film Soverdi dihasilkan oleh tim kerja campuran antara orang Eropa dan orang setempat. Bagi Soverdi, keterlibatan pemain lokal adalah mutlak untuk menciptakan gambaran otentik kehidupan masyarakat lokal di wilayah kerja ordo SVD.
Sehingga, SVD, dalam pembuatan film-film ini tidak merekrut kru film profesional dari Belanda. Mereka memilih untuk melatih para pastor menjadi kru untuk dikirim ke lokasi.
Simon Buis SVD, mengutip laman Gereja Katolik Palasari Bali, adalah seorang Belanda yang bertugas sebagai Penilik yang bermarkas di Ndona, yang waktu itu meliputi wilayah Sunda Kecil pada tahun 1910 hingga 1921. Sunda Kecil, adalah sebutan untuk wilayah-wilayah yang kini menjadi Provinsi NTT, NTB dan Bali,
Ia mengambil studi tentang Drama, Sutradara dan Tehnik pembuatan Film di Holywood, USA pada tahun 1928. Sebelumnya, ia memperdalam ilmu Theologi di USA pada tahun 1922 hingga 1925. Dan ditahbiskan menjadi Imam dekat Chicago (USA), pada tahun 1925.
Film dengan judul “Ria Rago, De heldin van het Ndona-dal”, berkisah tentang Ria Rago, seorang gadis pemeluk Kristen dari desa Nua Nellu yang dipaksa oleh orangtuanya untuk menikah dan menjadi istri kedua Dapo Doki. Dapo Doki adalah seorang penganut muslim dari desa Rada Wuwu.
Ria Rago dinikahkan dengan mahar yang sangat tinggi. Namun, Ria Rago menentang pernikahan ini. Karena dua seab; perbedaan agama, dan karena Dapo Doki telah beristri.

Puncak Ndona. (credits: TikTok)
Terdapat pula adegan kekerasan yang dilakukan oleh orangtuanya, yang dialami oleh Ria Rago, karena menentang pernikahan itu.
Pun juga terdapat pola pandang etnosains, ketika Rago Da’u, ayah dari Ria Rago, yang bertanya pada Nitu Pai.
Serfina Martina Ndoa dari IKIP Muhammadiyah Maumere dalam penelitian berjudul “Peran Mosalaki Sebagai Pemimpin Masyarakat Adat Dalam Melestarikan Budaya Demokrasi (Kula Kame) Pada Masyarkat Lio Dia Kabupaten Sikka” menyebutkan bahwa Nitu Pai, dalam kepercayaan lokal, diyakini sebagai roh yang menjaga alam, seperti; batu, hutan keramat, gunung, hingga area pesisir pantai. Seperti, titik-titik tertentu di Pantai Nanganesa, misalnya.
Rago Da’u memberi persembahan pada Wula Leja (matahari – bulan) dengan cara menyembelih seekor ayam dan memercikkan darahnya ke tempat pemujaan dan sekeliling desa.
Setidaknya, terdapat rentang waktu sekitar tiga bulan, sejak lamaran hingga akhir dari cerita. Seperti plot yang lumrah pada drama tragedi dari Shaskespeare, catastrophe pun terjadi di akhir cerita, dimana Ria Rago meninggaldunia.
Pastor Simon Buis, sebenarnya telah menyiapkan sekenario film Ria Rago selama satu tahun lamanya. Namun, ia harus menulis ulang skenario, untuk memasukkan detail kehidupan penduduk dan prosesi adat yang seakurat mungkin.
Maka, ia pun kembali melakukan wawancara dengan penduduk di Lembah Ndona, dengan menggunakan bahasa Lio, sebagai bahasa setempat.
Serta, ia telaten menyikapi berbagai sisi-sisi lain dari film. Yang dimulai sejak dari casting hingga proses cuci film.
Pada waktu yang mendekati dan bersamaan, roman “Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai” yang ditulis oleh Marah Rusli juga diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1922. Maka, sesuai jamannya, film Ria Rago menggunakan drama tragedi, sama seperti kisah Sitti Nurbaya.

Rumah pengasingan Soekarno di Ende. (credits: Indonesia Kaya)
Film, sebagai hiburan, mungkin atau dapat saja berdasarkan kisah nyata. Namun, tentunya, kisah itu harus di-reka ulang, agar cocok sebagai hiburan, dan juga, dalam kasus SVD, sebagai penyebaran misi.
Meskipun film adalah fargmen demi fargmen yang menceritakan tentang suatu persoalan, yang dalam Ria Rago adalah kawin paksa, namun, belumlah tentu adegan-adegan penyiksaan yang terjadi di kisah yang difilmkan itu adalah sesungguhnya.
Dan, sama seperti Siti Nurbaya, yang juga adalah rekaan.
Namun, setidaknya, dari Ria Rago, dan dari Sitti Nurbaya, penonton akan belajar tentang keberagaman suku bangsa dan adat istiadatnya.
Ende adalah noktah dalam sejarah Indonesia. Mengutip laman Indonesia Kaya, Bung Karno, Sang Proklamator Indonesia, sempat diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda di sana, pada tahun 1934 hingga 1938. Kini, bangunan tempat Bung Karno diasingkan itu berada di Jalan Perwira, Kelurahan Kotaraja, Kecamatan Ende Utara.
Sedangkan Lembah Ndona terletak di Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Kawasan ini adalah wilayah dataran tinggi di timur Kota Ende. Dengan Kampung Adat Wolotopo yang berada di perbukitan batu pinggir pantai, ataupun Kampung Adat Saga.

Poster film Ria Rago. (credits: Ria Rago)
Kabupaten Ende termasuk juga dalam deretan jalur gunung berapi, sebut saja Gunung Iya (637 mdpl) yang letusan terakhirnya terjadi pada tahun 1969. Selain itu, juga Gunung Mutubusa (1.690 mdpl) yang memuntahkan lahar panas pada tahun 1938.
“Cabo de flores” dalam bahasa Portugis berarti: tanjung bunga. Terdapat sebanyak 16 suku asli Flores. Suku Lio, adalah satu diantaranya.
Perjanjian Lisbon, yang ditandatangai oleh Portugis dan Belanda pada tahun 1858, menyebutkan bahwa Portugis yang sebelumnya menguasai Flores, harus menyerahkan hak wilayahnya di Nusa Tenggara kepada Belanda. Namun, penguasaan secara penuh baru terjadi pada periode 1917 hingga 1918. Yakni setelah Belanda menaklukkan perlawanan pemimpin-pemimpin (raja-raja) lokal.
Terdapat Kerajaan Larantuka (Flores Timur) yang bercorak Katolik yang memiliki ikatan kuat dengan Portugis. Kerajaan Larantuka menguasai wilayah timur Flores, Solor, Adonara, dan Lembata.
Lalu, Kerajaan Ende (Flores Tengah) yang bercorak Islam. Kerajaan ini memiliki hubungan politik dan ekonomi sangat erat dengan Kesultanan Bima di Pulau Sumbawa.
Kerajaan Manggarai (Flores Barat) di wilayah barat Flores pada abad ke-19 berada di bawah kekuasaan dan pengaruh Kesultanan Bima serta Kesultanan Makassar. Di wilayah ini terdapat sistem kekuasaan adat yang berpusat di Kerajaan Todo, yang adalah cikal bakal wilayah Manggarai Raya. Wilayah kekuasaannya membentang dari Selat Sape hingga berbatasan dengan wilayah Ngada.
Lalu, Kerajaan Sikka dan Nagekeo, di wilayah di sekitar Maumere (Sikka) dan wilayah tengah (seperti Ngada) dikuasai oleh gabungan kerajaan-kerajaan kecil (seperti Kerajaan Sikka) atau sistem federasi klan adat yang berada di bawah pengaruh kekuasaan pesisir. Sistem kerajaan modern baru dibentuk di beberapa wilayah pedalaman saat Belanda melakukan ekspansi penuh pada awal abad ke-20 M.
Sehingga, SVD sesuai dengan misinya, pun memilih untuk membuat film rekaan di Flores Tengah, yakni di wilayah Kerajaan Ende yang bercorak Islam. Begitulah kisahnya.*
