Perempuan Penghuni Surga
Resonansi
February 22, 2026
Zulfa Amira Zaed

Ilustrasi perempuan muslim. (credits: Pinterest)
CUCU ketiga Muhammad Rasulullah, adalah Zainab binti Ali bin Abi Thalib. Sejarah mengenangnya sebagai perempuan pemberani. Sayyidah Zainab lahir pada tanggal 5 Jamadi al-Awwal tahun 5 Hijriah (626 M).
Zainab, telah dengan berani mendukung Hussain bin Ali bin Abi Thalib. Imam al Hussain adalah kakaknya, yang mati syahid pada “Tragedi Karbala”, pada 10 Muharram 61 H (10 Oktober 680 M). Peristiwa ini, juga dikenal dengan Asyura.
Sehingga, ia pun dikenal dengan nama Zainab al-Kubra.
Pun, Zainab juga melindungi seluruh keluarga Husain, beberapa bulan setelah Husain wafat, ketika mereka dipenjara oleh dinasti Umayyah.
Zainab, mengutip Republika, dilahirkan sekitar lima tahun sebelum kakeknya, Rasulullah SAW wafat. Ia adalah anak ketiga pasangan Ali dan Fatimah, yakni setelah kakaknya yang kembar; Hasan dan Husain. Jarak kelahiran mereka sekitar satu tahun, setelah satu tahun selanjutnya, lahirlah saudara perempuannya, Ummu Kultsum.
Zainab menikah dengan anak pamannya atau sepupunya, Abdullah bin Ja’far. Ia melahirkan beberapa orang anak, yang bernama; Muhammad, Ali, Abbas, Ummi Kultsum dan ‘Aunal Akbar.
Zainab pun meriwayatkan beberapa hadits. Beberapa orang juga meriwayatkan hadits yang berasal darinya. Seperti Muhammad bin Amru, Atha bin As-saib, dan Fathimah binti Hussain bin Ali.
Sayyidah Zainab al-Kubra, mengutip Mubadalah, adalah pencinta ilmu pengetahuan. Ia diberi gelar “Aqilah Bani Hasyim” (perempuan cerdas dari Bani Hasyim).
Muhammmad Rasulullah pernah mengatakan, “Aku adalah kota ilmu pengetahuan, dan Ali adalah pintunya”.

Gua Al-Tar, Karbala, Irak. (credits: Wiki Commons)
Dan, sejarah pun menyebutkan, bahwa, Sayyidah Zainab al-Kubra adalah perempuan pintar dan cerdas, berani, rajin beribadah. Kecerdasannya mengungguli saudara-saudaranya. Bahkan ayah dan ibunya sering bertanya kepadanya manakala menghadapi persoalan yang sulit.
Ketika, Sayyidah Zainab ikut bersama saudaranya, Sayyid Husein bin Ali, dalam perjalanan ke Irak memenuhi undangan penduduk di sana. Di sebuah tempat bernama Karbala, rombongannya dihadang oleh pasukan tentara Yazid bin Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan terjadilah pertempuran dahsyat yang sama sekali tak berimbang.
Sayyidah Zainab, mengutip Imam, ketika itu ia berusia 55 tahun, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri serbuan tentara Yazid bin Mu’awiyah ini. Ia menyaksikan kemartiran anak-anaknya sendiri, keponakannya, sahabat, dan yang paling signifikan saudara-saudaranya tercinta; Abbas ibn Ali Talib dan Imam al-Hussain.
Zainab adalah contoh ketabahan, keberanian, kerendahan hati, dan kekuatan bagi setiap orang.
Di halaman istana Yazid di Damaskus, setelah mereka dibawa sebagai tahanan, Sayyidah Zainab berpidato. Pidatonya, masih diingat hingga hari ini.
“Yazid, apakah engkau berpikir bahwa ketika engkau menyempitkan jalan-jalan dan cakrawala langit kepada kami, bahwa kami menjadi tawanan, dan dengan demikian, bahwa kami disita oleh Tuhan dan engkau merasa terhormat? Dan apa yang telah terjadi kepada kami adalah karena engkau memiliki status yang besar dengan-Nya?”
Ia melanjutkan, “Sehingga, engkau telah berbual tentang kebesaranmu, dan dengan arogan engkau memandang rendah kami? Engkau gembira ria, karena engkau menganggap dunia tunduk kepadamu, kondisinya sesuai keinginanmu, dan engkau menganggap bahwa status dan otoritas kami telah menjadi milikmu?”
Kemudian, “Tetapi, tunggu dan waspadalah, apakah kamu lupa apa yang Allah katakan, bahwa “Orang-orang yang tidak beriman tidak boleh berpikir bahwa kelonggaran-Nya adalah untuk kebaikan mereka. Kami hanya memberi mereka waktu untuk membiarkan mereka meningkatkan dosa-dosa mereka. Bagi mereka akan ada siksaan yang memalukan.”

Masjid dan makam Sayidah Zainab, pada tahun 1884. (credits: Wiki Commons)
Zainab meninggaldunia pada tanggal 15 Rajab tahun 62 H.
Beberapa sejarahwan menyatakan bahwa ia meninggaldunia di Damaskus, Suriah. Namun, ada juga yang menyatakan ia dimakamkan di Madinah, di Semenanjung Arab, atau Kairo, Mesir.
Terdapat sebuah distrik di Provinsi Kairo, Mesir. Distrik itu bernama: Distrik Sayyida Zainab.
Distrik ini, mengutip Government of Cairo, memiliki luas 7.040 kilometer persegi, dan berpenduduk 15.504 jiwa.
Pada distrik ini, terdapat masjid dan makam Sayyida Zainab, di wilayah kuno yang biasa disebut dengan Al-Khalifa dan Al-Muqtam.
Masjid ini terletak di Lapangan Sayyida Zainab, dan tempat ini dikenal pada era lampau Mamluk sebagai “Sebelas Garis”. Yakni setelah lengkungan yang dibangun oleh Sultan Baibars dari Benqadari di Teluk Mesir, yang lewat di depan masjid dan lengkungan ini adalah gambar dari tujuh, yang adalah slogan Sultan Al-Zahir Baybars.
Tidak diketahui secara pasti kapan masjid itu didirikan di areal makam Sayyidah Zainab. Pun tidak diketahui referensi sejarahnya, kecuali bahwa gubernur Ottoman Mesir Ali Pasha pada tahun 951 H/154 M memperbaiki masjid itu, dan kemudian merenovasinya dilanjutkan oleh Pangeran Abdul Rahman pada tahun 1171 H/ 1768 M.
Lalu, pada tahun 1940 Kementerian Awqa menggantikan bangunan masjid lama, dan mendirikan masjid yang ada, hingga hari ini.*
