Memperbincangkan Pasarean Gunung Kawi

Budaya & Seni

July 13, 2026

Jon Afrizal

Para pedagang Sekar Layon di landscape Gunung Kawi. (credits: pesareangunungkawi)

“Jaman biyen dodolan opo ae mesti payu”

(: jaman dulu, jualan apa saja pasti laku)

MASYARAKAT di kawasan wisata religi Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, meminta masyarakat luas untuk berhenti mempercayai stigma negatif yang menyebut kawasan itu sebagai tempat pesugihan. Demikian mengutip unggahan resmi di akun Instagram @gunungkawistory.

Akun itu menyebutkan bahwa Gunung kawi adalah sebagai tempat berdoa, dan bukan sebagai tempat yang harus ditakuti. Bagi masyarakat lokal, Gunung Kawi juga menyimpan nilai budaya dan sejarah yang diwariskan secara turun temurun.

Gonjang ganjing berita seputar Gunung Kawi, saat ini kembali ramai sliweran di media sosial, dan dikaitkan dengan isu pesugihan. Meskipun, bagi masyarakat lokal, Gunung Kawi sejak lama dikenal sebagai destinasi wisata religi, tempat masyarakat berdoa, berziarah, dan mengungkapkan rasa syukur, dan, bukan seperti anggapan yang berkembang di media sosial.

Bahkan, Gunung Kawi yang telah didatangi banyak peziarah dari berbagai daerah itu juga ikut menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar. Sejak dari pedagang bunga, pemilik warung, pengelola penginapan, hingga sopir angkutan.

Praktek selametan (ziarah dan doa) di Gunung Kawi, mengutip Suara, telah lama menjadi bagian dari tradisi yang berkembang di kawasan ini. Ini terlihat dari adanya loket resmi dan daftar harga, yang menunjukkan bahwa aktifitas ritual di Gunung Kawi telah terorganisir dengan rapi.

Adapun rincian harga selamatan di Gunung Kawi cukup variatif. Yakni sejak dari IDR 10.000 hingga IDR 15.000.000.

Gunung Kawi (2.551 m mdpl) atau yang juga disebut dengan Gunung Putri Tidur, adalah sebuah gunung berapi yang sudah lama tidak aktif. Gunung Kawi berada sebelah barat daya di Kabupaten Malang, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Sejauh ini, tidak ada catatan sejarah terkait letusan gunung berapi ini.

Cerita tentang pesugihan hidup lewat tradisi lisan. Sebagai wacana yang memiliki nilai dan muatan yang sarat makna bagi komunitas masyarakat tertentu, dan, menjadi penanda budaya kelompok masyarakat tertentu.

Pada tahun 2023 lalu, mengutip Detik, lima mahasiswa Universitas Brawijaya yang tergabung dalam tim ekspedisi dan penelitian “Artha Kawi” meneliti praktek pesugihan di Gunung Kawi. Mereka mencari dan menggali keterangan dan pengalaman pelaku ritual pesugihan Gunung Kawi, serta orang terdekatnya.

Landscape Gunung kawi. (credits: Google Photos)

Para mahasiswa meneliti adanya keterkaitan antara praktik pesugihan Gunung Kawi dengan kecenderungan mental disorder. Khususnya psikosis pada pelaku pesugihan.

“Artha Kawi” mendapatkan kesimpulan bahwa konsep harta dibalas nyawa dalam praktik pesugihan Gunung Kawi, dimaknai sebagai pengorbanan yang harus dilakukan oleh pelaku pesugihan atas tujuan dari individu itu. Tetapi, sejauh ini, rumuor adanya tumbal nyawa sebagai syarat ritual belum dapat ditemukan faktanya.

Hamirul dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Setih Setio dalam penelitian berjudul “Pesugihan Ala Nyi Blorong Masa Kini (Studi Pada Group Telegram Dukun Pesugihan Tanpa Tumbal)” menyebutkan bahwa terdapat sembilan cerita tentang pesugihan yang tersebar di beberapa wilayah di Jawa dengan jangkauan demografi dan topografi berbeda.

Jika di Jawa Timur, yakni; Pesugihan Gunung Kawi di Wonosari, Kepanjen, Malang, Pesugihan Makam Ngujang di Tulungagung, dan Pesugihan Roro Kembang Sore di Gunung Bolo, Tulungagung.

Lalu, di Jawa Tengah, meliputi Pesugihan Gunung Kemukus di Gunung Sari, Pendem, Sumberlawang, Sragen, Pesugihan Pulau Seprapat di Desa Bendar, Juwana, Pati, Pesugihan Nyi Puspo Cempoko di Desa Kabongan, Rembang, Pesugihan Pohon Ketos di Desa Bero, Trucuk, Palar, Klaten. Dan Pesugihan Dewi Lanjar, di Pantai Slamaran, Pekalongan.

Dan di Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah Pesugihan Nyi Blorong di Sendang Pengilon, Desa Bangunjiwo, Bantul.

Selain kesembilan tempat pesugihan itu, masih banyak tempat lain pesugihan di Jawa. Seperti di Gunung Surowiti Gresik, di Alas Purwo Banyuwangi, di Sendang Jimbung Klaten, Sendang Alas Kucur di Paseban Bayat Klaten, dan seterusnya.

Abdul Sani dari Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari Banjarmasin dalam penelitian berjudul “Pasugihan Urang Banjar” menyebutkan bahwa pasugihan atau pesugihan, adalah orang yang memiliki kajian untuk kaya raya dan banyak uang yang secara jahir sangat luar biasa dan spektakuler dalam tempo relatif singkat. Yang meliputi jalan pesugihan ke kiri, ke kanan dan jalan lurus.

Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Semarang, Prof. Dr. Wasino, mengutip Detik, mengatakan bahwa konsep pesugihan muncul pada abad akhir 19 dan awal abad 20. Yakni ketika kapitalisme barat ini muncul berbarengan dengan kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Ketika VOC menguasai di wilayah Indonesia dan kemudian menerapkan monopoli, maka dampak dari kapitalisme itu telah menyebabkan pribumi ini tersingkirkan dan pribumi menjadi kelas buruh. Maka, satu cara yang ditempuh inlander untuk beriring jalan dengan kapitalisme, adalah pesugihan.

Adapun Pasarean Gunung Kawi, mengutip Detik, adalah tempat peristirahatan terakhir Kiai Zakaria II (Eyang Jugo), dan, Raden Mas Iman Soedjono (Eyang Sujo). Keduanya adalah pengikut Pangeran Diponegoro, yang kemudian membuka lahan di wilayah itu pada abad ke-19. 

Banyak folklore tentang kebijaksanaan Mbah Jugo. Satu dari kisah itu, adalah tetang Mbah Jugo yang mampu mengatasi wabah ternak di Desa Sonan pada tahun 1860.

Buah Dewandaru (Eugenia uniflora). (credits: Sucifindo Conservation)

Mbah Jugo wafar pada hari Senin Pahing tanggal Satu Selo tahun 1817 M. Jenazahnya dibawa dari dusun Djoego Kesamben ke Dusun Wonosari Gunung Kawi, untuk dimakamkan sesuai permintaan, yakni di gumuk (bukit) Gajah Mungkur di selatan Gunung Kawi. Jenazah tiba di Gunung Kawi pada hari Rabu Wage malam, dan dikeramat (dimakamkan) pada hari Kamis Kliwon pagi.

Sepeninggal Mbah Jugo, Eyang Sujo, lalu menjadikan hari Senin sebagai hari keramat. Ia selalu menyediakan sesaji dan selamatan di setiap Senin Pahing.

Eyang Sujo meninggaldunia pada tahun 1876. Sesuai dengan permintaan Eyang Jugo, Eyang Sujo pun dimakamkan dalam satu liang yang sama denagn Eyang Jugo.

Setelah Eyang Jugo dan Eyang Sujo meninggal dunia, banyak peziarah datang ke lokasi ini murni untuk mendoakan leluhur dan mengharapkan berkah spiritual atas perjuangan mereka. Namun, pergeseran nilai ziarah untuk menjadi pusat mitos pesugihan mulai menguat seiring dinamika ekonomi modern pada abad ke-20.

Dimana banyak pengusaha etnis Tionghoa dan bumiputera yang datang berdoa di tempat ini, kemudian meningkat perkonomiannya.

Selain makam keramat Eyang Jugo dan Eyang Sujo, terdapat lima tempat lain yang menjadi tujuan peziarah. Yakni; Rumah Padepokan Raden Mas Imas Soedjono, dua buah guci kuno “janjam” peninggalan Mbah Jugo, Pemandian Sumber Manggis dan Sumber Urip, serta Pohon Dewandaru.

Satu dari cerita tentang praktek ritual di Gunung Kawi, adalah, pohon Dewandaru (Eugenia uniflora). Masyarakat meyakini bahwa jika kejatuhan daun atau ranting pohon ini secara alami akan membawa keberuntungan finansial. Dan, ranting atau daun yang jatuh lalu disimpan dalam dompet atau tempat penyimpanan uang sebagai jimat penarik harta.

Dewandaru, mengutip Socfindo Conservation, adalah tanaman yang berasal dari i pantai timur Amerika Selatan. Dalam bahasa lokal, Dewandaru juga dikenal dengan nama Cereme asam (Melayu), Asem selong, dan, Blimbing londo (Jawa).

Pohon Dewandaru dapat tumbuh di mana saja. Pohon ini ditemukan pada ketinggian 1.800 mdpl, suhu 12-32 derajat Celcius, dengan curah hujan berkisar 700 hingga 2.700 mm per tahun. Dewandaru menyukai tanah lembap dengan bahan organik tinggi.

Dewandaru memiliki kandungan kimia berupa; karotenoid, flavonoid, senyawa fenolik, tanin, citronellal, geramyl acetate, geranial, cineole, terpinene, sesquiterpenes, dan polytenes. Dengan kandungan ini, maka Dewandaru dapat membantu menjaga daya tahan tubuh, menurunkan kolesterol dan tekanan darah, mengatasi rasa sakit rematik, antikanker, antitumor, dan, mengobati diare.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon, mengutip bloombergtechnoz, mengatakan fenomena yang melekat pada Gunung Kawi tidak dapat dilepaskan dari mozaik budaya dan tradisi yang hidup di berbagai daerah di Indonesia. Setiap masyarakat memiliki cara masing-masing dalam memahami situs maupun tradisi yang berkembang di lingkungannya.

Sehingga, Gunung Kawi adalah bagian dari keberagaman masyarakat Indonesia dalam memahami berbagai hal. Dan, apa yang terjadi di sana maupun di berbagai tempat lainnya adalah bagian dari mozaik tradisi dan budaya lama.

Tetapi, Gunung Kawi bukan hanya soal “mencari harta” saja. Mengutip Eiger Adventure, Gunung Kawi adalah satu gunung yang menyimpan banyak cerita, mitos, dan legenda. Pendakian Gunung Kawi dapat ditempuh dengan tiga jalur. Yakni via Jalur Precet, Keraton, dan, Kucur.

Dan, pastikan untuk melihat ramalan cuaca agar tidak terjebak hujan atau badai saat mendaki. Juga, pastikan untuk mengetahui beberapa larangan yang ada dalam pendakian Gunung Kawi.

Selanjutnya, ucapkan salam selama pendakian, terutama ketika melewati landmark tertentu. Terlepas dari apapun kepercayaan yang dianut, mengucap salam adalah bentuk itikad baik pada alam raya.

Yang terpenting, janganlah terlalu berlebihan. Sebab alam raya akan memaknai apapun sesuai dengan asalinya.*

Share:
avatar

Redaksi