Praktek “Nyai” Di Hindia Belanda
Hak Asasi Manusia
March 30, 2026
Roderick C. Wahr*

Nyai Ontosoroh dalam film “Bumi Manusia”. (credits: Falcon Pictures)
“Ketika hujan datang, kambing melarikan diri
Orang Belanda lalu mabuk selama sepuluh hari.”
ISTILAH njai (nyai) di Hindia Belanda adalah: selir orang asing, khususnya, orang asing barat. Meskipun, kata nyai berasal dari kata Melayu/Yunani, yang berarti “penjaga rumah tangga”, dan juga dapat merujuk pada seorang wanita berusia tua atau yang dituakan.
Di Hindia Belanda, kata Muntji (munci) kadang-kadang digunakan sebagai pengganti njai, terutama di kalangan militer. Kata Muntji berasal dari Bahasa Melayu, yang berarti: wanita penghibur. Sebab, di mata penduduk asli, setiap wanita yang hidup tanpa menikah dengan orang asing adalah seorang muntji.
Kedatangan Belanda pada tahun 1596 memicu banyak perubahan. Belanda datang untuk satu tujuan saja: kontrol perdagangan rempah-rempah.
Jan Pietersz Coen akhirnya menguasai perdagangan rempah-rempah, setelah menundukkan para pecandu dan membantai orang-orang Banda. Batavia berkembang karena itu adalah pusat seluruh komoditas, sebelum akhirnya dikirim ke Eropa yang jauh.
Belanda, dengan pikiran praktis pragmatis, mengerahkan seluruh kekuatan untuk menghasilkan uang melalui perdagangan, dan perdagangan rempah-rempah menjadi yang terpenting. Untuk mencapai tujuannya, Belanda pun menyiapkan infrastruktur yang kompleks untuk menghubungkan pulau-pulau.
Pelabuhan dibangun di pulau-pulau yang lebih besar untuk mendukung pengiriman barang ke Batavia. Jalan dan jembatan dibangun di pulau-pulau untuk mengangkut barang ke pelabuhan-pelabuhan itu.
Untuk melaksanakan infrastruktur ini, mereka membutuhkan orang. Selama bertahun-tahun, semakin banyak orang yang direkrut dari negeri Belanda.
Dimulai dari pedagang, insinyur sipil, petualang, hingga ke para pencari keberuntungan datang ke Hindia Timur dalam jumlah yang semakin meningkat. Sebagian besar adalah pria lajang, dan hanya sedikit wanita.
Mereka menetap di Hindia Timur selama beberapa tahun, dan beberapa dari mereka bahkan secara permanen.

Nyai Ontosoroh dalam film “Bumi Manusia”. (credits: Falcon Pictures)
Pada awalnya, orang-orang lajang ini tidak memiliki hiburan di luar pekerjaan mereka, jadi mereka beralih ke minuman keras untuk mencari hiburan. Lagu populer berikut muncul di antara penduduk asli; yang terjemahannya adalah: “Ketika hujan datang, kambing melarikan diri / Orang Belanda lalu mabuk selama sepuluh hari …”
Tetapi bahkan dengan gangguan alkohol, banyak pria masih merasa kesepian di malam hari. Mereka merindukan memiliki teman, seseorang untuk dipegang di malam hari. Dengan demikian datang bantal bergulir, bantal bulat memanjang yang dengan itu dapat dipeluk di sekitar lengan dan kaki saat tidur.
Kata yang awalnya adalah “rolling” dalam Bahasa Inggris, kemudian menjadi Guling dalam Bahasa Melayu. Sebagai guyonan, Orang Inggris kerap mempersandingkan kata Guling dengan Dutch Wife (: istrinya Orang Belanda).
Beberapa waktu yang lalu, saya menerjemahkan Beschryving van Batavia bertemu deszels Kasteel, sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1741, menjadi bahasa Belanda modern, Inggris dan Indonesia. Di luar deskripsi rinci tentang bangunan di dalam Kastil Batavia, buklet itu berisi cerita tentang kecerobohan wanita Hindia, kedatangan para petualang pencari keberuntungan saat itu, dan pembunuhan massal penduduk Tiongkok pada tahun 1740, dengan perkiraan jumlah kematian 10.000 jiwa.
Pada saat itu, pernikahan legal seorang warga negara dari orang barat dengan penduduk asli tidak terpikirkan, bahkan dilarang pada awalnya. Selain itu, wanita dari Barat biasanya sudah memiliki pasangan dengan siapa mereka datang ke Timur.
Orang asing bujangan, bagaimanapun, suka memiliki pasangan wanita yang stabil, dan kemudian mereka menjalin hubungan dengan pelayan wanita mereka, yang adalah pembantu rumah tangga mereka.
Para pengurus rumah tangga ini pada awalnya adalah budak yang ditugaskan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Dan, “persahabatan” menjadi tugas tambahan.
Dengan meminjam sistem kasta di era sebelumnya di Jawa, yang mungkin berasal selama masa migrasi Hindustanis dari India, jauh sebelum Nusantara ditemukan oleh Portugis dan Spanyol, bahkan mungkin sebelum Hayam Wuruk, raja kerajaan Jawa-Hindu-Buddhis Majapahit.
Sistem kasta ini, kadang, masih dapat ditemui di Indonesia modern, terutama di Jawa, terkhusus di Yogyakarta dan Surakarta.
Sistem kasta Jawa memiliki dua lapisan dalam populasi. Kasta yang lebih tinggi memiliki tanah dan mempertahankan kekuasaan, dan, kasta yang lebih rendah melayani kasta yang lebih tinggi.
Pemisahan ini bahkan meluas ke dalam bahasa; kasta yang lebih tinggi menggunakan Highborn Javanese, dan kasta yang lebih rendah menggunakan Lowborn Javanese. Sehingga perbedaan sosial sangat jelas; bahasa yang berbeda untuk orang yang berbeda.
Para budak yang dikenal di Batavia berasal dari kasta yang lebih rendah dan juga sering datang dari kepulauan Sunda Kecil di timur.
Lalu, para budak ini menjadi Mardijkers, atau budak yang dibebaskan. Istilah Mardijker berasal dari kata Portugis marcacas, yang aslinya berasal dari Bahasa Sansekerta untuk maharddhika Sanseker yang berarti: sangat kaya, makmur atau berkuasa.
Pada saat itu di Jawa, seorang Mardijker berarti orang bebas, dan dari kata itulah kata Merdeka berasal, setelah kemerdekaan Indonesia, dan berkembang artinya menjadi: tidak hanya bebas, tetapi juga independen.
Mardijkers di Jawa adalah budak Kristen, dan keturunan mereka. Di Indonesia modern, istilah preman, yang berasal dari manusia Belanda, digunakan, meskipun membawa konotasi negatif bahwa orang-orang itu kasar dan tidak beradab.
Orang Belanda di Jawa menjadikan pembantu rumah tangga mereka sebagai selir. Para penduduk setemapt menutup mata atas tindakan itu, karena sistem kasta yang berlaku.

Nyai Ontosoroh dalam film “Bumi Manusia”. (credits: Falcon Pictures)
Kasta yang lebih rendah dimaksudkan untuk melayani kasta yang lebih tinggi, dan kala itu, tidka dapat diperdebatkan. Sebab, jika seseorang dilahirkan untuk sepeser uang, tentunya tidak akan pernah menjadi seperempat.
Sayangnya, sering terjadi bahwa orang-orang Belanda ini kembali ke tanah air mereka, dan meninggalkan njai dan anak-anak mereka, dengan kedok “siapa pun yang ingin mendapatkan bayi akan mendapatkannya”.
Sehingga tentara Belanda yang ditempatkan di Hindia Timur adalah bujangan yang juga “mengambil” njai.
Penekanannya, adalah, bahwa sistem njai, hanya terjadi di Jawa, karena sistem kasta yang berlaku telah menciptakan kondisi untuk terjadi.
Istilah njai biasanya di Jawa, dan tidak ada njai di pulau-pulau lain di Hindia Belanda.
Warisan njai memeberikan gambaran kuat, dan kita dapat melihat dampak budaya, sosial, dan pribadi dari pemerintahan kolonial di Hindia Belanda. Meskipun sering terpinggirkan di zaman mereka sendiri, pengalaman para wanita ini menggarisbawahi kompleksitas identitas, ketahanan, dan adaptasi dalam masyarakat kolonial.
Memahami kisah mereka akan memperdalam kesadaran kita tentang bagaimana kolonialisme membentuk, dan kadang-kadang retak, kehidupan masyarakat adat, meninggalkan jejak abadi pada lanskap budaya dan sejarah Indonesia.*
*Artikel ini dikutip dan diedit, tanpa mengurangi arti, dari laman theindoproject.org
