Gajah Bukan Untuk Ditunggangi
Lingkungan & Krisis Iklim
May 12, 2026
Jon Afrizal

Wisatwan sedang menunggang gajah di Mason Elephant Park & Lodge, Gianyar, Bali. (credits: Google Photos)
INVESTIGASI yang dilakukan oleh People For Ethical Treatment Of Animals (PETA) Asia baru-baru ini menyebutkan bahwa gajah (elephas maximus) di tempat-tempat wisata populer di Bali yang popular, telah disalahgunakan sebagai tunggangan. Sehingga, gajah-gajah itu menderita luka.
Tempat popular di Bali itu, termasuk Mason Elephant Park & Lodge, dan Bakas Adventure Elephant Safari.
Direktorat Jenderal Konservasi Ekosistem (KSDAE), telah mengeluarkan edaran tentang larangan kegiatan menunggang gajah di banyak fasilitas wisata dan konservasi di Indonesia.
Penelitian yang dilakukan PETA selama beberapa dekade, menyebutkan bahwa gajah adalah hewan sosial yang hidup dalam kawanan matriarki. Kawanan gajah saling melindungi, mencari makan untuk vegetasi segar, bermain, mandi di sungai, dan berbagi tanggung jawab pengasuhan untuk bayi ternak.
Di alam bebas, gajah berjalan hingga 50 kilometer setiap hari. Dan aktif selama 18 jam.
Kebebasan bergerak dan keterlibatan social hewan gajah sangat penting untuk menjaga kesejahteraan fisik dan psikologis mereka.
Ketika gajah digunakan sebagai alat peraga untuk wisata, maka hubungan emosional yang kompleks dan multifaset ini telah tercompang-camping. Dan bahkan, ketika gajah tidak lagi dipaksa untuk memberikan tumpangan, gajah terus menderita demi tempat wisata.
Menurut laman PETA, maksa gajah ke dalam interaksi dengan wisatawan; baik itu mandi, memberi makan, atau pengalaman foto langsung, telah menciptakan situasi yang tidak wajar dan penuh tekanan.
Kegiatan ini telahb memaksa satwa untuk didominasi untuk mentolerir kontak dengan manusia secara dekat. Sehingga satwa hidup dalam ketakutan terhadap pemukulan; dengan menggunakan tongkat berat dengan kait baja yang tajam di ujungnya.

Wisatwan sedang menunggang gajah di Bakas Adventure Elephant Safari, Klungkung, Bali. (credits: Google Photos)
Senjata-senjata ini digunakan untuk membuat gajah takut dan tunduk. Sebagian besar gajah tawanan mati beberapa dekade kurang dari rentang hidup yang mereka harapkan dari penyakit sendi dan kondisi melemahkan lainnya terkait dengan kurungan mereka.
Terdapat sekitar 15.000 gajah di Asia yang berada di penangkaran untuk tujuan pariwisata. Dengan beberapa perkiraan, sebanyak 50 persen dari gajah-gajah itu yang disiksa selama “pelatihan”, telah mengalami kematian.
Kamp-kamp gajah di seluruh Kamboja, Thailand, Vietnam, dan negara-negara Asia lainnya terkenal karena telah menipu masyarakat agar percaya bahwa kegiatan mereka menguntungkan gajah. Yang seringkali dengan mengklaim bahwa mereka menyelamatkan gajah atau mereka menawarkan sejenis “sanctuary” bagi gajah.
Padahal, kenyataannya, terbalik 180 derajat.
Masih mengutip PETA, pengkondisian kekerasan telah dimulai sejak dini. Setelah bayi gajah dipiasahkan dari kawanannya, maka “pelatih” mengikat mereka dan memukuli mereka dengan tongkat atau senjata lainnya untuk membuat gajah takut dan untuk mematahkan semangat gajah untuk melawan.
Kondisi ini berlangsung selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Yang membuat gajah takut, dan “pelatih” telah sukses membuat takut dan mengajarkan kepada gajah untuk mematuhi manusia agar terhindar dari rasa sakit.
Para peneliti telah lama menemukan bahwa gajah yang mengalami proses ini sering mengembangkan gangguan stres pasca-trauma. Mereka dapat mengalami kecemasan yang parah sebagai akibat dari apa yang telah mereka lalui. Kadang-kadang kembali mengalami sensasi fisik dari perlakukan yang mereka alami.
Di tempat “pelatihan” gajah tidak dapat memilih untuk bersosialisasi dengan gajah lain. Gajah dipaksa untuk menghabiskan waktu berjam-jam dirantai, membawa pengendara di punggung mereka, atau melakukan trik yang menyakitkan, bahkan ketika cuaca sangat panas.
Kondisi ini, tentunya berbeda dengan gajah yang berada di alam bebas yang adalah rumah alami bagi gajah.
Sehingga, adalah sangat baik untuk tidak pernah menunggangi, naik, berfoto selfie, mandi, atau memberi makan gajah. Sebab, kegiatan-kegiatan pariwisata ini hanya dapat terjadi karena pelatihan yang kejam.*
