Mengingat Danilah Dan Kesadaran “Bang Golok”
Resonansi
February 9, 2026
Syafarudin Usman*

Siti Danilah Salim. (credits: Shopee)
Radio milik Belanda, Pemancar Radio Hilversum menuduh Bang Golok sebagai penghasut kelas satu agar Indonesia berontak melawan Belanda.
SITI Danilah Salim, tak setenar kakak kandungnya, Agus Salim. Danilah adalah anak ke-10 dari 12 bersaudara.
Ia menempuh pendidikan dasar di Europesche Lagere School diRiau. Dari sana ia lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (setingkat SMP) di Medan.
Setelah tamat, ketika itu usianya 17 tahun, ia bekerja di Kantor Pos dan Bea Cukai.
Di Medan, kerika berusia 20 tahun, Danilah bekerja sebagai juru koreksi di Percetakan De Evolutie. Sebuah perusahaan pribumi yang mendapat subsidi pemerintah kolonial.
Satu per satu naskah dia teliti, setiap peletakan tanda baca yang salah pun dikoreksi.
Danilah sangat menikmati pekerjaan itu.
Danilah menikah dengan seorang pegawai tambang minyak pada tahun 1920. Ia lalu mengikuti suaminya ke Kalimantan dan Semarang.
“Dari pengalaman bekerja sebagai korektrise dan belajar otodidak di De Evolutie itulah minat saya untuk mengarang mulai tumbuh,” kata Danilah dalam kumpulan memoar perempuan “Sumbangsihku Bagi Pertiwi”.
Dikarenkan kemampuan bahasa Belanda dan Indonesianya yang baik, maka Danilah menulis puisi dan esai dalam bahasa Belanda. Ia menggunakana memakai nama samaran: Kemuning.
Tulisan berbahasa Indonesia Danilah dimuat pertamakali oleh Harian Neratja, yakni suratkabar modern pribumi dan telah memuat foto.

Siti Danilah Salim. (credits: Cerita Fakta)
Saat itu, Agus Salim menjadi pemimpin redaksinya. Danilah lagi-lagi menjadi juru koreksi di media ini.
Tulisan Danilah di Harian Neratja bersanding dengan tulisan Agus Salim, Mohammad Yamin, Bahder Djohan, dan Kasuma Sutan Pamuntjak.
Pun Danilah juga aktif berorganisasi. Dia bergabung dengan Jong Sumatranen Bond dan aktif menulis di Majalah Jong Sumatra.
“Saya senang menulis puisi di majalah Jong Sumatra. Laporan situasi saya kirimkan ke Harian Neratja. Saya pun menerjemahkan berita pendek dari bahasa asing,” kata Danilah.
Meski sempat berpindah-pindah mengikuti suaminya, Danilah tetap menulis untuk beberapa surat kabar setempat dan mengirimkannya ke Jakarta.
“Di Semarang saya menulis untuk Majalah Pestaka dan Suratkabar Bahagia mengasuh rubrik Taman Isteri,” kata Danilah.
Ketika tinggal di Semarang, Danilah aktif dalam gerakan perempuan dengan bergabung ke dalam Isteri Indonesia, yakni organisasi perempuan yang didirikan pada Juli 1932 dan diketuai oleh Maria Ulfah.
Danilah terpilih sebagai ketua organisasi Isteri Indonesia cabang Semarang selama lima tahun.
Setelah bercerai dari suaminya pada 1938, Danilah pindah ke Jakarta. Ia tetap aktif dalam organisasi perempuan dan menulis.
Danilah menjadi anggota Pengurus Besar Isteri Indonesia dan ketua cabang Kwitang.
Danilah menikah lagi dengan Syamsudin Sutan Makmur, wartawan Cahaya Timur di masa pendudukan Jepang. Setelah Jepang hengkang, mereka mendirikan Mingguan Daya Upaya, meskipun tidak bertahan lama.
Lalu, Syamsudin vbersama Njoto dan rekannya mendirikan Harian Rakjat. Di suratkabar ini, Danilah mengisi rubrik Pojok dengan nama samaran Bang Golok.

Buku “Sumbangsihku Bagi Pertiwi”. (credits: Cak Tarno)
Nama Bang Golok ia pilih karena menggambarkan ketajaman senjata rakyat Indonesia. Dalam satu tulisannya, Danilah menulis bahwa rakyat harus bersatu-padu agar Indonesia tidak dijajah kembali oleh Belanda.
“Radio milik Belanda, Pemancar Radio Hilversum menuduh Bang Golok sebagai penghasut kelas satu agar Indonesia berontak melawan Belanda,” katanya.
Ketika Isteri Indonesia hendak membuat terbitan, Danilah dipercaya sebagai ketua komisi pers, karena sepak-terjangnya di dunia literasi dan jurnalistik.
Lasmidjah Hardi dalam “Perjalanan Tiga Zaman” menyebut Danilah sebagai wartawan terkenal di zamannya. Danilah juga aktif menulis di Majalah Isteri Indonesia.
“Kakak saya Siti Salamah menjadi pemimpin umum Majalah Isteri Indonesia,” kata Danilah.
Menurutnya, dalam menulis, ia tidak dapat lepas dari cara pandangnya yang berpihak pada perempuan.
Maka, ketika Sukarno menikah dengan Fatmawati, misalnya, Danilah mengkritik keras Sukarno dan menyayangkan Sukarno menduakan Inggit. Bagi Danilah, Inggit perempuan hebat yang berperan besar dalam membantu Sukarno di masa sulit.
Ia kembali mengkritik Sukarno ketika menikah lagi dengan Hartini. Baginya, tak ada ruang untuk poligami, karena hal itu merugikan perempuan.
Danilah berteman dekat dengan Nyonya Latief, mertua pemimpin redaksi Harian Merdeka BM Diah. Mereka sama-sama aktifis Isteri Indonesia. Nyonya Latief menjabat sebagai kepala cabang Jakarta.
Ketika Isteri Indonesia mengadakan kongres di Yogyakarta, Danilah datang bersama Nyonya Latief. Dari Nyonya Latief pula Danilah kenal BM Diah.
Tidak hanya berhubungan dengan BM Diah, Danilah juga pernah bekerjasama dengan Parada Harahap, Abdul Muis, Datuk Tumenggung, dan beberapa nama tenar di dunia literasi.
Namun, nama Danilah tak setenar Agus Salim atau rekan seperjuangannya. Bahkan cenderung terlupakan dalam sejarah pers dan literasi Indonesia.*
*Artikel ini disadur dari portal Pontianak Post
