“Cawan Bambu” Anak Dalam

Ekonomi & Bisnis

January 26, 2026

Prameswari Rajapatni

Proses pengamplasan cawan bambu. (credits: Pundi Sumatera)

TANGAN Antoni telaten menghaluskan bambu dengan mesin amplas listrik. Ia mengikuti lengkung cawan yang perlahan terbentuk di hadapannya.

Serbuk halus beterbangan setiap kali mesin menyentuh permukaan bambu. Sementara ia menyesuaikan tekanan agar dindin cawan tetap bulat melingkar.

Sesekali Antoni meraba hasil kerjanya dengan ujung jari, memastikan permukaannya benar-benar halus sebelum melanjutkan proses akhir dari cawan bambu ini. 

“Kurang halus,” katanya kepada Baim, rekan di sebelahnya.

Lalu, ia beralih menghaluskan bambu secara manual dengan amplas halus. Ia sangat sabar menggosoknya hingga permukaan bambu itu benar-benar lembut. 

Tepat di samping Antoni, Baim tengah sibuk memotong bambu. Untuk menyiapkannya menjadi gagang cawan yang serasi.

Setelah potongan bambu selesai dibentuk, gagang itu disesuaikan dengan badan cawan, dicoba satu per satu hingga pas di genggaman. Antoni lalu menyatukan keduanya, memastikan sambungan kokoh dan seimbang. Tak lama, sebuah cawan bambu terbentuk, sederhana, dan ramah lingkungan. 

“Jika untuk pajangan, cawan ini baiknya dilapisi minyak alami agar terlihat mengkilat. Tapi, jika untuk dipakai minum, bisa langsung,” kata Antoni, mengutip rilis dari Pundi Sumatra, baru-baru ini.

Cawan Bambu, telah lama digunakan oleh masyarakat adat Suku Anak Dalam (SAD) saat mereka masih berada di dalam rimba. Cawan adalah wadah minum yang sederhana dan praktis. Dibuat dari bambu yang mudah ditemukan di hutan. 

Cawan Bambu mulai dikembangkan sebagai produk kerajinan oleh komunitas SAD Rombong Nuraini ketika Pundi Sumatra, melalui program International Fund for Agricultural Development (IFAD) melakukan pendampingan masyarakat.

Kegiatan pendampingan ini bertujuan untuk mendorong ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat adat dengan mengangkat kearifan lokal. Melalui kelompok pemuda Suku Anak Dalam – Gerakan Pemuda Anak Dalam (GPAD), para kader muda dilatih untuk menjadi pengrajin cawan bambu. 

Seiring waktu, ruang hidup masyarakat adat Suku Anak Dalam kian menyempit. Alih fungsi hutan, pembukaan kebun, dan aktivitas industri membuat akses mereka terhadap sumber penghidupan tradisional semakin terbatas. Hutan yang dahulu menjadi ruang hidup, sumber pangan, dan penopang budaya perlahan berkurang.

Antoni, pemuda SAD perintis usaha “Cawan Bambu. (credits: Pundi Sumatera)

Dalam situasi ini, upaya mengolah bambu menjadi produk kerajinan bukan sekadar pilihan, melainkan jalan bertahan. Melalui Cawan Bambu, para pemuda SAD berusaha mencari alternatif ekonomi yang tetap berpijak pada pengetahuan lokal, tanpa harus sepenuhnya meninggalkan hubungan mereka dengan alam.

Berdasarkan penjelasan Antoni, keberadaan bambu yang melimpah di sekitar hutan tersisa menjadi penopang utama kerajinan ini.

Bambu tumbuh alami di tepian rimba, kebun, hingga sepanjang aliran sungai. Namun tidak semua bambu digunakan.

Awalnya bambu yang dipilih adalah bambu yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, karena teksturnya yang dianggap kokoh dan mudah dibentuk. 

Melihat potensi itu, Yoga, fasilitator lapangan Pundi Sumatera, mengajak pemuda Suku Anak Dalam dari Desa Pulau Lintang untuk melakukan studi banding ke sentra pengrajin bambu di Desa Lubuk Bedorong, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun.

Adapun waktu tempuh kedua desa sekitar empat jam perjalanan.

Desa Lubuk Bedorong memiliki kekayaan sumber daya alam yang masih terjaga. Termasuk kawasan hutan adat yang dikelola secara kolektif untuk pemanfaatan hasil hutan kayu maupun non-kayu.

Studi banding ini menjadi ruang belajar bagi para pemuda untuk melihat langsung proses pengolahan bambu, sekaligus memahami bagaimana kerajinan berbasis sumber daya lokal dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Menurut Antoni, dari studi banding ini, ia mengetahui jenis bambu yang baik agar cawan tetap awet. Yakni bambu hitam (bambu wulung).

Bambu jenis ini dikenal lebih padat dan tahan lama, sehingga cocok diolah menjadi peralatan rumah tangga maupun kerajinan. Pengetahuan ini kemudian dibawa pulang dan dipraktikkan di kampung.

Yang dimulai dari pemilihan batang bambu hingga cara pengolahannya.

Namun, bambu berkualitas seperti bambu hitam cukup sulit ditemukan di sekitar tempat tinggal mereka. Kondisi ini memaksa Antoni dan teman-temannya untuk memutar otak agar cawan bambu yang mereka buat tetap memiliki kualitas baik.

Mereka mencoba mengoptimalkan jenis bambu yang tersedia, memperhatikan usia tebang, ketebalan dinding, serta proses pengeringan dan penghalusan agar hasil akhirnya tetap kuat, awet, dan layak digunakan.

Meski kualitasnya belum sepenuhnya maksimal, produk kerajinan Cawan Bambu ini telah mulai diperkenalkan dan dipamerkan dalam berbagai acara dan bazar. Baru-baru ini, Antoni mewakili kelompoknya untuk memperkenalkan cawan bambu hasil karya dirinya bersama para pemuda Suku Anak Dalam dalam ajang Jambi Youth Community Fest Provinsi Jambi 2025, yang diselenggarakan di bawah naungan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Kehadiran mereka dalam acara tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas pengenalan produk, sekaligus membuka ruang bagi kerajinan berbasis kearifan lokal agar dikenal oleh khalayak yang lebih luas.

Dalam ajang itu, Gerakan Pemuda Anak Dalam yang diketuai oleh Antoni meraih penghargaan kategori: Komunitas Paling Berdampak dalam Pemberdayaan.

Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upaya kolektif para pemuda SAD dalam mengembangkan kerajinan berbasis kearifan lokal, sekaligus mendorong pemberdayaan dan peningkatan ekonomi komunitas mereka.*

Share:
avatar

Redaksi