Dirut BEI Mengundurkan Diri, Pasar Indonesia Tertekan?

Ekonomi & Bisnis

January 31, 2026

Zulfa Amira Zaed

Dirut PT BEI, Iman Rachman. (credits: CNBC)

SHOCK Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipicu oleh keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait free float dalam dua hari terakhir, menyebabkan pengunduruan diri Direktur Utama (Dirut) PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengundurkan diri, Jum’at (30/1).

“Ini adalah bentuk tanggungjawab atas kondisi Pasar Modal Indonesia selama beberapa waktu ke belakang,”. Demikian mengutip rilis dari BEI, Jum’at (30/1).

Selanjutnya, Manajemen BEI akan menjalankan prosedur sesuai dengan dokumen tata kelola perusahaan dan ketentuan yang berlaku.

Sebelumnya, mengutip rilis dari BEI, telah dilakukan tindakan trading halt (pembekuan sementara perdagangan) sistem perdagangan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, (28/1), pada pukul 13:43:13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS). Perdagangan akan dilanjutkan pada pukul 14:13:13 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan.

Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan IHSG yang mencapai 8 persen.

Mengutip Kompas, IHSG melanjutkan kejatuhan tajam setelah dua bank investasi global, Goldman Sachs dan UBS menurunkan rekomendasi terhadap saham-saham Indonesia. Langkah ini menyusul peringatan dari MSCI mengenai risiko investabilitas pasar modal Indonesia, pada Rabu (28/1).

Dalam pernyataannya, MSCI menyebutkan akan menangguhkan sejumlah pembaruan indeks terkait saham Indonesia sambil menyoroti risiko transparansi, konsentrasi kepemilikan, serta keterbatasan free float pada sejumlah emiten.

MSCI menyatakan langkah tersebut diambil untuk mengurangi risiko perputaran indeks dan risiko investasi dan meminta klarifikasi serta data tambahan dari otoritas pasar Indonesia. Peringatan itu langsung memicu kekhawatiran investor global, mengingat peran Indonesia yang signifikan dalam berbagai indeks pasar berkembang.

Sementara itu, Goldman Sachs merilis catatan riset yang menurunkan pandangan terhadap ekuitas Indonesia. Bank investasi asal Amerika Serikat (AS) itu mengubah rekomendasinya menjadi underweight dari sebelumnya market weight. Analis Goldman Sachs menilai tekanan terhadap pasar Indonesia belum mereda.

Gedung BEI. (credits: Wiki Commons)

Pun Goldman Sachs juga memaparkan potensi dampak capital outflow (arus dana keluar) jika risiko terkait indeks MSCI benar-benar terwujud. Dalam skenario moderat, Goldman Sachs memperkirakan arus keluar pasif dapat mencapai beberapa miliar dollar AS.

Sementara dalam skenario ekstrem, termasuk kemungkinan reklassifikasi Indonesia dari indeks pasar berkembang, potensi arus keluar disebut bisa mencapai sekitar USD 7,8 miliar.

UBS pun mengambil langkah serupa. Bank investasi asal Swiss itu menurunkan outlook terhadap saham-saham Indonesia, dengan menekankan risiko penyesuaian bobot indeks global dan dampaknya terhadap dana pasif yang mengikuti MSCI.

UBS menilai ketidakpastian mengenai status Indonesia di indeks global akan memaksa manajer investasi untuk menyesuaikan portofolio mereka. Proses tersebut berpotensi memicu aksi jual lanjutan, terlepas dari kinerja fundamental emiten.

UBS menilai ketidakpastian mengenai status Indonesia di indeks global akan memaksa manajer investasi untuk menyesuaikan portofolio mereka.

Akibatnya, aksi jual investor, khususnya investor asing, mendominasi perdagangan.

Pasar saham bekerja seperti sistem saraf yang sangat sensitif terhadap sinyal sekecil apa pun. Ketika IHSG mengalami penurunan, yang sebenarnya terjadi bukan hanya aksi jual saham saja.

Tetapi, adalah; ketidakpastian global, kekhawatiran domestik, perubahan kebijakan, hingga dinamika politik yang ikut memengaruhi persepsi risiko.

Investor membeli saham bukan karena kondisi hari ini semata, melainkan karena keyakinan terhadap masa depan. Sehingga, IHSG sangat dipengaruhi oleh sentimen.

Ketika ketidakpastian meningkat, sentimen berubah negatif. Investor cenderung bersikap defensif, mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah, emas, atau bahkan mata uang kuat.

Dalam situasi seperti ini, aksi jual saham menjadi rasional, bukan emosional semata.

Dan, ketika imbal hasil aset di negara maju meningkat, dana global cenderung kembali ke sana. Fenomena ini dikenal sebagai capital outflow. Akibatnya, pasar saham domestik tertekan, nilai tukar melemah, dan biaya pendanaan meningkat.*

Share:
avatar

Redaksi