Laksamana Melaka Dalam Sejarah

Daulat

October 14, 2026

Ahmat Adam*

Ilustrasi Hang Tuah. (credits: Pinterest)

Penciptaan karakter mitos Hang Tuha yang konon bergelar “Laksamana” itu memberikan implikasi bahwa penulis Sejarah Melayu yang kagum dengan orang yang berpangkat Laksamana itu telah menciptakan mitos “Laksamana Hang Tuha” atau “Laksamana Hang Toh” untuk menggambarkan sifat kepemimpinan yang unggul seorang Laksamana Melaka.

DI balik penciptaan kisah fiksi tentang Hang Tuha (Hang Toh) dengan empat orang sahabatnya itu, ketokohan seorang atau lebih dari seorang Laksamana pada zaman kesultanan Melaka memang tidak dapat diragukan.

Pada zaman Sultan Muzafar Syah dan Mansur Syah pun tentu telah ada jabatan Laksamana jika kata, “Ceh! Laksamana lawanku!” yang diungkapkan oleh Hang Tuha ketika ia memekik, dapat dijadikan petunjuk.

Penciptaan karakter mitos Hang Tuha yang konon bergelar “Laksamana” itu memberikan implikasi bahwa penulis Sejarah Melayu yang kagum dengan orang yang berpangkat Laksamana itu telah menciptakan mitos “Laksamana Hang Tuha” atau “Laksamana Hang Toh” untuk menggambarkan sifat kepemimpinan yang unggul seorang Laksamana Melaka.

Di samping itu pengarang Sejarah Melayu pun seolah-olah sengaja memperkenalkan karakter rekaan Laksamana Hang Tuha sebagai cara untuk mengelak daripada menyebut nama Laksamana yang sebenarnya. Dalam pada itu pula, kisah perkelanaan karkater yang dimitoskan itu pun menjadi cerita dalam sebuah cerita panjang, yaitu naratif utama Sejarah Melayu itu sendiri.

Sementara itu, penulis pun menceritakan pula kisah dan tindakan pegawai raja yang benar-benar bergelar Laksamana dengan tidak melanggar tabu nama. Dengan cara itu, terdapat dalam Sejarah Melayu dua orang “Laksamana” dalam penceritaan semasa pemerintahan Sultan Mansur Syah, yakni; seorang yang direka cipta oleh pengarang Sejarah Melayu sebagai bersifat khayalan dan seorang lagi yang merupakan orang yang memang benar-benar memegang jabatan Laksamana ketika karakter mitos Hang Tuha itu sedang menempuh masa remaja.

Seyogyanya diingatkan lagi bahwa mitos utama yang diberikan nama gelar Tuha atau Toh itu hanyalah sebuah naratif yang bersifat alegori yang mencerminkan watak Laksamana yang benar-benar wujud, yaitu seorang yang berkualiti pemimpin dan merupakan ayam tambatan kepada sultan.

Namun, jika Laksamana yang benar-benar wujud itu, yang memang mempunyai sifat kepemimpinan, seperti tercermin dalam pengertian istilah “tuha” dan “toh” sudah meninggaldunia, penulis Sejarah Melayu telah pun mencipta karakter “Laksamana Khoja Hasan” atau Khoja Husin sebagai pengganti karakter mitos Laksamana Hang Tuha dan mungkin juga laksamana Melaka yang sebenarnya wujud yang dikatakan telah menginggaldunia. Seyogyanya dimaklumi, kata khoja atau khojah berasal dari kata Arab dan Parsi: khawaja. Dalam bahasa Arab, kata ini adalah nama panggilan, seperti Tuan atau Tuan Besar (Lord) untuk orang asing.

Dalam bahasa Melayu sebutan “khoja” berkemungkinan telah dipengaruhi oleh sebutan khoja dalam Bahasa Gujarat. Mewujudan golongan bergelar “khoja” di Melaka dapat dibuat inferens melalui kehadiran beberapa karakter yang memakai gelar ini dalam Sejarah Melayu.

Mereka umumnya berperanan sebagai saudagar, tetapi ada juga dalam kalangan mereka yang terlibat dalam kegiatan keagamaan dan tidak mustahil jika ada yang tampil sebagai pembesar dalam masyarakat Melayu. Sekalipun mereka itu bukan berasal Melayu, tetapi sebaliknya orang asing yang beragama Islam, sama ada dari India Utara atau Parsi, mereka telah berasimilasi dengan orang Melayu melalui pernikahan dengan wanita tempatan.

Di balik keagungan yang diberikan untuk golongan khoja ini, saya berpendapat bahwa penulis Sejarah Melayu yang bijaksana itu menyisipkan watak Khoja Hasan atau Husin sebagai pengganti Laksamana Hang Tuha dengan tujuan yang khusus, tetapi dibuat dengan cara yang sangat halus.

Dalam kisah ke-29, sebagai catatan; naskhah Sulalat u’s-Salatin 1798 hanya memiliki 30 kisah, penulis dengan cara yang tidak kentara telah melupakan karakter Laksamana Khoja Hasan, yakni konon setelah ia didapati terlibat dalam komplot pembunuhan Bendahara Seri Maharaja lantaran dirasuah oleh Raja Mendeliar, penulis Sejarah Melayu telah menulis dalam bab itu

“… dan Laksamana Khoja Hasan pun disuruh baginda rampas oleh dia berdatang semba tada dengan periksanya.”

Kapal Melayu “Mendam Birahi”. (credits: Wiki Commons)

“Khoja” ini walau bagaimanapun, tidak dibunuh (Sulalat u’s-Salatin 1798: f. clxxx). Dia dikatakan telah mati dalam bab terakhir Sejarah Melayu versi 1798 dan dikuburkan di Gunung Pentar (Sulalat u’s-Salatin 1798: f. cxc).

Saya berpandangan bahwa penyisipan karakter Laksamana Khoja Hasan sebenarnya mengandungi maksud yang halus oleh pengarang Sejarah Melayu kerana dalam konteks ingin menunjukkan kelemahan Laksamana yang satu ini dia telah menggunakan gelar Khoja, tetapi dengan makna yang lain, yaitu seperti yang terdapat dalam bahasa Parsi.

Khoja dalam bahasa Parsi berarti sida-sida (seseorang yang dikebiri). Pendapat saya diperkuat lagi apabila Laksamana Khoja Hasan dikatakan telah dikuburkan di Gunung Pentar. Penggunaan istilah pentar sebetulnya adalah sebuah kiasan untuk laksamana yang lemah itu kerana pentar berarti lemah (suara).

Menurut saya, karakter Laksamana Khoja Hasan ini pun hanya mitos karena khoja atau sida-sida (salah satu makna lainnya dalam bahasa Parsi) ialah seseorang yang sudah dikebiri atau lumpuh, tidak bertenaga dari segi batinnya.

Metafora yang terkandung dalam kata “khoja” digunakan dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa “laksamana” yang ini langsung tidak mempunyai ciri “tuha” atau “toh” – yakni pemimpin yang dapat dijadikan andalan (orang yang dipercayai) atau taruhan dalam pertempuran. Dalam konteks ini sekali lagi pengarang Sejarah Melayu menunjukkan kekreatifan berfikirnya, yaitu Laksamana ini tidak diberikan nama gelar generik Tuha atau Toh kerana dia bukan seorang perwira yang asli.

Dalam kisah ke-29 Sejarah Melayu, Laksamana yang bergelar “khoja” itu ditunjukkan sebagai seorang yang mudah dirasuah. Setelah mematikan karakter Laksaman Khoja Hasan itu, kebijaksanaan penulis Sejarah Melayu terungkap lagi pada caranya memulihkan gelar Laksamana. Laksamana ini memang wujud hingga ke masa setelah penaklukan Melaka oleh Portugis.

Namun, nama aslinya pun sebenarnya tidak diketahui. Meskipun, penulis Sejarah Melayu yang kreatif itu telah menamakan Laksamana itu “Laksamana Hang Nadim”. Nadim dalam bahasa Arab berarti sahabat, teman yang rapat, atau teman tempat mengadu.

Sebelum munculnya nama gelar Laksamana Hang Nadim memang telah wujud karakter yang juga bernama Hang Nadim yang dalam naskah Sejarah Melayu versi Krusenstern diberikan peranan untuk melarikan Tun Teja, anak dari bendahara Pahang untuk dibawa ke Melaka sebagai “persembahan” kepada Sultan Mahmud Syah. Tujuan Hang Nadim adalah untuk menebus kesalahannya kepada Sultan Mahmud Syah yang murka lantaran Hang Nadim lambat pulang ke Melaka setelah disuruh membeli kain di India.

Penggunaan nama gelar “Laksamana Hang Nadim” pun adalah cara halus pengarang Sejarah Melayu menggantikan karkater fisksi Laksamana Khoja Hasan. Dari segi konsepnya, nama gelar Nadim memang persis seerti dengan nama “Lakshmana” dalam tradisi Ramayana, yang adalah sahabat karib yang setia kepada Seri Rama.

“Nadim”, walau bagaimanapun, tidak pula digambarkan sebagai Laksamana yang memiliki ciri “tuha” dan “toh”. Kendati demikian, penulis Sejarah Melayu secara halus jelas telah melanjutkan penggunaan istilah “Laksamana” itu dengan memilih perkataan Arab: Nadim.

Kesahihan sejarah tentang wujudnya jabatan Laksamana dalam sistem pemerintahan kerajaan Melayu Melaka telah pun dinyatakan di atas. Jabatan ini seterusnya dapat dilihat pada zaman Sultan ‘Alauddin Ri’ayat Syah. Ini dibuktikan oleh dua pucuk surat yang ditulis pada tahun 1480 dan 1481, yaitu masa penghujung pemerintahan Sultan ‘Alauddin Ri’ayat Syah. Dua pucuk surat itu telah dikirim kepada Yang Dipertuan Raja Ryukyu oleh seorang yang menamakan dirinya “Laksamana”.

Laksamana yang namanya dirahasiakan itu telah menyatakan bahwa kedua-dua surat itu dikirim bagi pihak sultan Melaka. Surat pertama bertarikh “Hari ketiga, purnama ketiga, tahun ke-16 pemerintahan Raja Ch’eng-Hua”, berbunyi:

“Surat Laksamana Melaka dengan takzimnya mengadap Duli Yang Maha Mulia Raja Ryukyu.382 Patik ingin memaklumkan bahawa kapal diraja Seri Paduka “Puh Cheh Ta” itu telah mengalami kecelakaan di Laut Annam dan anak-anak kapalnya yang terdampar di pantai telah berperang dengan orang-orang Chiao-chih (kawasan utara Annam). Setelah menerima berita itu, maka patik I.aksamana pun menghantar orang dengan perahu ke negeri Chan-ch’eng (Campa, Annam) dan setelah diperiksa didapati hanya dua orang yang terselamat di Campa. Oleh sebab mengambil masa yang terlalu lama, maka seorang daripada mereka itu telah meninggal dunia. Maka sekarang Duli Yang Dipertuan Raja Ryukyu telah menghantar ke marl seorang duta, seorang jurubahasa bernama Cheng Luoh dan lain-lainnya untuk berniaga, dan sesudah itu mereka pun pulang dengan selamatnya. Oleh sebab patik I.aksamana adalah hamba kepada Seri Paduka Yang Dipertuan Raja Melaka, dan pada masa yang sama juga hamba kebawah Duli Yang Maha Mulia Raja negeri Ryukyu, maka orang itu dikirimkan pulang kepada duli tuanku berserta dengan surat untuk memohon ihsan tuanku supaya dapat menganugerahkan sebilah pedang, sebuah perisai besi dan sebuah pelana.

Patik hamba Duli Yang Dipertuan yang sentiasa berada di sini akan terus selama-lamanya memberikan khidmat yang sepenuh hati pada setiap tahun kepada kapal-kapal dagang seri paduka tuanku sebagai membalas budi baik tuanku.”

Satu lagi surat yang tarikhnya bersamaan 1481 M, tetapi hari dan bulannya tidak dicatat, kecuali bulannya, yaitu “purnama kedua tahun ke-16 Ch’eng Hua”, menunjukkan juga ditulis oleh Laksamana atas nama Sultan ‘Alauddin Ri’ayat Syah. Surat ini walau bagaimanapun, lebih berupa isi yang memuji kebesaran Raja Ryukyu sambil menyatakan waktu datangnya utusan dan jurubahasa yang membawa hadiah.

Surat itu memaklumkan bahwa pedagang Ryukyu itu dibenarkan berniaga di Melaka tanpa sebarang gangguan. Mereka pun telah dianugerahkan minuman arak berwarna yang bermutu dan kemudiannya dibenarkan kembali ke negeri mereka.

Bahwa surat-surat ini diakhiri dengan tandatangan “Laksamana” menunjukkan bahawa status jabatan Laksamana pada zaman itu adalah tinggi, karena orang yang memegang jawatan itu telah diberikan kepercayaan menulis bagi pihak Raja Melaka.

Namun demikian, terdapat sepucuk lagi surat daripada Sultan ‘Alauddin Ri’ayat Syah. Surat ini tidak menyatakan siapa penulisnya, tetapi dikirimkan bagi pihak sultan pada tarikh 16/2/ (yaitu purnama kedua tahun ke-16 Cheng-hua) bersamaan tahun 1480 M.

Dalam surat itu Sultan ‘Alauddinjuga memberikan surat kepada “Seri Paduka ‘ayahanda’ Raja Ryukyu” dan menyatakan harapannya agar diterima dengan ikhlas beberapa barang hadiah yang dikirimkannya kepada Raja Ryukyu itu. Pada penghujung surat itu dinyatakan bahwa ditulis bagi pihak raja, tetapi tidak dinyatakan daripada siapa.

Peneliti, seperti Kobata dan Matsuda menganggap surat ini telah ditulis oleh seorang Laksamana. Akan tetapi, saya berfikir, ini tidak mungkin, sekalipun kelihatanya ditulis sebelum dikirim surat kedua yang menyebut “Laksamana” sebagai penulisnya. Alasan Kobata dan Matsuda ialah bahwa Laksamana ialah neneknda Sultan ‘Alauddin karena ibunya kononnya ialah anak Laksamana.

Maklumat ini diperoleh dari sumber Portugis yang menyebut Sultan Mansur Syah memperisterikan anak seorang Laksamana. Akan tetapi, menurut teks Sulalat u’s-Salatin isteri pertama Sultan Mansur Syah ialah anak Seri Nara Adiraja yang bernama Tun Putih Nur Polam; isterinya yang kedua (yang bukan selir) adalah Puteri Unang Seri dari Pahang yang beranakkan Raja Ahmad dan Raja Muhammad.

Walaupun tidak dinyatakan siapa ibu Raja Husin yang kemudiannya bergelar Sultan Polam atau cucu Seri Nara Adiraja; atau mungkin pula ia cucu Laksamana yang namanya dirahsiakan jika sumber dari Afongso Dalboquerque dapat dipercayai. Sehingga nama penulisnya tidak disebutkan lantaran mematuhi pantangan, besar kemungkinannya surat tahun 1480 pertama yang ditulis atas nama ‘Alauddin itu telah dibuat oleh Bendahara Paduka Raja dan bukanlah Laksamana, karena menurut hierarkinya Bendahara Paduka Rajalah pembesar yang terkanan selepas raja.

Surat ini sangat menarik kerana menyingkap maklumat yang terselindung tentang Raja Melaka waktu surat itu dikirimkan. Dalam surat itu, Sultan ‘Alauddin menyatakan kepada Raja Ryukyu yang dipanggilnya “ayahanda” bahwa ia naik takhta pada usia yang sangat muda, yaitu enam tahun.

Walaupun seperti yang telah dijelaskan bahwa nama sebenarnya Laksamana Melaka tidak mungkin diketahui, peneliti seperti Kobata dan Matsuda, dan terakhir John Miksic masih mengandaikan nama Laksamana dalam dokumen Ryukyu itu ialah Hang Tuah. Pandangan mereka, walau bagaimanapun, hanyalah perkiraan karena mereka dipengaruhi oleh kisah fiksi dalam naskhah Sejarah Melayu dan juga yang utamanya, epik fiksi sejarah Hikayat Hang Tuah yang menyebutkan HangTuah sebagai nama orang yang berpangkat Laksamana.

Namun hingga kini, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa nama Laksamana yang hidup pada zaman Sultan Mansur Syah dan ‘Alauddin Ri’ayat Syah itu dinyatakan. Bahwa pantangan menyebut nama Laksamana itu memang berlaku jelas tidak boleh disanggah.

Sesiapapun yang mengatakan namanya adalah Hang Tuah jelas tersilap. Kendatipun demikian, seperti yang telah disebut di atas, Laksamana ialah jawatan yang benar-benar wujud dalam hierarki pemerintahan kesultanan Melaka dari abad ke-15 hingga ke-16. Sehingga, kewujudan seorang yang bergelar “Laksamana” seperti yang dituliskan dalam Sejarah Melayu memang boleh diakui dan bahkan, dapat dibuktikan ketulenannya berdasarkan sumber lain selain Sejarah Melayu.

Namun, karena kepercayaan orang Melayu kepada “semangat” masih kuat dianuti pada ketika Sejarah Melayu itu ditulis, maka penulis, lantaran berpegang kepada pantangan memberikan nama orang besar-besar Melaka yang diketahuinya telah tidak memberikan nama Laksamana. Sebaliknya, nama samara yang bersifat generik, seperti “Hang Tuha” atau “Hang Toh” telah diciptakan untuk watak mitos yang dikaitkan dengan rombongan Sultan Mansur Syah melawat Majapahit dan kisah pertikaman Hang Tuha dengan Hang Kesturi.

Bahwa jabatan Laksamana itu memang wujud pun disebutkan oleh sumber Portugis. Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud, sekitar tahun 1490, apabila Siam mencoba menyerang Melaka dengan angkatan lautnya yang terdiri daripada 100 buah kapal layar, Laksamana Melaka, menurut sumber itu, telah diminta untuk menghalangi angkatan laut Siam itu di tempat yang bernama Pulau Pisang, dan ia berhasil menumpaskan angkatan Siam.

Namun, kita pun tidak mungkin tahu nama sebenarnya dari Laksamana pada masa itu.

Setelah peristiwa itu, Siam tidak datang menjarah lagi hingga sampailah masa Portugis menduduki Melaka 22 tahun kemudian. Walaupun pandangan umum mengatakan Laksamana ialah sang penguasa di laut, berdasarkan peranannya, seperti yang dilakarkan oleh pengarang Sejarah Melayu, ia sebetulnya seorang panglima cadangan kesultanan Melaka, meskipun pertahanan laut Melaka juga terangkum dalam bidang tugasnya

Menariknya, kisah Laksamana dibawa oleh Sultan’ Alauddin Ri’ayat Syah ( 1477 – 1481) mula-mula ke Pahang untuk menyelesaikan masalah Sultan Muhammad Syah yang mengingkari Melaka dengan bertindak membunuh Telanai Terengganu yang menghadap ke Melaka tanpa memberitahu Raja Pahang itu, dan kemudiannya ke Siak untuk menegur rajanya, Sultan Ibrahim dengan keras karean telah bertindak menghukum bunuh orang tanpa memberitahu kepada Melaka, ialah kejadian yang memang masuk akal dan lantaran itu sangat mendekati kebenaran.

Seyogyanya pula diingatkan, dalam beberapa kisah dalam Sejarah Melayu, yaitu seperti kisah ke-15 (Laksamana berlawan dengan Semerluk), kisah ke-18 (peristiwa Raja Pasai, Sultan Zainal Abidin kehilangan takhta), kisah ke-20 (Melaka menyerang Haru),393 kisah ke-21 (perkara pembunuhan Telanai Terengganu), dan kisah ke-23 (hasrat Raja Melaka meminang Puteri Gunung Ledang), nama Laksamana memang tiada disebutkan.

Namun, walaupun nama Laksamana tidak diketahui, peranan orang yang memegang jabatan Laksamana itu tetap penting dalam sejarah kesultanan Melaka. Bukti sahih bahawa Laksamana Melaka pun pernah mewakili Sutan ‘Alauddin Ri’ayat Syah untuk berutus surat dengan Raja Ryukyu pada sekitar tahun 1480 dan 1481, seperti yang dibincangkan di atas, menunjukkan betapa berwibawanya jabatan Laksamana itu seperti juga berwibawanya Seri Bija Diraja yang diarahkan oleh Sultan Mansur Syah untuk pergi ke Pahang untuk merajakan Raja Muhammad sebagai Sultan Pahang seperti yang ceriterakan dalam Sejarah Melayu (Sulalat ‘s-Salatin 1798: f. ex: 2).

Bagi sejarawan yang berminat tentang tatanegara kesultanan Melaka jabatan orang yang bergelar Laksamana atau Seri Bija Diraja, tentulah menarik perhatian kerana kedua-duanya merupakan hulubalang yang diberikan kepercayaan oleh raja yang menunjukkan hakikat bahwa dalam mewakili Sultan, wibawa itu tidak semestinya diletakkan pada Bendahara sahaja, yang biasanya ditugaskan atau diberikan kepercayaan untuk mewakili Raja Melaka dalam mengambil sesuatu tindakan diraja. Hal ini juga tampak jelas dalam peranan Laksamana menjalinkan hubungan dengan Raja Ryukyu itu.*

*Dinukil, di-translate dan diedit tanpa mengurangi arti, dari buku “Antara Sejarah dan Mitos; Sejarah Melayu & Hang Tuah dalam Historiografi Malaysia”

Share:
avatar

Redaksi