Ketika Populasi Harimau Telah Berlebih

Lingkungan & Krisis Iklim

August 3, 2026

Jon Afrizal

Karikatur Harimau Sumatra dengan latar TNKS. (credits: Lindungi Hutan/Wiki Commons/amira.co.id)

Kompleksitas susunan geligi harimau inilah, yang kemudian, mungkin saja, membuat orang-orangtua di Bumi Melayu memilih harimau sebagai sosok penjaga hutan. Toh, sejujurnya, tidak ada satwa lain yang memiliki alat penyerang yang dapat menyaingi gigi-gigi harimau.

ORANG Melayu di Sumatra memberikan gelar tersendiri bagi harimau (panthera tigris sumatrae). Yakni dengan sebutan hormat dan takut, seperti; Datuk, Inyiak dan seterusnya.

Harimau adalah bagian dari mitologi Orang Melayu. Sebagai mitologi, tentu saja memiliki kebenarannya sendiri, yang berbeda dengan kebenaran umum yang diketahui publik.

Mitologi, sebagai penggambaran detail tentang bagaimana masyarakat berpikir, bertindak dan berharap untuk masa depan. Serta, konsekwensi apa yang dihasilkan dari dari seluruh kepercayaan itu.

Ketergantungan Orang Melayu sejak lama terhadap hutan, dengan segala hasilnya, telah mencipta pemikiran dan seterusnya menjadi kepercayaan, bahwa hutan dijaga oleh suatu sosok (spirit), yang paling kuat diantara satwa-satwa lainnya. Maka, penciptaan itu jatuh pada pilihan: Harimau. Dengan bahasa lain, bahwa Harimau adalah Raja Hutan Belantara.

Sebuah pilihan, yang disadari atau tidak, adalah keunikan tersendiri bagi ilmu pengetahuan yang berkembang selanjutnya. Meskipun, para orang-orangtua di dusun-dusun di Bumi Melayu tidak dapat dengan jelas menjabarkannya.

Mengutip SpaDental, harimau memiliki 12 gigi seri. Yakni, enam di rahang atas, dan, enam di rahang bawah. Gigi ini berguna untuk mencengkeram dan mengikis daging dari tulang.

Dikarenakan rahangnya hanya bergerak naik dan turun, dan, tidak dapat mengunyah ke samping, maka fungsi murni dari gigi-gigi harimau adalah untuk memotong, merobek, dan menelan daging dalam ukuran besar.

Lalu, harimau memiliki empat gigi taring. Sebanyak dua di rahang atas, dan dua di rahang bawah. Gigi-gigi taring yang kuat dan panjangnya antara 6 centimeter hingga 7 centimeter atau mungkin lebih itu, berguna untuk melumpuhkan mangsa.

Kemudian, harimau memiliki 12 gigi geraham depan (premolar). Yakni enam di rahang atas, dan, enam di rahang bawah.

Harimau Sumatra di Melbourne, AustraliaY. (credits: Wiki Commons)

Dan juga, dua gigi geraham belakang (molar), dengan masing-masing satu di setiap sisi rahang atas.

Kompleksitas susunan geligi harimau inilah, yang kemudian, mungkin saja, membuat orang-orangtua di Bumi Melayu memilih harimau sebagai sosok penjaga hutan. Toh, sejujurnya, tidak ada satwa lain yang memiliki alat penyerang yang dapat menyaingi gigi-gigi harimau.

Namun, seiring bertambahnya usia, maka gigi-gigi harimau akan menjadi berwarna lebih kuning. Meskipun gigi-gigi harimau terus tumbuh, namun, nasib harimau yang berusia tua dapat berakhir dengan gigi-gigi yang tanggal (hilang), atau gigi yang rusak.

Kondisi ini menjadi sangat sulit bagi harimau yang telah tua untuk menangkap buruannnya. Selain itu, harimau pun kesulitan untuk memakan makanannya.

Akibatnya, seekor harimau yang telah tua kadang bergerak mendekati pemukiman manusia untuk mencari hewan perliharaan yang dapat dimangsa dengan mudah, ketimbang mencari mangsa di alam bebas, dengan pesaing individu harimau yang lebih muda, kuat, sehat dan gesit. Yang dalam kasanah Melayu, dikenal dengan istilah “Harimau Masuk Kampung”.

Intinya, karena kesehatan gigi yang buruk, maka seekor harimau dapat berada dalam kondisi kelaparan.

Orang Melayu meyakini bahwa kucing (Felis silvestris catus) adalah guru bagi harimau. Terutama karena kucing telah mengajarkan harimau memanjat pohon. 

Jika usia kucing biasa adalah sekitar 5 tahun, maka usia harimau adalah sekitar 10 hingga 25 tahun. Demikian mengutip dari laman Wildcat Animal Conservation.

Secara linguistic, kata “harimau” adalah berasal dari bahasa Melayu lama, yakni: qarimaqun. Demikian mengutip laman The Austronesian Comparative Dictionary.

Harimau Sumatra di Tierpark, Berlin. (credits: Wiki Commons)

Maka, sebagai rumpun besar bahasa Astronesia, Orang Melayu di Sumatra dan Semenanjung Malaysia menyebutnya: harimau. Lalu, kata harimau ini dipinjamkan ke Bahasa Dayak Ngaju di Kalimantan yang menyebutnya: haramaung. Dan, kemudian menjadi halimaw dalam bahasa Tagalog di Filipina. Selanjutnya, menjadi arimo di masyarakat Batak Toba.

Seperti termaktub di Sulalatul Salatin (Kitab Para Raja), bahwa ketika Sang Nila Utama sedang berburu di sekitar Pulau Bintan dan ia melihat seekor hewan, maka Demang Lebar Daun menjawab pertanyaan Sang Nila Utama, bahwa hewan itu adalah Singa (Panthera Leo).

Mengutip Jon Afrizal dalam buku “Debalang Rimnbo; Kosmologi Orang Batin Sembilan”, bahwa besar kemungkinan kata Singa adalah pengaruh dari kepercayaan dari India, yakni Hindu atau Budha. Sebab, satwa Singa sesungguhnya berasal dan hanya ada di Afrika dan sebagian India.

Dan, mungkin saja, hewan sebenarnya yang dimaksud Demang Lebar Daun adalah Harimau Malaya, sebagai sub spesies di Semenanjung Malaka.

Laman Red List dari International Union for Conservation of Nature menyebutkan pada tanggal 15 Desember 2021, panthera tigris berposisi sebagai satwa Endangered (terancam punah). Lalu pada tanggal 17 April 2025 disebutkan bahwa panthera tigris adalah satwa Critically Depleted (sangat sedikit/menurun drastis).

Jumlah panthera tigris secara global pada saat ini, diperkirakan adalah sekitar 3.140 ekor (individu). Dan, jumlah panthera tigris di Indonesia (: Sumatra) adalah sekitar 600-an ekor.

Homerange (wilayah jelajah) satu ekor harimau umumnya adalah sekitar 100 kilometer persegi hingga 200 kilometer persegi. Maka jika luas hutan tropis di Sumatra, tempat asal panthera tigris, mengutip Badan Pusat Statistik adalah 2,5 juta hektare atau 25.000 kilometer persegi, maka, hutan Sumatra hanya mampu menampung sekitar 125 hingga 200 ekor panthera tigris saja.

Jika lebih dari angka maksimal 200 ekor, maka konflik akan terjadi. Baik itu konflik antar individu harimau, maupun konflik dengan manusia.

Sehingga, dengan angka perkiraan sekitar 600 ekor harimau yang ada pada saat ini, maka, hutan Sumatra menyatakan diri: tidak mampu untuk menampung jumlah individu harimau.

Atau, ada penjelasan lainnya?*

Share:
avatar

Redaksi