Jangan Tinggalkan Sampah Di Gunung Kerinci

Lingkungan & Krisis Iklim

August 16, 2026

Junus Nuh/Kota Jambi

“Tugu Macan”, Desa Kersik Tuo, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. (credits: Google Photos)

Tidak semua orang yang menikmati alam, akan berusaha untuk selalu menjaga alam.

PUNCAK Gunung Kerinci (3.805 mdpl) akan dikunjungi banyak orang di hari perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-81, tanggal 17 Agustus 2026 ini. Untuk sementara, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) mendata sebanyak 118 orang yang akan mendaki puncak gunung tertinggi di Pulau Sumatra ini, dari pintu registrasi R.10 Kersik Tuo, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

“Dikarenakan ini adalah momentum HUT Kemerdekaan RI, maka yang melakukan pendakian tidak semuanya hobi mendaki,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala BBTNKS Delfi Andra, mengutip Metro Jambi, Sabtu (15/8).

Ia mengatakan, bahwa petugas akan melakukan kontrol di shelter tiga. Jika dianggap telah penuh sesak, maka, pendaki-pendaki selanjutnya akan ditahan di di Pos Registrasi R.10, untuk tidak boleh naik mendaki.

Sedangkan pada hari-hari biasanya, pihak pengelola menetapkan jumlah pendaki harian adalah maksimal sebanyak 87 pendaki melalui Jalur Kersik Tuo Provinsi Jambi, dan, 50 pendaki untuk Jalur Solok Selatan Provinsi Sumatra Barat.

Para pendaki, katanya, diwajibkan mematuhi arahan yang diberikan petugas pada saat registrasi di pos pintu masuk. Juga termasuk aturan untuk tidak boleh meninggalkan sampah.

Pun pihak BBTNKS menghimbau kepada seluruh pendaki untuk tetap mengutamakan keselamatan. Dan juga menjaga kelestarian ekosistem di dalam kawasan TNKS.

“Jalur Air” di pendakian Gunung Kerinci. (credits: Hype Abis)

Maka, ini akan jadi persoalan. Sebab, tidak semua orang yang menikmati alam, akan berusaha untuk selalu menjaga alam.

Umumnya, setelah hari-hari perayaan, terutama HUT Kemerdekaan RI dan malam pergantian tahun (Tahun Baru), Gunung Kerinci akan dipenuhi oleh begitu banyak orang dadakan yang akan mendaki ke puncak. Namun, persoalan selanjutnya, setelah semuanya pergi, maka yang tersisa adalah sampah-sampah, terutama sampah plastik kemasan makanan dan minuman.

Selanjutnya, para relawan bertugas membersihkan sampah-sampah yang ditemukan. Tentunya hanya di wilayah yang dapat dijangkau saja.

Sementara, jika yang mendaki itu adalah pendaki yang sesunguhnya dan bukan dadakan, tentu secara ketat akan mengikuti rambu-rambu. Yakni; hanya meninggalkan jejak dan hanya mengambil kenangan (photo, video dan ingatan).

Selain itu, seorang pendaki sejati, tentu saja tidak memilih keramaian. Melainkan hari-hari biasa, yang pengunjungnya tidak se-membludak hari-hari perayaan.

Pun, juga tidak tertutup kemungkinan adanya pengunjung nakal yang ingin memetik bunga Edelweis (Anaphalis javanica), dan juga tumbuhan lainnya. Untuk urusan yang seperti ini, petugas sangat ketat, dan pelaku akan dikenai sanksi sesuai aturan hukum yang berlaku, dan menanungi ekosistem TNKS.

Gunung Kerinci berada tepat di tengah TNKS. Taman nasional dengan luas 13.750 kilometer persegi itu berada di empat provinsi; Jambi, Sumatra Barat, Bengkulu dan Sumatra Selatan. 

Terdapat dua jalur pendakian ke puncak Gunung Kerinci. Pertama adalah Jalur Kersik Tuo. Desa Kersik Tuo berada di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

Ini adalah jalur yang disarankan untuk pendakian. Dengan waktu tempuh sekitar 11 jam hingga 13 jam, pendaki akan mencapai puncak Gunung Kerinci.

Peta jalur pendakian Gunung Kerinci. (credits: Gunung Bagging)

Perjalanan dapat dibagi menjadi enam titik, hingga akhirnya sampai ke tujuan: Puncak Gunung Kerinci. Dengan pola enam titik ini, maka diharap stamina pendaki akan tetap terjaga, untuk mencapai puncak.

Jalur kedua, adalah jalur yang cebderung tidak disarankan. Yakni Jalur Solok Selatan. Kabupaten Solok Selatan berada di Provinsi Sumatra Barat.

Mengutip Eiger Adventure, jalur ini kurang direkomendasikan untuk pendakian masyarakat umum. Selain karena medan yang terjal dan berbahaya, waktu tempuh yang diperlukan juga lebih lama.

Selain itu, jalan yang dilalui pendaki juga akan melintasi habitat kura-kura (ordo Testudines). Jika terlalu ramai pendaki yang melewati jalur ini, dikhawtirkan kelangsungan ekosistem akan terganggu, dan dapat merusak kehidupan kura-kura di sana.

Dan, yang juga sangat penting, sebagai penghormatan terhadap Tuhan, maka hargailah alam pegunungan beserta isinya, dan juga manusia dan budayanya yang telah diciptakan-Nya. Tanpa penghargaaan terhadap itu semua, pendakian hanyalah kesemuan belaka.*

Share:
avatar

Redaksi