Bukit Seguntang, Dimana?

Daulat

June 8, 2026

Jon Afrizal

Patung Alexander The Great. (credits: cleopatraegypttours)

Malay Annals (Sulalatu’l Salatin) atau Kitab Para Raja menyebutkan bahwa Bukit Seguntang adalah tempat datangnya Sang Sapurba. Sang Sapurba adalah keturunan Iskandar Zulkarnain. Ia, dikemudian hari menurunkan raja-raja Melayu di Sumatra, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Malaya.

MALAY Annals memiliki setidaknya, 29 versi dalam bentuk manuskrip. Manuskrip-manuskrip ini berada di Indonesia, Inggris, Belanda, dan, Rusia.

Naskah asli, mungkin saja telah mengalami banyak perubahan.

Namun, versi tertua yang masih ada, adalah versi tahun 1612, melalui upaya penulisan ulang ketika wali negeri Johor adalah Raja Abdullah. Dengan penulisan Bahasa Melayu Klasik (Arab – Melayu atau Jawi).

Terdapat banyak kontek mistis di dalam Sulalatu’l Salatin. Namun, para sejarawan menyatakan bahwa naskah ini adalah sumber utama informasi tentang peristiwa masa lalu yang dapat diverifikasi oleh sumber-sumber sejarah lainnya di dunia Melayu.

Tapi, di sinilah persoalannya. Dikarenakan Sulalatu’l Salatin telah mengalami banyak perubahan yang dilakukan oleh beberapa pengarang berikutnya. Kemungkinan terdapat teks atau kejadian yang ditambah ataupun dikurangi pada naskahnya.

Sehingga, kini, sekian banyak versi itu, pun bertentangan dengan beberapa sumber primer sejarah lainnya. Seperti, catatan yang dibuat oleh Portugal dan Belanda, misalnya.

Pertentangan ini membuat Sulalatu’l Salatin yang menceritakan sejarah mengenai kebangkitan, kegemilangan dan kejatuhan zaman pemerintahan Melayu itu, kini hanya menjadi alat klaim kekuasaan dan kompetisi dari para penguasa di Bumi Malayu saja. Dengan mengklaim diri sebagai keturunan Sang Sapurba, maka, marwah pun terbentuk.

Sebab, jika mengacu pada Sulalatu’l Salatin, maka Sang Sapurba yang adalah keturunan Iskandar Zulkarnain, yang turun di Bukit Siguntang (Seguntang). Kelak, Sang Sapurba menurunkan raja-raja Melayu di Sumatra, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Malaya.

Lantas, dimanakah Bukit Siguntang itu?

Pengunjung berziarah ke Keramat Datuk Kerongkong Bebulu, di Bukit Seguntang, Sumay, Provisi Jambi. (credits: Kemenpra)

Jika di Pulau Sumatra, maka setidaknya terdapat tiga wilayah dengan nama yang sama. Dua di Provinsi Jambi, dan satu di Provinsi Sumatra Selatan.

Pertama, Bukit Seguntang di Desa Muaro Sekalo Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Terdapat tiga keramat (makam kuno) di sini.

Satu dari tiga keramat itu adalah makam Datuk Kerongkong Bebulu. Makam ini, menggunakan nisan yang terbuat dari kayu Sungkai (Peronema canescens). Penggunaan nisan, telah menjelaskan bahwa makam itu berasal dari era ketika Islam telah hadir di Tanah Melayu Jambi.

Di sekitar keramat, juga ditemui peninggalan era Hindu-Bhudda, yang kerap dihubungkan dengan keberadaan Maharajadiraja Adityawarman. Sehingga, Bukit Siguntang juga berhubungan dengan Candi Muara Jambi.

Jika mengacu pada “budaya sungai” di Sumatra, maka Bukit Siguntang yang berada di landscape Bukit Tigapuluh adalah wilayah hulu Sungai Batanghari. Tak seberapa jauh dari Bukit Siguntang, terdapat Sungai Batang Sumai, yang mengarah langsung ke Sungai Batanghari. Sedangkan, candi Muara Jambi, adalah di wilayah hilir Sungai Batanghari.

Meskipun, patut untuk dicatat, bahwa di landscape Bukit Tigapuluh, yakni di wilayah Provinsi Riau, juga diketahui terdapat sebuah kerajaan tua, yakni Kerajaan Kandis,. Diperkirakan, Kerajaan Kandis, mungkin saja, pernah berada di Lubuk Jambi, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau.

Dalam folklor Melayu Jambi, Bukit Siguntang adalah tempat bertemunya tiga (perwakilan) penguasa wilayah. Yakni Kesultanan Jambi, Kerinci dan Indrapura. Dalam folklor yang lain, keberadaan Kesultanan Indrapura pada pertemuan itu, berganti dengan Pagarruyung.

Sebab, folklor, adalah seingatan yang menceritakan saja. Dan, begitulah umumnya, folklor di Melayu Jambi, tidak tercatat dengan rapi.

Kedua, adalah Bukit Seguntang, di Desa Batin Pengembang, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Buku History of Sumatra dari William Marsden yang dicetak ulang pada tahun 1811, menjelaskan secara spesifik dengan peta, bahwa Bukit Seguntang berada di sekitar Bukit Bulan wilayah Batang Asai, diantara Limun (Jambi) dan Rawas (Sumatera Selatan).

Peta Jambi dalam History of Sumatra dari William Marsden, tahun 1811. (credits: Wiki Commons)

Tak seberapa jauh dari Bukit Seguntang, terdapat Bukit Lupo. Yakni tempat asal dari Nenek Semulo Jadi. Nenek Semulo Jadi diyakini sebagai nenek-moyang Orang Batin Pengembang. Orang Batin Pengambang, diyakini, adalah keturunan Orang Mataram di Tanah Jawa, dan juga Kerinci. 

Penyebutan nenek di wilayah ini, hingga hari ini, bukanlah merujuk pada jenis kelamin perempuan, seperti pada penggunaan Bahasa Indonesia pada umumnya. Melainkan lebih kepada panggilan hormat dan takut. Nek No adalah untuk perempuan, dan Nek Tan untuk laki-laki.

Orang Batin Pengambang adalah termasuk komunal tertua di wilayah Jambi. Batin Pengambang kerap dianggap sebagai induk dari segala Batin.

Wilayah-wilayah Batin Pengembang adalah; Bangko, Tabir, Jangkat, Sungai Manau, Muara Bungo, dan Rantau Pandan, yang masing-masingnya terletak di Kabupaten Sarolangun,Merangin, Bungo, dan Tebo.

Penggunaan kata “Batin” menunjukan adanya pengaruh Minangkabau, yakni di era pencarian emas di “Kerinci Rendah” di huluan Jambi. Yakni, pada masa ketika Cindua Mato diperintahkan oleh Dara Jingga (Bundo Kandung) untuk mencari emas di wilayah itu. Dara Jingga adalah ibu dari Maharajadiraja Adityawarman.

Dalam keadatan Melayu Jambi, Batin Pengembang bukanlah termasuk wilayah Kesultanan Jambi. Mereka berdaulat dan berdiri sendiri, dan, tidak diwajibkan membayar Jajah (pajak) kepada Kesultanan Jambi.

Orang Batin Pengembang, tidak diintervensi oleh Kesultanan Jambi dalam mengatur warganya, dan juga memiliki adatnya sendiri. 

Ketiga, Bukit Seguntang di Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan. Juga terdapat makam di sini, yang diyakni adalah Makam Raja Segentar Alam dan kerabatnya. Pun juga termasuk peninggalan era Buddha.

Raja Segentar Alam diyakini adalah keturunan Iskandar Zulkarnain. Iskandar Zulkarnain, yang adalah Alexander The Great dari Macedonia (356 SM – 323 SM), yang memang, ketenarannya memasuki sekian banyak naskah Melayu. Tambo Minangkabau pun menyebutkannya.

Dengan berdasarkan mitologi dan folklor, lantas, dimanakah tepatnya Bukit Seguntang tempat turunnya Sang Sapurba?

Atau, mungkin juga ada wilayah-wilayah lain dengan nama yang juga sama?*

Share:
avatar

Redaksi