Virus, Mengisolasi Antar Manusia
Hak Asasi Manusia
May 31, 2026
Paramitha Rajapatni

Ilustrasi isolasi. (credits: neocha)
KISRUH harga minyak dunia, sebagai efek dari Perang Iran dan blokade Selat Hormuz, beriringan dengan kemunculan kembali, setidaknya, empat jenis virus. Virus-virus ini, telah menyebar ke banyak wilayah di dunia.
Keempat virus ini, telah ada sebelumnya, yang adalah; COVID Cicada (BA32), Hantavirus, Super Flu (Influenza A H3N2), dan, Virus Nipah (NiV).
Keempat virus ini, memiliki karakteristik yang sama. Virus-virus ini cepat menular, yang mirip dengan gejala flu, sakit tenggorokan, dan demam.
COVID Cicada (BA32) adalah varian Covid-19 baru. Virus ini terlacak sejak Desember 2025, dengan 75 mutasi spike. Sehingga, virus ini dapat menghindari antibody manusia.
COVID Cicida beredar di AS dan terdeteksi dalam air limbah di 25 negara bagian, demikian menurut laporan terbaru Centers for Disease Control and Prevention. Strain BA 3.2 adalah mutasi dari varian Omicron (BA 1), bernama Cicada sejak seperti serangga, varian memiliki pola menghilang dan kemudian muncul kembali beberapa bulan kemudian.
“Varian ini lebih umum terjadi pada anak-anak dibanding orang dewasa. Tetapi tidak jelas apakah anak-anak benar-benar lebih rentan daripada orang dewasa,” kata Dr. Karen Acker, seorang spesialis penyakit menular anak di Rumah Sakit Anak Anak NewYork-Presbyterian Komansky di Rumah Sakit Anak New York, mengutip NewYork Presbiterian.
Sedangkan Hantavirus, adalah virus ini ditularkan melalui kotoran tikus. Kasus ini mencuat setelah terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius belum lama ini, yang telah menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
Mengutip laman WHO, Hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan kadang-kadang ditularkan ke manusia. Infeksi pada orang dapat mengakibatkan penyakit parah dan sering kematian, meskipun penyakit bervariasi berdasarkan jenis virus dan lokasi geografis.
Hantaviruses adalah keluarga Hantaviridae, dalam urutan Bunyavirales. Setiap hantavirus biasanya dikaitkan dengan spesies reservoir hewan pengerat tertentu, dimana virus menyebabkan infeksi jangka panjang tanpa penyakit yang jelas.

Ilustrasi isolasi. (credits: neurosciencenews)
Meskipun banyak spesies hantavirus telah diidentifikasi di seluruh dunia, hanya sejumlah kecil yang diketahui menyebabkan penyakit manusia.
Adapun gejala awal umum terjadi pada penyakit demam atau pernapasan lainnya, seperti influenza, COVID-19, pneumonia virus, leptospirosis, dengue atau sepsis.
Mencegah infeksi hantavirus terutama tergantung pada pengurangan kontak antara manusia dan hewan pengerat.
Dan, penekanannya adalah, selama wabah atau ketika kasus dicurigai, identifikasi dini dan isolasi kasus, pemantauan kontak dekat, dan, penerapan langkah-langkah pencegahan infeksi standar penting untuk membatasi penyebaran lebih lanjut.
Selanjutnya, Super Flu (Influenza A H3N2), adalah varian influenza musiman yang menyebar agresif pada pertengahan 2025 hingga 2026. Gejala ditandai dengan batuk dan sakit tenggorokan kronis.
Mengutip Halodoc, super Flu adalah sebutan populer bagi varian virus influenza yang jauh lebih agresif. Secara ilmiah, virus ini diidentifikasi sebagai influenza A H3N2 subclade K.
Hingga akhir Desember 2025, Kementerian Kesehatan RI melaporkan setidaknya terdapat 62 kasus super flu yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS). Kasus ini pertama kali terdeteksi masuk ke Indonesia sejak Agustus 2025 dan kini telah tersebar di delapan provinsi. Adapun tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak, adalah; Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan, Jawa Barat.
Terakhir, Virus Nipah (NiV), yang adalah virus agresif yang menyebabkan peradangan otak (ensefalitis) dengan tingkat fatalitas tinggi, dan menular antar manusia.
Virus Nipah, mengutip Halodoc, adalah termasuk dalam genus Henipavirus dan keluarga Paramyxoviridae. Pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 di Malaysia, yakni saat terjadi wabah di kalangan peternak babi.
Gejala virus ini, adalah; demam, sakit kepala, nyeri otot (mialgia), muntah, dan sakit tenggorokan. Lalu; batuk, sulit bernapas, dan pneumonia (radang paru-paru) atipikal. Selanjuntnya; ensefalitis (peradangan otak) yang dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi, kejang, penurunan kesadaran, hingga koma dalam waktu 24-48 jam.
Sehingga, keterlambatan diagnosis dan penanganan dapat meningkatkan risiko kematian akibat infeksi virus nipah.
Maka, dengan kemunculan kembali keempat virus ini, maka akan berdampak sebagai kewaspadaan yang kadang diriingi oleh rasa curiga antar setiap orang, karena ketakutan akan tertular.
Maka yang terjadi selanjutnya, adalah isolasi. Baik itu terhadap suspect, atau, mengisolasi diri sendiri agar tidak tertular.
Yang inti dari itu semua, adalah: adalah kesendirian dan kesepian.
Dan, semua orang yang pernah menjalani tahun-tahun kelam pandemi Covid19, dan masih hidup pada hari ini, memahami arti virus yang sesungguhnya.*
