Nuklir Bukan Energi Terbarukan

Lingkungan & Krisis Iklim

August 4, 2026

Jon Afrizal

Ilustrasi pembangkit nuklir. (credits: Canva)

DENGAN mengacu pada banyaknya definisi pada saat ini, maka energi nuklir tidak terbarukan. Tetapi dalam hal perubahan iklim, produksi energi nuklir tidak melepaskan gas rumah kaca.

Sehingga, mengutip Natural History Museum, energi nuklir adalah bahan bakar rendah karbon.

Energi terbarukan adalah mengacu pada energi dari sumber-sumber yang terus-menerus diisi ulang. Seperti; air untuk bendungan hidroelektrik yang selalu mendapatkan air hujan, atau, sinar matahari yang selalu muncul setiap hari untuk panel surya.

Berbeda dengan tenaga nuklir yang menggunakan bahan bakar radioaktif. Nuklir tidak terbarukan dengan cara yang sama.

Namun, energi nuklir adalah sumber listrik rendah karbon terbesar kedua di dunia, setelah tenaga air. Beberapa peneliti menyatakan bahwa energi nuklir dapat membantu negara-negara termasuk Inggris, untuk mencapai target memproduksi seluruh energi yang mereka miliki, tanpa melepaskan gas rumah kaca.

Ini karena belum ada kapasitas energi terbarukan yang cukup untuk menyediakan seluruh kebutuhan listrik di dunia. Daya terbarukan juga terputus-putus. Misalnya, turbin angin tidak menghasilkan listrik ketika angin tidak bertiup. Meskipun produksi baterai besar untuk menyimpan energi ini meningkat sepanjang waktu.

Ilustrasi energi terbarukan. (credits: FTMM Unair)

Energi nuklir bukanlah tanpa masalah.

Terutama, ketika energi nuklir menghasilkan limbah radioaktif yang harus diangkut dengan aman ke penyimpanan jangka panjang. Di mana radioaktif tidak akan terganggu selama puluhan ribu tahun, hingga bahan itu tidak lagi membahayakan kesehatan manusia atau lingkungan.

Inilah yang sedang berlangsung, dan harus segera dicariakn solusinya.

Sementara Indonesia, adalah negeri tropis dengan sumber daya energi terbarukan yang terlengkap. Negeri kepulauan yang kaya sinar matahari, angin, panas bumi, dan, energi laut.

Meskipun, sebagian besar masih dikembangkan.

Mengutip Renewable Energy, potensi energi terbarukan yang termanfaatkan di Indonesia, baru sebesar 10.400 Megawatt atau 2,5 persen. Yakni; potensi tenaga surya mencapai 207.800 Megawatt, tenaga hidro sebesar 75.000 Megawatt, tenaga angin sebesar 60.600 Megawatt, ioenergy sebesar 32.600 Megawatt, panas bumi sebesar 23.900 Megawatt, dan, berbasis laut sebesar 17.900 Megawatt.

Kondisi geografis yang berbeda-beda dan penduduk yang tersebar di Indonesia, adalah tantangan dalam pemenuhan energi bagi seluruh penduduknya.

Pada tahun 2023, 99,78 persen desa telah terelektrifikasi, menyisakan 0,22 persen yang ditargetkan diselesaikan pada tahun 2024, agar penduduk di pulau terpencil, pegunungan, pelosok hutan juga menikmati akses seperti kita yang tinggal di perkotaan. Sementara listrik penting untuk mengakses kebutuhan air bersih dan sanitasi, kesehatan, informasi dan pendidikan, hingga pengembangan ekonomi lokal.

Sehingga masih perlu diupayakan pasokan listrik yang permanen, andal, dan berkesinambungan sehingga listrik dapat dirasakan merata.

Dengan potensi energi terbarukan yang sangat tinggi, maka Indonesia memiliki peluang dalam memberikan akses energi merata dengan lebih bersih dan berkelanjutan. Per akhir 2023, energi yang berasal dari energi terbarukan adalah sebesar 13.09 persen.

Namun perlu percepatan agar target bauran energi terbarukan sesuai dengan target yang ada di dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), yaitu sebesar 23 persen pada 2025 dan 31 persen pada 2050.*

Share:
avatar

Redaksi