Sejarah Adalah Merawat Luka

Resonansi

March 27, 2026

Jon Afrizal

Kampung Baru di Sungai Batanghari, tahun 1911. (credits: KITLV)

PDF file adalah jendela baru bagi beberapa orang, termasuk aku. Jendela untuk melihat ke banyak tempat, seluas mata memandang.

Begitu juga dengan sejarah sebuah negeri yang berada di bibir (sungai) Batanghari ini. Banyak hal-hal yang hilang atau pun tidak tertuliskan dalam buku-buku sejarah resmi, kini dapat ditemukan.

Terdapat begitu banyak penelitian yang belum sempat dibukukan atau dicetak yang akan kita jumpai. Ada pula cara baru untuk menelusuri jejak sebuah negeri, yang entah mengapa, sejarahnya menjadi kabur ini.

Sejarah bukanlah bacaan berat lagi, tetapi sudah seperti buku-buku ber-genre lainnya. Siap untuk dilahap mata dan dinikmati batin, kapanpun kita mau.

Adalah pernyataan selama ini, dimana, “Sejarah adalah milik para pemenang.” Kini, semua telah berubah.

Sejarah, adalah milik siapapun yang paham untuk menggunakan teknologi dengan baik. Dan, pemenang dari setiap sisi kehidupan saat ini adalah pemilik penguasa data.

Pemukiman di sisi Sungai Batanghari, tahun 1911. (credits: KITLV)

Jika, misalnya, sejarah yang tertuliskan adalah dengan menggunakan bahasa asing, pun juga dapat ditranslate ke Bahasa Indonesia.

Sehingga, jika selama ini sejarah adalah monopoli satu golongan, maka adalah memungkinkan jika saat ini kita semua dapat melakukan rekonstruksi terhadap bagian-bagian sejarah, yang kita anggap tidak tepat itu.

Persoalan di seputar klaim Pulau Berhala, misalnya.

Berdasarkan peta yang dibuat di masa pemerintahan Belanda, pulau berukuran sekitar 2,5 kilomter persegi yang berada di selat yang bernama sama itu adalah dalam gugusan Kerajaan Riau Lingga.

Sebab, jauh sebelumnya, mercusuar di Pulau Berhala telah dibangun oleh Bangsawan Bugis-Melayu Pulau Penyengat, di era perebutan kekuasan dagang antara Portugis dan Belanda di perairan Selat Malaka di tahun 1800-an.

Sehingga, wajar jika Pulau Berhala yang sebelumnya adalah bernama Pulau Hantu ter-detect pada peta kolonial Belanda.

Lantas, kekurangan dalam pemahaman sejarah Jambi, yang selalu berlandaskan folklore atau folktale tanpa dituliskan menjadi buku. Jika pun ada catatan terkait itu, entah mengapa, dan dengan bangganya, kita akan selalu merujuk kepada catatan bangsa asing. Seperti; Koleksi Perpustakaan Leiden atau bahkan catatan pengelana I Tsing.

Sementara, sama kita ketahui, bahwa di era Kesultanan Islam di Nusantara, huruf dan abjad yang kita gunakan bersama adalah Jawi (Arab-Melayu).

Dan atas kebingungan itu, aku layak pula untuk menyandarkan diri pada pdf “Rechtsbronnen van Zuid Sumatra”, sebuah kumpulan naskah aturan hukum era Kesultanan Jambi yang dikumpulkan oleh Mr. L.W.C. van de Berg, yang memuat “Oendang-Oendang Djambi” dalam abjad Jawi.

Sungai Batanghari, tahun 1911. (credits: KITLV)

Sehingga, patut pula kita bertanya, berapa banyak jiwa di era Kesultanan Jambi, yang melek huruf Jawi. Dan, bagaimana ilmu pengetahuan tulis menulis tersebar kala itu.

Jambi, di tahun 2000-an, dengan sikap menggebu-gebu “Mari Rebut Pulau Berhala”, ternyata kalah dengan data otentik milik Kepulauan Riau.

Folklore Jambi tentang Pulau Berhala, tentang Paduka Datuk Berhala dan Putri Selaras Pinang Masak yang pernah bertempat tinggal di sana, di era awal Kesultanan Jambi di abad ke-14 Masehi, ternyata, lagi-lagi tidak tercatatkan dengan baik.

Sejauh ini, jika itu adalah naskah lama, maka pdf berjudul “Undang-Undang, Piagam, dan Kisah Negeri Jambi” yang ditulis ulang oleh Ngebih Suto Dilago Priayi Rajo Sari, adalah catatan otentik yang ku punya.

Dan, Kepulauan Riau, dengan banyaknya catatan-catatan lokal berabjad Jawi, seperti “Gurindam Dua Belas” karya Raja Ali Haji, misalnya, telah menjelaskan bahwa, mereka telah mencatatkan alur kehidupan mereka, sejak lama.

Pun, sejauh ini, kita yang berada di Jambi, masih enggan untuk mencatatkan folklore dan folktale yang kita punya. Namun selalu dengan gigih menyatakan diri bahwa Jambi adalah “sebuah identitas yang telah tertera dalam sejarah Melayu.”

Jika, sebagai contoh, kita di Jambi selalu mengaitkan diri dengan Candi Muaro Jambi sebagai peradaban Melayu, maka Riau akan juga mengaitkan diri dengan Candi Muara Takus, yang seera sejaman.

Terlepas dari persoalan kait mengait dan persaingan lokalitas, lagi lagi, kita akan bertanya dalam hati, catatan apa yang kita di Jambi punya. Yang bahkan, jangankan huruf Pallawa yang tertera di banyak prasasti, abjad Arab Melayu pun hanya sedikit dari kita yang masih mengingatnya, saat ini.

Padahal, hingga kini pun, di beberapa komunal di Jambi, abjad Arab Melayu masih akrab digunakan.

Sehingga, kebingungan kebingungan terkait identitas ini dapat direkonstruksi dengan baik. Merekonstruksi sejarah, adalah, melakukan perbaikan terhadap bagian-bagian sejarah yang telah tercatat secara umum di buku-buku sejarah.

Tentu butuh waktu, dan kesabaran. Sebab, perlu timbang menimbang rasa, guna menghindari pertikaian, terkait kelompok yang sebelumnya dianggap menguasai sejarah secara umum, dengan kelompok yang akan memperbaiki alur cerita sejarah ini.

Tersebab, sejarah adalah luka. Di sana ada pemenang dan pengalah, penindas dan tertindas, penangis dan pentertawa.

Dan juga, ehm, perdebatan panjang tidak berkesudahan atas nama: ego dan gengsi.

Sehingga, merekonstruksi sejarah harus diperlakukan selayak merawat luka. Hingga luka itu benar-benar sembuh, meskipun masih berbakat (: berbekas) di tubuh.*

Share:
avatar

Redaksi