Jebakan Lengkuas Di Dedak Rendang

Lifestyle

November 2, 2026

Junus Nuh

Proses marandang. (credits: Wiki Commons)

DI Sumatra Tengah, rendang selalu menjadi menu favorit di setiap perhelatan. Sebuah penetrasi budaya Minangkabau di dunia Melayu, mungkin demikian.

Rendang adalah lauk pauk berbahan dasar daging yang dimasak dengan suhu rendah dalam waktu lama, antara tiga hingga delapan jam, di belanga. Begitu banyak rempah-rempah yang digunakan, yang tentunya diadu dengan santan kelapa tua.

Umumnya, daging yang digunakan adalah daging yang sekit keras, dan tidak terlalu lembut. Sebab proses mengaduk-aduk di belanga akan menghancurkan daging menjadi serpihan-sepihan, jika daging yang digunakan lembut dan lunak.

Sehingga, daging sapi dan kerbau kerap digunakan.

Selain potongan-potongan daging, rendang juga kerap dihiasi oleh kacang merah atau kentang berukuran kecil.

Sejauh ini, belum diketahui siapa penemu rendang. Tetapi, yang pasti, rumah makan Padang selalu menyediakan menu ini.

Beberapa tahun lalu, sempat terjadi kehebohan, bahwa Malaysia mengklaim rendang adalah milik mereka. Yang sesungguhnya terjadi, hanyalah perbedaan penyebutan saja.

Urang Minangkabau menyebutnya randang, dan di Malaysia disebut rendang.

Bicara mengapa rendang sampai ke Malaysia, dapat dirunut melalui pola merantaunya Urang Minangkabau. Diketahui terjadi dua kali gelombang perantauan Urang Minangkabau, dari tempat asalnya ke Malaysia.

Rendang daging. (credits: Wiki Commons)

Pertama, setelah terjadinya Perang Padri di tahun 1800-an. Dan kedua, setelah peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di tahun 1950-an.

Tentu saja, stigma negatif, yang berujung pada susahnya penghidupan di negeri asal.

Dan, Urang Minagkabau tentu saja tidak keberatan jika Malaysia mengklaim rendang. Sebab, kondisi ini malah menunjukan bahwa Urang Minagkabau telah berbaur padu dengan penduduk asli Malaysia.

Namun, rendang adalah filosofi tersendiri. Bagi keturunan Minangkabau, rendang akan selalu tersimpan di lemari es.

Jika suatu waktu ada tamu datang bertandang, maka rendang pun dapat disajikan.

Cerita orang-orangtua dulu, rendang juga dibawa ketika “Naik Haji”. Pelayaran laut yang memakan waktu berbulan-bulan lamanya.

Rendang, dapat berulang-ulang dipanaskan ketika hendak disajikan. Sehingga lauk pauk ini menjadi tahan sekian waktu lamanya.

Hasil akhir dari potongan-potongan daging rendang, adalah dedaknya. Yang, dapat juga dijadikan penganan lain.

Akan nikmat rasanya jika dimakan bersama dengan pulut putih, atau ketan putih yang ditanak. Atau juga ketupat ketan putih.

Sakit favoritnya, dalam setiap perhelatan, menu rendang selalu menjadi rebutan. Mungkin, adalah sama favoritnya dengan Gulai Kari Kambing sebagai lauk pauk utama hidangan “Nasi Minyak” di Melayu Jambi.

Namun, marandang (merendang) atau memasak rendang adalah seni tersendiri. Sebab, kadang, tukang masak menyisakan beberapa potong lengkuas berukuran besar di dalam rendang yang telah jadi.

Sepintas, potongan lengkuas, yang telah berbaur dengan dedak rendang, akan sangat mirip dengan potongan daging.

Maka, ketika jebakan itu tidak diketahui, dan telah tergigit di gigi, dan, ehm, rasanya tentu tidak sama seperti daging. Sedikit pahit dan sepat.

Beberapa orang mungkin menyukai rendang. Namun, ada juga yang menyukai kaliao.

Kalio adalah proses dari rendang yang belum seutuhnya. Yakni rendang yang masih setengah jadi. Bumbu rempahnya masih berkuah dan berminyak, dan belum menjadi dedak.

Sehingga, daging masih terasa sangat manis.

Berbeda dengan rendang, di kalio, lengkuas masih tampak berbentuk nyata. Sehingga, anda tidak terjebak untuk menyendok dan mengigitnya.*

Share:
avatar

Redaksi