Percepat Penanggulangan Pasca Gempa NTT

Hak Asasi Manusia

August 17, 2026

Nkomo A Gogo

Mapping gempa NTT. (credits: BMKG)

Pemerintah memastikan melakukan langkah-langkah mitigasi, langkah-langkah cepat, dan tanggap darurat cepat di NTT.

SETELAH gempa bumi tektonik M7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi (15/8) pukul 04.58 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengakhiri Peringatan Dini Tsunami pada pukul 07.30 WIB. Berdsarkan catatan BMKG, pergerakan thrust fault (sesar naik) telah menyebabkan guncangan kuat dan potensi tsunami.

“Gempa bumi dangkal berkedalaman 15 kilometer ini bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Hasil analisis pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa bumi berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, atau tepatnya 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT,” kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengutip laman BMKG.

Saat ini, katanya, BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak.

Stasiun pemantauan BMKG mencatat gelombang tsunami tiba di sepuluh titik pesisir, antara lain: Sikka: Ketinggian 0,20 meter (pukul 05.03 WIB); Pelabuhan Kewapante-Sikka: Ketinggian 0,38 meter (pukul 05.16 WIB); Flores Timur: Ketinggian 0,25 meter (pukul 05.24 WIB); Labuan Bajo: Ketinggian 0,36 meter (pukul 05.26 WIB); Maurole-Ende: Ketinggian 0,94 meter (pukul 05.27 WIB); Dompu: Ketinggian 0,17 meter (pukul 05.29 WIB); Bakalang-Alor: Ketinggian 0,14 meter (pukul 05.41 WIB); Baubau: Ketinggian 0,30 meter (pukul 05.47 WIB); Bulukumba: Ketinggian 0,54 meter (pukul 05.58 WIB); dan Kolaka: Ketinggian 0,23 meter (pukul 06.27 WIB)

Warga yang merasakan dampak guncangan gempa tersebut dalam beberapa tingkat skala intensitas Modified Mercalli Intensity (MMI). Skala V MMI (: membangunkan banyak orang tidur dan terasa oleh hampir semua penduduk) telah berdampak pada masyarakat di Kota Ende, Kota Borong, serta Kota Ruteng, dan Skala VI MMI (: mengejutkan semua penduduk hingga berlari keluar) telah berdampak pada masyarakat di Wolowae (Kabupaten Nagekeo) dan Kota Bajawa.

Hingga pukul 07.07 WIB, BMKG mendeteksi sebanyak 37 aftershock (aktivitas gempa bumi susulan) dengan rentang magnitudo M3,6 hingga M6,2, di mana masyarakat merasakan satu gempa bumi di antaranya.

Kondisi Pelabuhan Laurentius Say Maumere di Kabupaten Sikka, NTT pasca gempa. (credits: Antara)

Yakni di busur belakang Flores ini terdapat potensi gempa maksimum M7.8 hingga M7.9. Berdasarkan catatan sejarah, gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1992 dengan kekuatan M7.5 yang menimbulkan kerusakan dan terjadi tsunami. Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores.

Pendataan BMKG, guncangan gempa merobohkan beberapa bagian tembok rumah sederhana di wilayah Maumere, Manggarai Barat, dan Labuan Bajo. Selain itu, gempa juga merusak fasilitas Pelabuhan Maumere dan bangunan Hotel Jayakarta Bajo.

Selain itu, dua orang yang meninggal dunia akibat gempa.

Saat ini, tim BMKG telah ke lokasi terdampak untuk melakukan survei kerusakan secara menyeluruh. Dan, informasi akan terus dipantau dan verifikasi bersama BMKG, BPBD, Pemda, serta unsur terkait. Ini agar didapatkan data resmi terkait total kerusakan dan korban jiwa.

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan pemerintah melakukan gerakan cepat tanggap darurat pascabencana gempa bumi di wilayah NTT. Menurutnya, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan seluruh jajaran terkait, termasuk TNI dan Polri, melakukan langkah-langkah mitigasi, melakukan langkah-langkah cepat, tanggap darurat cepat.

“Utamanya, untuk segera mengatasi keadaan di awal-awal kejadian,” katanya mengutip Antara.

Koordinasi telah dilakukan dengan Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, dan, Kepala Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii. Selain itu, juga dilakukan koordinasi dengan Gubernur NTT Melki Laka Lena untuk memastikan penanganan pascagempa dapat berjalan dengan cepat dan tepat, mengatasi berbagai potensi yang terjadi.*

Share:
avatar

Redaksi