Banyak Teori, Hujan Belum Turun Juga
Lingkungan & Krisis Iklim
October 7, 2026
Jon Afrizal/Kota Jambi

Titik api di wilayah Sumatra Tengah per Selasa tanggal 6 Oktober 2026. (credits: GWIS)
Kabut asap ini bukanlah sebuah prestasi. Melainkan perlambang ketidakbecusan untuk menjaga lingkungan bagi kehidupan manusia kedepannya.
HUJAN belum juga turun untuk menghilangkan kabut asap akibat karhutla. Sejauh ini, kualitas udara Kota Jambi masih bertahan di status “Sangat Tidak Sehat”.
Laporan AQ Air per Selasa tanggal 6 Oktober 2026, udara di Kota Jambi adalah “Sangat Tidak Sehat” dengan angka 268 PM2.5. Konsentrasi polutan PM2.5 di Kota Jambi saat ini, adalah 38,6 kali lebih besar dari nilai panduan PM2.5 tahunan yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO).
Sehingga, meskipun Kota Jambi bersemboyan “Kota Bahagia”, tetapi kondisi kabut asap ini senyatanya, sangat tidak membuat warga bahagia.
Sementara laporan Global Wildfire Information System (GWIS) per Selasa tanggal 6 Oktober 2026, masih terpantau begitu banyak titik api di wilayah Sumatra Tengah. Warna Merah Menyala masih menghiasi peta.
Dan, ini bukanlah sebuah record. Melainkan perlambang ketidakbecusan untuk menjaga lingkungan bagi kehidupan manusia kedepannya.
Murid sekolah berkali-kali harus menempuh Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), bahkan telah satu bulan ini.

Kualitas udara di Kota Jambi per Selasa tanggal 6 Oktober 2026. (credits: AQ Air)
Sementara itu, Rektor Universitas Jambi (Unja) mengeluarkan Surat Edaran Rektor Universitas Jambi Nomor 12 Tahun 2026 tentang “Pelaksanaan Perkuliahan/Pembelajaran Secara Daring”. Surat edaran tersebut ditujukan kepada direktur pascasarjana, dekan fakultas, dosen, dan mahasiswa di lingkungan Unja.
“Sehubungan dengan kondisi kualitas udara di Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, dan sekitarnya yang saat ini berada pada kategori Sangat Tidak Sehat, maka untuk menjaga kesehatan dan keselamatan bersama,” kata Rektor UNJA, Helmi, mengutip Detik, Senin (5/10).
Masih mengutip Detik, pemerintah kembali berupaya untuk mendatangkan hujan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC). OMC yang direncanakan pada 1 hingga 4 Oktober 2026 sebelumnya menghadapi kendala kondisi atmosfer dan jarak pandang yang minim.
Guberrnur Jambi Al Haris mengatakan OMC akam dilakukan kembali pada tanggal 9 hingga 10 Oktober. Sebab, diperkirakan pada tanggal akan ada lagi benih awan hujan.
Dan, hingga hari ini, masyarakat masih menunggu, agar hujan turun, untuk menghilangkan kabut asap dan memadamkan karhutla.*
