Baron Sekender Mati Di Tanah Jawa

Budaya & Seni

August 18, 2026

Jon Afrizal

Ilustrasi Baron. (credits: world4)

Baron Sekender dipuja oleh orang yang terkena masalah hukum, dan memohon petunjuknya.

MEDIO 1960-an. Ketika Pemerintah Kota Weleri melakukan pelebaran Jalur Pantura (Pantai Utara) di sepanjang Kota Weleri, Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah.

Terdapat sebatang pohon asam Jawa (Tamarindus indica) berusia ratusan tahun di depan toko “Abadi” di Kota Weleri. Cerita punya kisah, pohon ini ditanam sejak zaman Herman Willem Daendels memerintah, sekitar tahun 1808.

Untuk tujuan pelebaran jalan, pohon asam itu pun ditebang. Tapi, setelah ditebang, ditemukan arca berwarnahitam setinggi 40 centimeter, di bagian tengah pohon itu.

Aura dari wajah arca tampak kejam. Sehingga tidak satupun orang yang melihatnya yang mau menyimpannya.

Arca itu pun, kemudian disimpan di Klenteng Tridharma Weleri, di Kedonsari, Kelurahan Penyangkringan, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Selanjutnya, arca beraura kejam itu dikenal dengan nama Arca Baron Skeder.

Tokoh Baron Sekeber atau Baron Sekender, adalah cukup unik.

Klenteng Tridharma Weleri, Kendal, Provinsi Jawa Tengah. (credits: Pojok Kendarl)

Di Klenteng Tridharma Weleri, arca Baron Skeber dibuatkan altar pemujaan. Baron Sekeber dipuja oleh orang yang terkena masalah hukum, dan memohon petunjuknya. Dan, hanya di kelenteng ini saja terdapat altar untuk Baron Skeber. Tidak ada di tempat-tempat lainnya.

Serat Babad Pati menyebutkan bahwa Baron Sekeber adalah keturunan bangsawan dari Belanda.

Kakak pertamanya bernama Baron Sukmul, yang adalah raja Negeri Belanda di Kota Amsterdam. Baron Sekeder adalah anak kedua, yang membawahi Inggris dan kerajaannya di Spanyol.

Sedangkan anak ketiga adalah Baron Setember yang menjadi patih dari Baron Sekeder, dan anak keempat adalah Baron Sekeber. Karena ia merupakan keturunan bangsawan, Serat Babad Pati memberinya gelar Raden Baron Sekeber.

Raden Baron Sekeber hidup pada masa pemerintahan Panembahan Senapati, raja Kesultanan Mataram yang pertama (1586 M ‒ 1601 M), dan Adipati Jayakusuma (Adipati Pragola) yang memerintah Pati. Baron Sekeber menolak jabatan yang ditawarkan Baron Sukmul kepadanya, melainkan berniat untuk menguasai Mataram.

Dikisahkan Baron Sekeber samapi ke Tanah Jawa dengan cara terbang di udara menuju timur. Dan, Baron Sekeber telah mempelajari bahasa Jawa di Palembang, sebelum meneruskan niatnya untuk ke Tanah Jawa.

Pada tahun 1666 M, Kyai Mas Hindi atau Pangeran Ario Kusumo memproklamasikan berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam. Ia melepaskan wilayah ini dari pengaruh Mataram, mengubah status kerajaan menjadi kesultanan berasas Islam, dan naik takhta dengan gelar Sultan Abdurrahman. 

Maka, kisah Baron Sekender adalah seperti kisah seorang keturunan Eropa yang berada di Palembang, yang ingin menaklukan Mataram Tanah Jawa.

Lalu, sesampai di Jawa Baron Sekeber dapat bertemu dengan Panembahan Senapati dengan mudah. Mereka segera bertarung satu lawan satu, dan kemenangan diraih Panembahan Senapati.

Baron Sekeber, akhirnya, melarikan diri ke Gunung Muria, dan bertapa di Bukit Patiayam, di dalam sumur dekat mulut gua, yang kini berada di Dukuh Kancilan, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Provinsi Jawa Tengah.

Selanjutnya, Baron Sekeber bertemu seorang gadis bernama Rara Sari atau Rara Suli, di Desa Kemiri, Pati. Dari hubungan Baron Sekeber dan Rara Sari, lahirlah dua putra kembar; Danurwenda dan Sirwenda. Lalu, Adipati Jayakusuma, penguasa Pati emmbawa ibu dan anak itu ke kediamannya.

Peta Kecamatan Weler, Kendal, Provinsi Jawa Tengah. (credits: neededthing)

Selanjutnya, terjadi perselisihan antara Baron Sekeber dengan Adipati Jayakusuma. Baron Sekeber kalah, dan diubah wujudnya menjadi seekor kuda oleh Adipati Jayakusuma, dengan nama Juru Taman.

Jelas, Baron Sekender yang telah berwujud kuda Juru Taman tidak dapat menaklukan Mataram. Ia pun menggila, dengan menggauli seluruh selir-selir raja, terkecuali permaisuri. Dengan cara mengubah bentuk menjadi Raja Panembahan Senapati.

Mengetahui kegilaan yang dilakukan Baron Sekeber, Panembahan Senapati memerintahkan ornag-orang kerajaan untuk membunuh Baron Sekeber. Baron Sekeber pun mati.

Baron adalah gelar kebangsawanan Jerman. Sejarawan Belanda, H.J. de Graaf menyatakan bahwa orang-orang Jawa tidak mengenal gelar Baron, sebelum bertemu dengan Gubernur Jenderal VOC, Gustaaf Willem Baron.

Sehingga besar kemungkinan hikayat tokoh Baron Sekeber terilhami dari banyaknya baron berdarah Jerman yang direkrut oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Seperti; Johan Andries Baron von Hohendorff, GW Baron van Imhoff, dan Baron van der Capellen).

Ahli Sastra Jawa, Theodoor Gautier Thomas Pigeaud menjelaskan bahwa, Hikayat Baron Sekeber berawal dari Hikayat Iskandar Zulkarnaen, saduran dari cerita Arab yang ditulis oleh al-Suri.

Beberapa bagian dari kisah Baron Sekeber dikutip pengarang Sejarah Melayu (1612) dan Serat Sekender (abad ke-19), kemudian dikutip lagi oleh pengarang Serat Babad Pati dengan nama Raden Baron Sekeber. Nama Baron Sukmul kemungkinan berasal dari nama ayah kandung Gubernur Jenderal VOC yang pertama, yaitu Jan Pieterszoon Coen.

Dalam suatu perbincangan dengan Sultan Agung pada tahun 1622, utusan VOC bernama Dr. H. De Haen menanyakan perihal seseorang bernama Juru Taman. Sultan Agung menjelaskan bahwa Juru Taman adalah seorang berkebangsaan Italia yang bekerja kepada ayahnya, Panembahan Hanyakrawati, di bagian kaputren.

Namun, karena ulahnya yang mengganggu para selir raja, ia kemudian dipindahkan ke Krapyak atau hutan lindung tempat raja berburu rusa. Juru Taman juga dipanggil Mas Jenggot karena perawakannya yang tinggi besar dan berjenggot.

Hikayatnya telah mengisi ruang sastra Tanah Jawa di era kolonialisme. Terlepas dari benar atau tidaknya ke-berada-an wujud Baron Skender. *

Share:
avatar

Redaksi