Merangin; Masurai, Hulu Nilo Dan Sumbing

Lingkungan & Krisis Iklim

July 17, 2026

Farokh Idris

Gunung Masurai (2.916 mdpl). (credits: Urban Hikers)

Gunung, bagi penduduk Jambi, adalah suatu tempat yang ditinggikan. Yang artinya, tempat yang disucikan.

TAMAN Nasional Kerinci Seblat (TNKS) seluas 13.750 kilometer persegi, yang terletak di Pegunungan Bukit Barisan, tidak hanya memiliki Gunung Kerinci (3.805 mdpl) saja. Tapi juga terdapat tiga gunung berapi lainnya, yang juga eksotik.

Di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi, wilayah yang Orang Melayu Jambi menyebutnya dengan nama: Kerinci Rendah, terdapat setidaknya tiga gunung berapi lainnya. Yakni; Gunung Masurai (2.916 mdpl), Gunung Hulu Nilo (2.507 mdpl), dan, Gunung Sumbing (2.469 mdpl).

Gunung Masurai, mengutip laman Volcano, pernah meletus sekitar 12.000 tahun yang lalu. Secara administratif, Gunung Masurai meliputi tiga desa. Yakni; Desa Jangkat, Sungai Lalang, dan Sungai Tenang.

Secara botanical, terdapat dua spesies tanaman tropis karnivora berkantung, yang memiliki kemiripan bentuk yang mencolok di Gunung Masurai. Yakni; Nepenthes spathulata dan Nepenthes singalana.

Tanaman-tanaman ini, mengutip Charles Clarke dalam penelitiannya berjudul
“Nepenthes of Sumatra and Peninsular Malaysia”, tidak dapat diklasifikasikan secara pasti ke dalam salah satu spesies itu. Dan tampak memiliki bentuk perantara antara kedua spesies ini.

Gunung Masurai memiliki tiga puncak. Yakni; Puncak Satu (2.600 mdpl), Puncak Lancip (2.750 mdpl), dan, Puncak Utama (2935 mdpl).

Tanda petunjuk Puncak Gunung Masurai. (credits: Just Indonesia Summit)

Umumnya, butuh waktu sekitar delapan jam untuk mencapai Puncak Masurai. Dengan catatan, badan fit dan cuaca mendukung.

Sebelum mendaki, sangat disarankan untuk mencicipi air kopi robusta yang diproduksi warga setempat. Tanaman kopi di sini, ditanam secara alami di ketinggian, dan diproduksi secara manual oleh penduduk lokal.

Perjalanan dan pendakian akan dimulai di desa Sungai Lalang Kecamatan Lembah Masurai Kabupaten Merangin, sebagai jalur resmi. Dari Desa Sungai Lalang menuju Pintu Rimba (1.618 mdpl) adalah sekitar 1 jam perjalanan.

Mengutip Urban Hikers, jalur pendakian gunung ini dirintis pertama kali oleh Tim Ekspedisi Gunung Masurai Mapala Siginjai Unja pada tanggal 1 hingga 8 Agustus 1994, dan Tim Elang Gunung KPA Wanala Elang Gunung Jambi pada tanggal 14 hingga 19 Agustus 1994.

Begitu banyak persimpangan saat menuju Pintu Rimba. Wilayah ini adalah jalur ke ladang bagi penduduk lokal. Dan, belumlah tentu adalah perladangan berpindah, seperti istilah pertanian modern. Sebab, setiap penduduk lokal akan mengenali ladang garapan masing-masingnya, dan tidak saling memindahkan ladang mereka.

Pendakian yang sesungguhnya akan dimulai, dari sini. Dengan vegetasi hutan yang masih rapat, lembab, jalur penuh lumut dan licin.

Selanjutnya, sekitar satu jam pendakian, akan sampai di Shelter 1 (1.815 mdpl). Mengutip Just Indoesisa Summit, disarankan untuk mencari mata air dan menampungnya di Shelter 1. Sebab, sumber air tidak dapat ditemui lagi, hingga ke Puncak Satu.

Dan jika ingin beristirakat sejenak, terdapat camp dengan luas sekitar 4×8 meter. Sebab, track selanjutnya, akan menyita banyak tenaga.

Sebelum mencapai Puncak Satu, akan dijumpai Danau Mabuk (2.533 m). Danau Mabuk ditemukan pada tahun 1997 oleh ekspedisi AM. Lalu, dibuka jalan menuju ke tepi danau pada tahun 1998.

Gunung Hulu Nilo (2.507 mdpl). (credits: Pendakian Gunung)

Danau Mabuk adalah satu dari tiga kaldera (kawah) di Gunung Masurai. Kawah yang kedua adalah Danau Kumbang, dan ketiga adalah Danau Biru (2.100 mdpl).

Danau Mabuk dan Danau Kumbang berada di satu jalur pendakian menuju ke Puncak Masurai. Sedangkan Danau Biru, berada di Desa Tanjung Mudo Kecamatan Jangkat Timur, Merangin.

Pemandangan di Puncak Satu sedikit terbuka. Dari sini, dapat terlihat dua gunung lainnya, yakni; Gunung Sumbing dan Gunung Hulu Nilo. Pun Danau Kumbang juga dapat terlihat.

Gunung Hulu Nilo, tidak ditemui catatan letusannya. Dan, kerap dinyatakan sebagi gunung berapi non aktif. 

Sedangkan Gunung Sumbing, tercatat dua erupsi yang terjadi. Yakni pada tahun 1909 dan pada tahun 1921. Pun, terdapat mata air panas yang ada di barat daya kaki Gunung Sumbing.

Dari Puncak satu, jika ingin ke Danau Kumbang yang luasnya sekitar 2 hektare itu, harus tracking sekitar satu jam lamanya. Namun, dengan jalur dengan sudut kemiringan mencapai 90 derajat. Sehingga, harus berhati-hati.

Gunung Sumbing (2.469 mdpl). (credits: Mapala Siginjai)

Terlebih, jika cuaca berkabut. Seperti halnya gunung-gunung di Pegunungan Bukit Barisan, tentunya butuh pemandu atau teman seiring, agar tidak tersesat di tengah hutan di pegunungan.

Tentang Danau Kumbang, banyak cerita mistik yang kerap didengar. Mitologi setempat, menyebutkan bahwa danau yang banyak terdapat bintik-bintik hitam di pinggirnya, yang mengeluarkan sinar dan mirip kumbang itu, dijaga oleh seorang kakek tua dan seekor naga.

Sepintas, mitologi ini mirip dengan mitologi terciptanya Danau Kerinci. Atau, mungkin saja memang berhubungan. Dan, sejujurnya, belum didapatkan catatan tentang itu.

Namun, sebagai mitologi, dan di alam raya, sudah seharusnya untuk menjaga apa yang diyakini penduduk setempat.

Beberapa pantangan dan larangan yang diharuskan oleh penduduk setempat, yakni untuk tidak buang air kecil dan buang air besar, dan juga mencuci peralatan tracking dengan menghadap langsung ke arah Danau Kumbang. Dan, juga, meskipun tempat ini teramat sunyi, sebaiknya tidak bertindak amoral.

Terlepas dari apapun keyakinan yang dipegang oleh masing-masing orang, adalah lebih baik untuk tidak sombong dan menghormati hal-hal yang kasat mata ketika berada di alam raya. Toh, mencegah lebih baik ketimbang mengobati.

Sebab, gunung, bagi penduduk Jambi, adalah suatu tempat yang ditinggikan. Yang artinya, tempat yang disucikan. Demikian mengutip Jon Afrizal dalam buku berjudul “Debalang Rimbo; Kosmologi orang Batin Sembilan”.

Ke arah puncak, lumut akan semakin melincinkan jalur. Sekitar satu jam perjalanan dari Puncak Satu, terdapat Shelter 2. Bersitirahatlah sejenak. Sebab pendakian masih jauh dan panjang.

Pendakian akan dilanjutkan ke Puncak Masurai, sekitar tiga jam lamanya. Pendakian yang melelahkan pun berakhir di sini.

Tetapi, dengan satu niat, “Jika umur panjang, suatu hari akan kembali lagi”.*

Share:
avatar

Redaksi