Midah Yang Menentang Zaman

Resonansi

July 12, 2026

Jon Afrizal

Ilustrasi Virginia Payne, Bintang Radio tahun 1908. (credits: Sagafra/amira.co.id)

“Mempunyai pendirian sendiri adalah berhadapan dengan pendapat umum. Bertambah kuat pendirian seorang, bertambah banyak ia memanggil penentang.” [Midah; Si Manis Bergigi Emas]

MIDAH namanya. Ia kabur dari dari rumahnya, setelah ia bertemu dengan grup keroncong yang selalu berkeliling di Desa Duri.

Sebagai sebuah karya sastra, Pramudya Ananta Toer memperlihatkan “pertentangan” hubungan antar manusia, dalam novel “Midah; Si Manis Bergigi Emas”. Ini adalah novel Pram yang pertama (stand-alone), yang terbit di tahun 1954.

Dengan setting Jakarta tahun 1950-an, Midah adalah anak dari Hadji Abdul.

Awalnya, Midah adalah anak tunggal. Namun, selanjutnya, Midah mendapat empat orang adik.

Midah mulai tidak mendapat perhatian seperti sebelum adik-adiknya hadir dalam keluarga mereka. Bahkan, ketika ia sakit.

Dengan kondisi ini, Midah pun memilih untuk hanya mendengarkan gramophone seorang diri. Suara yang keluar dari gramophone membuat Midah yang telah beranjak dewasa itu tertarik dengan grup keroncong jalanan, di desanya.

Hingga, suatu hari, Hadji Abdul marah kepada Midah, dan menghancurkan piringan hitam yang biasa Midah dengarkan di gramophone. Midah menyimpan rasa sakit hati itu.

Di sini, konflik mencapai puncaknya.

Lantas, oleh orangtuanya, Midah pun dinikahkan dengan seorang pembesar kaya, Hadji Terbus dari Cibatok. Namun, setelah mengetahui bahwa ia bukanlah istri satu-satunya, Midah pun memutuskan untuk lari dari suaminya.

Victor V Phonograph. (credits: Wiki Commons)

Dengan kondisi hamil, ia terdampar di Jakarta. Ia menumpang di rumah Riah, mantan pembantunya. Selayaknya orang yang menumpang, Midah pun membantu Riah, apapun, yang ia dapat lakukan.

Namun, itu semua tak lama. Dengan kondisi hamil, ia mencari grup keroncong lagi, dan bertemu di kawasan Senen.

Sebagai vocalist di grup keroncong, Midah pun menjadi idola.

Usia kandungannya bertambah banyak, dan ia pun bertemu dengan Min, dan menikah. Namun, Ia terjebak dalam ketenarannya, dan juga kehidupannya. Midah dan Min pun berpisah.

Lalu, Midah pun bertemu Ahmad, dan mereka pun menikah. Ahmad adalah seorang polisi lalu lintas.

Bersama Ahmad, karier Midah terus melejit. Midah bukan lagi hanya penyanyi di grup keroncong saja. Kini, Midah adalah “Bintang Radio”.

Namun, Ahmad mengambil hak asuh atas anaknya, Djali. Dan, suatu hari, Djali hilang dari rumah mereka. Perkawinan mereka pun berantakan.

Setelah berhasil menemukan Djali kembali, Midah pun memutuskan untuk kembali ke rumah, dan untuk kembali pada Ahmad. Ini demi untuk memastikan kondisi buah hatinya.

Sebuah titik, dimana “rumah” adalah sesuatu yang tidak dapat hilang begitu saja, dalam riwayat hidupnya. Rumah, bagi Midah, adalah sebagai sebuah kekuatan.

Sejak kembali ke rumah, Djali pun diasuh oleh ibu dari Ahmad, dan sejak saat itu Midah semakin terkenal, sebagai “Bintang Radio” yang karirnya terus berkibar.

Plot dari karya, adalah hidup siapa saja. Dan dapat saja mirip dengan hidup sesiapapun.

Namun, Pram dari karya ini menegaskan, bahwa hidup adalah pilihan dan konsekwensi. Dimana Midah telah memilih untuk meninggalkan rumahnya demi mengikuti naluri penyanyi keroncongnya.

Namun, pengalaman hidup telah membuat Midah untuk merencanakan kembali alur kehidupannya. Itulah konsekswensi dari pilihan, yang dipilih oleh Midah.

Dan, sesulit atau seberuntung apapun karir seseorang, “rumah” adalah poin terpenting bagi kehidupannya.*

Share:
avatar

Redaksi