Hasan Mustapa, Sufi Dari Tatar Pasundan

Inovasi

April 20, 2026

Jon Afrizal

Hasan Mustapa. ((credits: KITLV)

“Maafkan saya, saya menyesal karena belum mengirimkan apapun, karena saya tidak mampu melakukannya. Bahkan, saya tidak menulis atau menyusun apapun untuk orang lain. Memang benar bahwa saya telah berbicara di depan umum, sesuai dengan posisi harmonis yang telah saya capai dalam kepatuhan pribadi saya terhadap ajaran Muhammad.” Hasan Mustapa

PADA tahun 1903, seorang cendekiawan dan penerbit asal Batavia, Sayyid Utsman bin Aqil (1822-1914) telah melakukan kritik terhadap Hasan Mustapa, dalam sebuah buku berjudul “The protection of religion against the incitements of those who mislead“.

Utsman mengkritik Hasan Mustapa yang menganut doktrin “Ilmu Peyakinan” (Ilmu Meyakinkan). Sebab, menurut Uthman, harus ada kepekaan tentang perlunya mempertahankan perbedaan antara Ketuhanan dan ciptaan.

Mengutip buku “Hasan Mustapa: Ethnicity and Islam in Indonesia” yang diedit oleh Julian Millie, bagi umat Islam di Jawa Barat pada umumnya, Ilmu Peyakinan” (Ilmu Meyakinkan) adalah merujuk pada ajaran di luar kanon yang telah ditetapkan. Dan, bahkan, Hasan Mustapa juga tidak pernah menggunakan istilah ini.

Utsman, lalu, menyurati Hasan Mustapa, dan ia meminta salinan tulisan-tulisan dari Hasan Mustapa tentang itu. Menurut Utsman, banyak orang yang bertanya kepadanya tentang hal itu.

Kutipan diawal tulisan ini adalah surat balasan dari Hasan Mustapa kepada Sayyid Utsman bin Aqil. Susunan kata-kata dengan penuh rendah hati dan sangat tegas dalam keimanannnya, dari Hasan Mustapa.

Lanjutan dari kutipan ini, adalah;

“Ketika saya berbicara di depan umum, saya menggunakan bahasa puitis ketika berbicara tentang iman dan akidah agama, dan saya telah membentuk subjek-subjek ini menjadi sejumlah bait puisi. Beberapa pendengar saya telah menuliskannya, menjadikannya buku kecil. Beberapa orang menyetujui tulisan-tulisan itu, tetapi yang lain menolaknya. Saya tidak ingin berkonflik dengan mereka yang tidak menyetujuinya, dan saya juga tidak ingin menampung mereka yang iri padanya. Saat ini saya tidak memiliki catatan puitis tersebut. Jika saya memilikinya, dan Anda memintanya, saya pasti akan mengirimkannya, tetapi bukan agar dapat dikoreksi oleh Anda atau sebaliknya, karena Allah Yang Maha Kuasa Hakim telah dengan tegas melarang perbuatan semacam itu!”  

Hasan Mustapa lahir di Cikajang, Garut, pada tanggal 5 Juni 1852, dan wafat pada tahun 1930 di Bandung, 1930. Ia adalah penghulu besar, ulama, dan kerap dinyatakan sebagai satu Pujangga Sunda terbesar di Tatar Pasundan.

Pada tahun 1900 ia menulis lebih dari 10.000 bait Dangding yang mutunya dianggap sangat tinggi oleh para kritikus sastra Sunda. Umumnya, danding tulisan Hasan Mustapa membahas masalah Suluk, terutama membahas hubungan antara hamba (kaula) dengan Tuhan (Gusti).

Hasan Mustafa (credits: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie)

Metafora yang sering yang sering digunakannya untuk menggambarkan hubungan itu ialah seperti rebung dengan bambu, seperti pohon aren dengan caruluk (bahan aren), yang menyebabkan sebagian ulama menuduhnya pengikut mazhab Wahdatul Wujud.

Terhadap tuduhan itu, Hasan Mustapa sempat membuat bantahan berupa Injazu’l-Wa’d,fi ithfa-I- r-Ra’d (: membalas seketika sekaligus membekap guntur menyambar). Satu salinan naskahnya masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.

Dangding adalah karya sastra lisan dan tulisan Sunda yang berbentuk puisi terikat yang ditulis berdasarkan aturan pupuh. Pupuh adalah ikatan aturan guru wilangan (jumlah suku kata) dan guru lagu (suara vokal akhir) pada setiap barisnya, yang disesuaikan dengan jenis pupuh yang digunakan. Terdapat sebanyak 17 jenis pupuh.

Danding terdiri dari dua bentuk utama, yakni; Guguritan (bentuk yang lebih pendek dan sederhana) dan, Wawacan (bentuk yang lebih panjang dan bercerita).

Dangding umumnya diciptakan untuk ditembangkan atau dinyanyikan, mengandung nilai sufistik, filosofis, atau pengajaran agama. Tokoh utama dari Danding Sunda adalah Hasan Mustapa.

Kritik terhadap Mustapa ini, beserta tanggapannya, mengungkapkan latar belakang penting untuk memahami sosok dan karyanya. Mustapa adalah tokoh otoritas Islam dalam masyarakat dimana perbedaan tentang cara pandang terhadap agama kerap memicu konflik publik.

Para kritikus merasa yakin bahwa dengan mempublikasikan keraguan tentang kebenaran konsepsi Islam dari Hasan Mustapa, maka akan membuat Hasan Mustapa menjadi tokoh yang dicurigai banyak orang.

Namun, Hasan Mustapa bersedia tampil sebagai penentang ortodoksi publik. Ia sengaja memposisikan dirinya berlawanan dengan konsepsi tentang Islam yang formal dan statis.

Dalam syair-syairnya, ia secara aktif menolak makna yang terpusat, sambil terus mendorong interpretasi kontekstual dan yang berubah-ubah. Ia menunjukkan ketidakpedulian terhadap kepastian ontologis dan epistemologis, lebih memilih untuk menyoroti esensi yang terus berlangsung yang termanifestasi dalam bentuk yang berubah.

Gunung Cikuray (2.841 mdpl), Kabupaten Garut, Jawa Barat. (credits: Wiki Commons)

Syair-syairnya sering merujuk pada ketidakcukupan penjelasan tentang agama dalam aspek formalnya.

Dan di akhir hayatnya, ia menyatakan keinginan untuk dikenal sebagai Bagawan Sirna Dirasa (: Pertapa yang tenggelam dalam perasaan).

Karya-karya Hasan Mustapa adalah menjadi sentra dari gerakan Teosofi, di Bandung selama tahun 1920-an. Pun, karya-karyanya diakrabi oleh anggota Perkumpulan Galih Pakuan (Hati Pakuan).

Hasan Mustapa dibesarkan dalam keluarga Sunda, yang termasuk dalam bangsawan kecil pada masa eksploitasi komersial intensif Jawa Barat oleh Belanda. Ayah dari Hasan Mustapa berasal dari kalangan elit Parakanmuncang, dan memegang jabatan resmi sebagai camat, yang berarti ia mengawasi administrasi suatu wilayah di bawah tingkat kabupaten (kabupaten).

Ayahnya memiliki wewenang atas wilayah perkebunan teh penting di Cikajang, Garut. Ibu dari Hasan Mustapa adalah putri dari seorang camat di sekitarnya, dan diakui sebagai keturunan bangsawan Garut.

Hasan Mustapa dididik di pedesaan telah menjejak dalam renungannya tentang Islam. Pengetahuan mendalam Mustapa tentang berbagai nama dan sifat tumbuhan pada berbagai tahap siklus hidupnya membekalinya dengan berbagai simbol dan metafora yang akan ia gunakan sebagai sarana ekspresi Islam di kemudian hari.

Tahapan kehidupan pohon kelapa, misalnya, atau berbagai bagian pohon kawung (pohon palem gula) dan penggunaannya. Seluruh pengetahuan ini sering muncul dalam karya-karyanya.

Mitos, cerita rakyat, kebiasaan makan, ungkapan idiomatik, dan tradisi Islam populer Urang Sunda telah meninggalkan jejaknya dalam banyak karyanya.

Pendidikan awalnya adalah pendidikan agama, yang diperoleh di sekolah-sekolah Islam di Garut. Ada kemungkinan bahwa ia juga sempat diajar di rumah seorang pemilik perkebunan dan penasihat pemerintah Belanda, K.F. Holle. Sepertinya Holle mendukung Hasan Mustapa, yang memiliki kemampuan akademis.

Namun, ini bertentangan dengan keinginan ayahnya, yang ingin membawanya ber-Haji ke Mekkah. Untuk pertama kalinya, diusianya yang baru berumur delapan atau sembilan tahun, Hasan Mustafa pergi ber-Haji.

Tahun-tahun selanjutnya, dalam beberapa catatan, ia kembali ber-Haji sebanyak dua kali lagi, dan sempat tinggal di Mekkah sekitar 13 tahun lamanya.

Orientalis Belanda dan penasihat pemerintah kolonial, Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) bertemu Hasan antara tahun 1884 hingga 1885, ketika Hasan Mustapa sedang belajar dan mengajar di Mekah.

Pada buku Snouck Hurgronje tentang Mekah mencatat tentang Hasan Mustapa. Bahwa setiap hari di rumah Hasan Mustapa di Mekkah, menjadi tempat berkumpul orang Jawa dan Sunda.

Pengalaman tinggal di Mekkah pun telah membuat Hasan Mustapa terpapar tradisi keilmuan warisan Islam global.

Karya-karya Islami dari Hasan Mustapa, kemudian, sangat ditentukan oleh kedua pengalaman ini. Hasan Mustapa, lalu, mengkombinasikannya menjadi buku “Ajaran Warisan Islam Kita”, satu diantaranya.

Meskipun, karya-karya Hasan Mustapa sangat sedikit yang dibukukannya. Melainkan, para pengikutnya, menerapkan pola “saling salin”, dan menyebabkan karya-karyanya menyebarluas di Tatar Pasundan.

Sekembalinya dari Mekkah, Hasan Mustapa mengajar di sebuah masjid di Garut.

Ketika Snouck tiba di Batavia pada Mei 1889, ia pun bertemu dengan Hasan Mustapa. Dan antara tahun 1889 hingga 1891, Hasan Mustapa berkontribusi pada penelitian Snouck Hurgronje tentang Islam di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Perkenalan dengan Hasan Mustapa telah memungkinkan Snouck Hurgronje untuk menikmati akses mendalam ke masyarakat Islam Jawa. Inilah faktor yang memberikan materi yang kaya pada tulisan-tulisan Snouck Hurgronje selanjutnya.

Dan, Snouck Hurgronje merekomendasikan Mustapa untuk ditunjuk selama dua kali berturut-turut sebagai Hoofd penghulu, yakni pejabat Islam yang ditunjuk pemerintah yang bertanggungjawab atas administrasi hukum Islam di tingkat administrasi Residen.

Jabatan pertama (1893 -1894) adalah di Kota Radja, Aceh (Banda Aceh). Dan jabatan kedua adalah di Bandung (1895 -1918).

Namun, jabatan Hoofd yang disandang Hasan Mustapa telah menuai kritik negatif disepanjang hidupnya.

Hasan Mustapa dihadapkan pada dua ciri khas kehidupan dan karyanya, yakni; kedekatannya dengan pemerintah kolonial dan pandangan keagamaannya yang sangat individualistis.

“Hubungan istimewa” itu yang membuatnya diserang oleh banyak orang, terlebih di tahun 1920-an.

Namun, terlepas dari itu tuduhan itu semua, Hasan Mustapa telah menuliskan karya-karyanya yang paling terkenal. Yakni etnografi tentang orang Sunda, yang bertujuan untuk mempromosikan hukum dan adat istiadat Sunda.*

Share:
avatar

Redaksi