Sejarah Panjang Muslim Di China

Lifestyle

March 25, 2026

Jon Afrizal

Muslim di China. (credits: AFP)

Sejarah Islam di China dapat dirujuk ke tahun-tahun awal Islam. Ketika utusan ʿUtmman ibn ʿAffan (644 – 656 M), khalifah rashidin ketiga, bertemu dengan Kaisar Gaodong di China pada tahun 651 M. Utusan itu bernama Saʿd ibn Abi Wa Wakamarwatiaṣ, paman dari pihak ibu dan sepupu kedua Muhammad SAW. Saʿd ibn Abi Wa Wakamarwatias terlibat dalam pembangunan masjid pertama di China, yakni Masjid Huaisheng di Guangzhou.

ISLAM dibawa ke China pada abad ke-7 M oleh pedagang Arab dan Persia yang menetap di kota-kota pelabuhan di pantai tenggara China. Sebagai minoritas, Muslim di Chian pada saat ini diketahui sebagi sebuah komunal Orang Hui.

Ketika kekaisaran Tiongkok tumbuh, Orang Hui memperoleh etnis minoritas baru dari daerah yang berdekatan yang telah masuk Islam pada abad-abad sebelumnya. Yang terbesar adalah Orang Uyghur saat ini, yang berasal dari pengembara Turki di pegunungan Altai Asia Tengah, di ujung utara Xinjiang yang berbatasan dengan Kazakhstan, Mongolia dan Rusia.

Sejak Revolusi Komunis Tiongkok 1949, pihak berwenang telah memberikan kebebrasan ekspresi otoritas dan budaya di antara orang-orang Uyghur, Hui dan etnis minoritas lainnya. Yang dimulai pada tahun 1950-an, kerika pemerintah Tiongkok menciptakan “daerah otonomi etnis”, seperti Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang, untuk memudahkan etnis minoritas melestarikan tradisi mereka.

Namun, selama Revolusi Kebudayaan (1966 – 1976), kegiatan keagamaan dilarang untuk semua orang Cina, terlepas dari latar belakang etnis.

Mengutip Pew Research Center, sebagian besar orang dewasa Muslim Cina berasal dari 10 kelompok etnis minoritas yang secara tradisional mempraktikkan Islam, dua yang terbesar adalah orang-orang Hui dan orang-orang Uyghur. Sebagian besar Muslim China tinggal di wilayah barat laut negara itu, terutama di daerah Gansu, Qinghai, Ningxia dan Xinjiang.

Otoritas China dan cendekiawan internasional umumnya memperkirakan terdapat 18 juta orang dewasa Muslim di China. Meskipun, angka yang pasti, masih terus disensus.

Masjid Huaisheng di Guangzhou, China. (credits: Google Photo)

Sebagian besar Orang Uyghur dan Orang Hui adalah berpaham Islam Sunni. Namun, tentu saja, terdapat perbedaan dalam penerapannnya.

Secara budaya, Orang Hui, yang memulai periode asimilasi cepat ke dalam budaya China Han arus utama selama abad ke-14. Mereka memiliki banyak kesamaan dengan mayoritas Han, termasuk bahasa China Han dan juga nama keluarga.

Sebaliknya, Orang Uyghur, yang hingga abad ke-21 masih memiliki interaksi terbatas dengan China Han. Terutama ketika Orang Uyghur berbicara, mereka menggunakan bahasa Turki. Mereka juga berbeda dalam penampilan dan budaya dari mayoritas Orang Han.

Selain itu, Orang Hui dan Orang Uyghur berbeda pendapat tentang beberapa tindakan sosiodemografi.

Orang Uyghur, rata-rata, cenderung tidak tinggal di kota-kota dan memiliki lebih sedikit pendidikan dibanding Orang Hui. Pola ini, Orang Hui lebih mirip dengan mayoritas Han.

Menurut sensus Cina tahun 2020, sekitar 17 persen Orang Uyghur berada di kota. Dan, Sekitar 5 persen orang dewasa Uyghur memiliki gelar sarjana atau pendidikan lebih.

Perempuan Muslim di China. (credits: Flickr)

Sementara, sekitar 40 persen Orang Hui dan Han berada di perkotaan. Dan, sekitar 10 persen orang dewasa Hui dan Han berpendidikan.

Hampir 99 persen Orang Uyghur tinggal di satu provinsi, Xinjiang. Sementara Orang Hui lebih tersebar luas, dengan perkiraan 10 persen di Xinjiang dan 42 persen di provinsi barat laut lainnya Gansu, Ningxia dan Qinghai. Selebihnya, tersebar di seluruh negeri, dengan konsentrasi yang signifikan di Henan (8 persen) dan Yunnan (6 persen).

Delapan kelompok etnis mayoritas Muslim yang tersisa, yang membentuk sekitar 10 persen dari kelompok mayoritas Muslim China, yakni; Baoan, DongxiangDongxiang, Kazakh, Kirgiz, Salar, Tajik, Tatar dan Uzbek. Sebagian besar mereka tinggal di provinsi barat laut Xinjiang, Gansu dan Qinghai.

Terdapat pula konsentrasi Orang Kazakh, Kirgiz, Tajik, Tatar dan Uzbek di Xinjiang.

MEnurut data dari Asosiasi Islam China, sebanyak 63 persen masjid China terdapat di Xinjiang, Pada 2014. Yakni sekitar 24.500 unit dari total 39.000 unit masjid di seluruh China.

Peta Jazirah Arab dan China abad ke-7 M. (credits: World History Maps)

Dan, yang lainnya tersebar di provinsi barat laut, yakni; Gansu (12 persen), Ningxia (11 persen) dan Qinghai (3 persen). Sementara 11 persen masjid lainnya berada di bagian lain di China.

Mengutip New Lines Magazine, Muslim di China memiliki tradisi panjang yang memadukan aspek dari konteks budaya mereka.

Sebagaimana prasasti di makam guru besar Hu Dengzhou yang menyatakan, bahkan ketika umat Islam berada di China, mereka melihat diri mereka sebagai bagian dari “pengiriman Dao melalui orang bijak dan guru, dari Adam di Tianfang (Arab) melalui Abraham, Musa, Daud dan Yesus, lebih dari 600 tahun hingga Muhammad.”

Ini semua dapat dijelaskan melalui Kitab Han, sebagai gabungan dari bahasa China dan teks-teks Islam. Dengan penggunaan bahasa yang kaya dari tradisi Buddhis, Taois dan Konfusianisme untuk membuat kosakata teknis dari kanon tekstual Islam Persia dan Arab.

Meskipun sedikit yang diketahui di luar lingkaran itu, namun, tulisannya yang unik mengungkapkan cara-cara vernakular dalam menafsirkan Islam. Yang menunjukkan bahwa Muslim dan China tidak bertentangan.*

Share:
avatar

Redaksi