Meninggikan Adab Dari Ilmu Di Buku Kesultanan Jambi
Resonansi
March 15, 2026
Jon Afrizal

Batik Jambi dengan tulisan “Laa ilaaha illallah Muhammaddar-rasullulah”. (credits: Christine)
DISCALIMER: Mohon ampun kepada segala Datuk dan Nyai, orang-orang tua dan yang dituakan. Bukan anak merasa paling pintar dan berlebih. Anak hanya mengulang tutur kaji orang-orang tua dulu.
JUM’AT (13/3). Aku memenuhi undangan seseorang yang ku kenal, sejak lama, Fuad Abdurrahman. Sebagai penghormatan terhadap relasi antar manusia. Maklumlah, jika anda hidup di Kota Jambi di era tahun 90-an, tentu anda akan saling mengenal, dengan alasan yang sangat khas Jambi, “Dio Anak Siapo?”
Hari Jum’at, adalah hari yang sakral bagi umat Islam. Dan, sakralitas ini, kemudian dipilih menjadi hari pre launching dan bedah buku tentang Sultan Melayu Jambi, dengan judul acara “Menakar Pekerti Mengawal Bukti” di Tempoa Art & Galery.
Sebagai orang yang diundang, tentu aku harus tahu akan diri. Aku hanya mendengarkan dan duduk diam, pun tidak mengacungkan jari untuk bertanya. Meskipun, terlihat sejak awal, diskusi berjalan sangat longgar, dan tidak digiring dengan ketat. Sehingga, yang muncul adalah bahasan-bahasan yang kadang melenceng jauh dari buku yang akan dibahas.
Buku yang dibedah ini berjudul lengkap “Paduka Yang Mulia Sultan Melayu Jambi Sayyid Fuad Abdurrahman: Buku Pertama yang Mengungkap Pewaris, Penerus, dan Pengemban Amanah Sultan Thaha Syaifuddin Sesungguhnya”.
Sebuah judul buku, yang, ehm, sangat panjang, bagiku yang jurnalis, yang terbiasa meringkas kata-kata tanpa mengurangi maknanya.
Buku ini ditulis oleh Putra Legowo, seorang anak muda tamatan Prodi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jambi tahun 2019.

Kutipan dari “Silsilah Raja-raja Jambi” yang ditulis ulang oleh Van Hasselt, 1882. (credits: LDC)
Unpredictable, jika seorang anak muda berani menulis buku tentang sejarah Kesultanan Jambi, yang mencapai ratusan halaman, dalam waktu kurang lebih satu tahun. Dan, ini adalah buku pertama tentang Kesultanan Jambi. Artinya, mungkin saja, akan ada buku-buku lanjutannya.
Padahal, aku yang juga penulis buku, yang telah menyelesaikan belasan buku, hanya mampu menulis tidak lebih dari 200 halaman per buku, dalam setahun. Sebuah perbandingan, yang endilalah.
Sebelumnya, sekitar dua bulan lalu, aku pernah bertemu Putro, demikian panggilannya, di rumah Fuad Abdurrahman.
Lantas, aku pun mengenalkan kepadanya tentang kegunaan e-book dan toko bernama Google Playbook Store. Dan, sepertinya ia memahami itu.
Sebagai jurnalis, aku pun bertanya, yang mungkin pertanyaanku terdengar aneh baginya. Aku maklumi saja, sebab tidak semua orang memahami tujuan jurnalis bertanya. Padahal, sejujurnya, pertanyaan-pertanyaan ini adalah caraku untuk mengetahui alasan inti, mengapa buku ini diterbitkan, dan mengapa ia berani menerbitkan buku ini.
Klausul pertama, penulis telah mewawancarai sumber utama, yakni Fuad Abdurrahman. Disebut sumber pertama, karena buku ini, sebenarnya, adalah biografi atau genealogi Fuad Abdurrahman. Dengan gelar KDYMM Sayid Fuad bin Abdurrahman Baraqbah, Fuad Abdurrahman ia telah dinabalkan menjadi Sultan Jambi Daarul Haq di aula Sultan Thaha, Bandara Sultan Thaha, pada Kamis (28/7) tahun 2022 lalu.
Klausul kedua, penulis juga telah mewawancarai sumber-sumber pendukung. Yakni kerabat kesultanan, dan juga Datuk dan Nyai, yakni orang-orang yang dituakan, yang memahami tentang sejarah Kesultanan Jambi.
Maaf, aku menggunakan kata Datuk (: untuk laki-laki) dan Nyai (: untuk perempuan), karena sejauh yang ku ingat dan ku praktekan, hanya kata Datuk dan Nyai yang kami gunakan di Kota Jambi ini, sejak lama, sebagai kata tunjuk orang untuk menyebutkan penghormatan terhadap para orang-orang tua dan yang dituakan. Dan, pusat Kesultanan Jambi adalah di Kota Jambi, dengan Kedaton (keraton) Jambi yang berada di areal Masjid Agung Al Falah, pada saat ini.
Artinya, secara sosio linguistik, bahasa di Kota Jambi adalah bahasa yang digunakan Kesultanan Jambi. Meskipun, bahasa selalu berkembang seiiring jaman, dan tidak mundur jauh ke belakang. Sehingga, jika pun ada istilah lain, untuk kedua kata tunjuk orang itu, sungguh, aku baru mendengarnya sekarang ini saja.

Gerbang samping istana Sultan Djambi terakhir (Sultan Thaha), sekitar tahun 1954. (credits: LDC)
Klausul ketiga, penulis juga telah meletakan dasar penulisan buku ini pada penelitian Yusdi Anra, seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya Prodi Arkeologi Universitas Jambi. Katanya, penelitian yang dilakukan memakan waktu 30 tahun lamanya.
Dan, pada bedah buku itu, selayaknya para akademisi, Yusdi Anra menyatakan bahwa, “Data dibalas data, dan buku dibalas buku.” Sebuah pernyataan umum dari setiap penulis, aku pun, yang tidak lagi akademisi, juga akan selalu berkata begitu tentang buku-buku-ku.
Namun, cukup, ehm, unik, karena yang berkata demikian bukanlah Putro Legowo, sang penulis buku.
Sayangnya, bagi aku yang telah keranjingan internet sejak era akhir ‘90-an, ketika setiap orang masih akrab dengan mIRC dan istilah “ASL PLZ”, dengan berbagai cara browsing di internet, aku belum dapat menemukan penelitian yang dimaksud.
Dan, senyatanya, apa yang keluar dari kampus bukanlah kebenaran mutlak. Tetapi, adalah benar jika kampus adalah cara untuk mencari kebenaran.
Klausul keempat, penulis mengatakan pernah bermimpi tentang Sultan Thaha. Terlepas dari apapun pemahaman kita tentang “mimpi”, bahwa apapun yang selalu kita pikirkan, akan hadir di alam bawah sadar, dan berwujud sebagai mimpi. Dan, pada saat itu, Putro sedang berpikir keras untuk menyelesaikan buku ini.
Keempat alasan itu, biasanya, telah cukup sebagai alasan terkait penulisan buku. Tentunya, harus juga dibarengi dengan proses cross check, editing dan seterusnya.
Namun, entah mengapa, di akhir sesi bedah buku, tetiba, datang seorang perempuan bernama Ayu. Yang sebelumnya juga dikenalkan oleh Yusdi Anra, sebagai pembicara. Dan, lagi, Yusdi Anra menjelaskan telah melakukan penelitian terkait keluarga Ayu itu. Padahal, nama Ayu tidak tertera di undangan.
Ada yang mengganjal di pikiranku. Bahkan, hingga hari ini.

Acara bedah buku Sultan Melayu Jambi. (credits: Jon Afrizal/Amira.co.id)
Ayu, sepertinya aku juga kenal dia. Dan, kami juga pernah berada di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang sama, di tahun 80-an lalu.
Ayu, mengatakan, memang ia tidak diundang. Tapi ia bersyukur bahwa sebuah informasi telah membawanya ke acara ini. Ia, dengan nada keras, memprotes dua hal, tentang; buku ini dan juga tentang penabalan Sultan Jambi. Bahwa, menurut penuturan Ayu, ia juga adalah keturunan Sultan Thaha.
Aku mulai risih. Ada apa ini sebenarnya?
Dan, ku akui, perdebatan-perbedatan panjang dan melelahkan ini, yang membuat aku, hanya sesekali saja menulis tentang Kesultanan Jambi. Sebab, setiap tulisan selalu memiliki deadline. Dan, secara jurnalistik, perdebatan-perbedatan panjang dan melelahkan akan sangat tidak menarik untuk dibaca oleh publik.
Mari kita kembali ke sejarah lampau. Tentang suami dari Puteri Pinang Masak yang bernama Tok Putih atau Ahmad Barus II atau Sayyid Ahmad Ahmad Tajudden. Ia adalah penyebar Islam di wilayah Pulau Berhala (Pulau Hantu) hingga ke Selat Malaka, di tahun 1400-an. Sehingga, kini, kita semua mengenalnya dengan sebutan Datuk Paduka Berhala.
Datuk Paduka Berhala yang dimakamkan di Pulau Besar, negeri Melaka, Malaysia, adalah anak dari Syeikh Sultan Ariffin Sayyi Ismail, yang hidup di tahun 1300-an. Gelar “sultan” di sini, jika merujuk pada cerita rakyat Melaka, dan bukanlah karena ia adalah raja yang memerintah sebuah wilayah kerajaan, melainkan karena keahliannya dalam bidang agama Islam.

Makam Sultan Taha di Muaro Tebo, sekitar tahun 1954. (credits: LDC)
Ia juga dikenal dengan nama Wali Lanang. Ia, yang bertempat di Pulau Besar, adalah seorang guru ngaji bagi Sunan Bonang (Raden Maulana Makhdum Ibrahim) dan Sunan Giri (Raden Paku).
Syeikh Sultan Ariffin Sayyi Ismail adalah keturunan seorang sufi bernama Sultan Al-Awliya’ Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani.
Sehingga, bicara tentang Kesultanan Jambi, adalah tidak melulu terkait bukti-bukti otentik saja, melainkan, sama seperti ajaran para sufi, Meninggikan Adab Dari Ilmu.
Apakah kita semua telah Meninggikan Adab Dari Ilmu?
Apakah kita semua telah meninggikan adab, yang selanjutnya menjadi adat, yang termaktub dalam “Lohok Tiga Laras” dan “Undang-Undang Jambi” yang telah dicacat ulang oleh almarhum Ngebi Sutho Dilogo Priyayi Rajo Sari? Serta berbagai undang-undang lainnya, yang telah disahkan oleh Kesultanan Jambi.
Wallahu a’alam Bissawab.*
