Otoritas Dan Genealogi Habaib Di Indonesia
Resonansi
January 23, 2026
Ahmad Muhajir dan Afra Alatas*

Tulisan “al-Kasib Ḥabib Allah” (: orang yang bekerja keras mencari nafkah adalah orang yang paling dicintai Allah) di atas lengkungan di sebuah masjid di Istanbul, Turki. (credits: Wiki Commons)
Berdasarkan kajian ilmiah dan fakta DNA, kebenaran mengenai hubungan silsilah antara para habaib dengan Nabi Muhammad SAW masih menjadi perdebatan. Perdebatan ini menimbulkan kekhawatiran atas potensi perpecahan di antara Muslim tradisionalis di Indonesia.
HABAIB (habib) sangat dihormati dan dihormati oleh orang muslim di Indonesia, hanya berdasarkan hubungan mereka dengan Nabi Muhammad. Akibatnya, orang dapat berasumsi bahwa tantangan dan perdebatan terhadap garis keturunan mereka dapat mengakibatkan perubahan sikap terhadap otoritas mereka, atau pembalikan reputasi mereka.
Namun, otoritas dan reputasi habaib beraneka ragam; garis keturunan bukan satu-satunya aspek, melainkan, ada berbagai faktor sosio-historis dan sosio-religius yang berkontribusi pada otoritas mereka. Jadi, terlepas dari tantangan terhadap garis keturunan mereka, otoritas dan reputasi mereka harus tetap utuh.
Namun, perdebatan tentang garis keturunan Ba’Alawi di Indonesia pada saat ini tentu belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan lebih mengejutkan, mengingat Imaduddin Utsman Al-Bantani adalah bagian dari komunitas Muslim tradisionalis terbesar, sebuah komunitas yang menumbuhkan penghormatan dan cinta kepada keturunan Nabi Muhammad.
Perdebatan itu telah memberi energi bagi kelompok muda Islam di Indonesia dari kedua belah pihak untuk menggali jauh ke dalam catatan masa lalu yang masih ada.
Sehingga, wajah-wajah baru cendekiawan Muslim Indonesia menonjol karena keterlibatan mereka dalam debat ini. Mereka memanfaatkan teknologi digital dan komunikasi Internet untuk menyebarkan temuan dan pemikiran mereka.
Seluruh materi perdebatan, mulai dari catatan, artikel, risalah dan video, hingga buku-buku Arab yang digunakan sebagai referensi, sebagian besar tersedia di internet. Penggunaan teknologi mereka juga mempercepat pengumpulan data dan bukti dari tokoh-tokoh relevan yang tinggal di luar negeri. Perkembangan dalam komunitas Muslim Indonesia terbesar ini patut dicermati.
Tidak akurat untuk berpikir bahwa perdebatan ini mewakili persaingan antara kiais (cendekiawan Islam non-Arab) dan habaib.
Tokoh-tokoh senior NU telah mengindikasikan secara eksplisit atau implisit bahwa mereka masih percaya bahwa Ba’Alawi adalah keturunan Nabi Muhammad. Gus Yahya Staquf, ketua umum NU, telah sangat jelas dalam hal ini.
Ia menyatakan bahwa, “Tidak perlu mencari catatan untuk menerima garis keturunan Ba’Alawi. Kita hanya perlu mengikuti apa yang dikatakan mayoritas ulama Islam kita sebelumnya tentang mereka.” Demikian mengutip NU Online tahun 2023.

Pencarian Kota Tarim, Hadramaud di laman Islamic World Educational, Scientific and Cultural Organization (ICESCO). (credits: ICESCO)
Tokoh-tokoh senior lainnya menghargai perdebatan tentang garis keturunan Ba’Alawi sebagai latihan akademis dan merekomendasikan untuk tidak menyebarkan kebencian dan tuduhan. Kiai Said Aqil Siradj, mantan ketua umum NU, tertawa setelah menyebutkan bahwa “Menurut Kiai Imad dari Banten, semua habaib di Indonesia adalah palsu”.
Ia melanjutkan bahwa, “Anda dapat menanggapinya dengan cara ilmiah, bukan dengan menunjukkan kemarahan. Tunjukkan dengan data dan fakta bahwa habaib kita adalah benar keturunan nabi.”
Kiai Miftachul Akhyar, ketua dewan pengawas NU, memberikan saran untuk, “Terus mencari dan Anda akan menemukan buktinya. Jika semangat latihan ini bersifat akademis, maka, teruslah mencari.”
Namun, ada fakta yang mengkhawatirkan. Perdebatan tidak dilakukan hanya dengan cara ilmiah saja.
Ini melibatkan kampanye yang bermuatan emosional dan terpolarisasi di media sosial (medsos) dan mimbar keagamaan oleh para penantang dan pembela habaib.
Seluruh muatan emosional ini, menimbulkan kekhawatiran atas potensi perpecahan di antara Muslim tradisionalis.
Namun, terlepas dari perkembangan ini, Ba’Alawi telah dan terus berperan dalam sejarah, kehidupan keagamaan kontemporer, dan urusan sosial-politik.
Sehingga, sudah sepatutnya, muatan emosional dapat dihindarkan. Jika ingin tetap saling mendebat, bersikaplah sebagaimana keilmuan mempertahankan argumennya.*
*dinukil dari analisa berjudul “The Debate on the Ba‘Alawi Lineage in Indonesia: Highlighting Weaknesses in the Genealogical Records”
