Siklon Senyar, Sumatra Darurat Bencana
Hak Asasi Manusia
November 29, 2025
Junus Nuh

Petugas SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban longsor di Toboh Tangah, Nagari Malalak Timur, Agam, Sumatra Barat, Kamis (27/11). (credits: Antara Foto)
BANJIR terjadi di tiga provinsi di Sumatra; Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Data terkini dari BNPB per Kamis (27/11), 48 korban tewas dan 88 hilang di Sumatra Utara, sembilan orang tewas di Sumatra Barat, dan 30 orang tewas di Aceh.
Badan Meteorolog Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan hujan deras yang menyebabkan banjir besar dan longsor di banyak tempat itu disebabkan oleh siklon Senyar.
“Dengan status Darurat Bencana Daerah, maka pemerintah mengerahkan menurut undang-undang kedaruratan kebencanaan untuk memberikan bantuan semaksimal mungkin,” kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, mengutip Kompas TV, Kamis (27/11).
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), katanya, juga sudah menginstruksikan agar pemerintah daerah yang terdampak banjir untuk menggeser anggaran dari pos lain untuk penanganan bencana. Sebab, ini adalah masalah kemanusiaan yang harus diselesaikan secepatnya, dan semaksimal mungkin.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf telah menetapkan status tanggap darurat di wilayahnya setelah sejumlah kabupaten dan kota di provinsi tersebut terendam banjir dan longsor, KAmis (27/11). Status tanggap darurat berlaku selama 14 hari, sejak tanggal 28 November hingga 11 Desember 2025.
“Akses transportasi Banda Aceh menuju Medan lumpuh setelah jembatan yang menghubungkannya ambruk akibat banjir,” katanya, mengutip BBC.
“Pemerintah Aceh melalui SKPA telah memberikan bantuan penanganan bencana,” ujarnya.
Di Aceh, menurut Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), banjir dan tanah longsor telah terjadi di 20 dari 23 kabupaten/kota. Banjir pun telah merendam lahan pertanian, dan memutus jaringan listrik dan telekomunikasi.
Di Sumatra utara, sebanyak 13 kabupaten/kota terendam banjirdi Sumatra Utara (Sumut) beberapa hari terakhir menyebabkan 47 korban meninggal dunia, hingga Kamis (27/11).

Evakuasi korban di Desa Batugodang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, Rabu (26/11). (credits: Kompas)
“Hingga hari ini total ditemukan 123 korban, 47 meninggal dunia,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, Kamis (27/11).
Sembilan orang masih dinyatakan hilang dan 67 orang lainnya mengalami luka berat maupun luka ringan.
Sementara itu, Humas Polda Sumatra Utara, Komisaris Besar Ferry Walintukan, menyebut dampak bencana terparah terjadi Tapanuli Utara dengan 40 titik mengalami longsor dan 12 wilayah terendam banjir. Sebanyak 12.000 jiwa dilaporkan terdampak gelombang bencana banjir.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatra Barat per Kamis (27/11) pukul 22.00 WIB, menyebutkan sebanyak 21 orang meninggal dunia, tiga orang hilang, dan empat lainnya mengalami luka-luka akibat bencana banjir dan tanah longsor.
Banjir dan tanah longsor terjadi di 13 kabupaten/kota di Sumatra Barat. Pemprov Sumatra Barat telah menetapkan status tanggap darurat, pada Selasa (25/11), yang berlaku selama 14 hari, hingga 8 Desember.
“Satu daerah terdampak cukup parah adalah bantaran Sungai Minturun di Kota Padang. Empat orang meninggal dunia di wilayah itu,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulis, Kamis (27/11).

Kondisi di Lubuk Minturun, Kota Padang. (credits: BNPB)
Menurutnya, arus banjir dengan volume debit air besar menerjang sejumlah rumah yang berada di bantaran Sungai Minturun. Material batang pohon dan lumpur merusak rumah warga di Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padang.
Mengutip situs resmi BMKG, bibit Siklon 95B di kawasan Selat Malaka, bagian timur Aceh telah berevolusi menjadi Siklon Tropis Senyar per 26 November 2025 pukul 07.00 WIB. Pantauan terakhir, siklon ini bergerak ke arah barat menuju wilayah daratan Aceh dengan kecepatan sekitar 10 km/jam dan dapat berdampak signifikan terhadap potensi terjadinya hujan sangat lebat hingga ekstrem yang dapat disertai angin kencang di wilayah sekitarnya.
“Kondisi ini meningkatkan suplai air di perairan hangat Selat Malaka yang memicu pertumbuhan awan konvektif di bagian utara Sumatra. Saat ini Siklon Tropis Senyar berpusat di sekitar 5.0 derajat LU dan 98.0 derajat BT dengan tekanan udara minimum di pusat mencapai sekitar 998 hPa dan kecepatan angin maksimum di sekitar sistem mencapai 43 knot (80 km/jam),” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, Rabu (26/11).
Menurutnya, dalam 24 jam ke depan, Siklon Tropis Senyar bergerak ke arah barat hingga barat daya dan masih di daratan Aceh dengan kecepatan pergerakan 4 knot (7 km/jam). Selanjutnya, dalam 48 jam kedepan Siklon Tropis Senyar diperkirakan akan menurun intensitasnya menjadi Depresi Tropis.
Cuaca ekstrem, katanya, tetap berpotensi terjadi sebagai dampak lanjutan, sehingga potensi dampak bencana hidrometeorologi masih harus diwaspadai terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatra Barat, dan sekitarnya dua atau tiga hari ke depan.*
