Retorika Karhutla – Kabut Asap
Lingkungan & Krisis Iklim
October 17, 2026
Jon Afrizal/Kota Jambi

Kondisi Karhutla – Kabut Asap di Provinsi Jambi dan sekitarnya, per hari Jum’at tanggal 16 Oktober 2026. (credits: AQ Air)
Api dapat menyebar justru karena adanya reaksi berantai yang tidak terhambat akibat proses pembakaran, serta energi panas yang menjaga bahan bakar tetap berada di atas titik nyala.
MASIH di seputar retorika-retorika Karhutla – Kabut Asap. Dan masih gini gini aja.
Laporan AQ Air per hari Jum’at tanggal 16 Oktober 2026, kualiytas udara di Kota Jambi masih berstatus “Sangat tidak sehat”. Dengan angka 210 PM2.5, dengan konsentrasi PM2.5 saat ini adalah 26,9 kali lipat lebih tinggi dari nilai panduan PM2.5 tahunan yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO).
PM2.5 adalah partikel yang mengambang di udara dengan ukuran diameter 2,5 mikrometer atau kurang dari itu. Ukuran PM2.5 yang sangat kecil, sehingga dapat diserap ke dalam aliran darah saat bernapas.
Polutan ini berasal dari sumber buatan manusia, sumber daya alam atau diciptakan oleh polutan lainnya. Seperti; pembakaran yang dihasilkan dari pembangkit listrik, asap dan jelaga dari kebakaran hutan dan limbah pembakaran, emisi kendaraan dan pembakaran dari motor, dan juga, proses industri yang melibatkan reaksi kimia antara gas, seperti; sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan senyawa organik yang mudah menguap.
Polutan ini dapat menyebabkan ancaman kesehatan yang sangat besar bagi mahluk hidup, terutama manusia.
Efek jangka pendek, adalah; iritasi pada mata, tenggorokan, dan hidung, detak jantung tidak teratur, batuk, nyeri dada, sakit tenggorokan, sesak napas, dan, serangan asma.
Sedangkan efek jangka panjang, adalah; penyakit pernafasan seperti bronkitis, asma, emfisema, kerusakan jaringan paru-paru, kanker, serangan jantung, stroke, dan, kematian dini.
Sejauh ini, di era Karhutla – Kabut Asap ini, yang dapat dilakukan oleh manusia, adalah; mengindari aktifitas di luar ruangan, menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor, mengenakan masker saat berada di luar ruangan, dan, menggunakan air purifier (alat pemurni udara).
Laporan Global Wildfire Information System (GWIS) per hari Jum’at tanggal 16 Oktober 2026, masih terdapat begitu banyak firespot (titik api) di wilayah Sumatra Tengah, dengan tanda Merah Menyala. Sudah seharusnya api dipadamkan, karena kondisi kebakaran tidak dapat untuk didinginkan.

Ilustrasi Tetrahedron api. (credits: ReAgent)
Mengutip ReAgent, api adalah reaksi eksotermik yang berkelanjutan, yang terjadi ketika bahan bakar dalam fase padat, cair, atau gas mengalami oksidasi cepat. Proses ini dikenal sebagai kombusi (pembakaran), dimana reaksi itu melepaskan panas, cahaya, serta memicu reaksi kimia lebih lanjut.
Meskipun dapat melibatkan berbagai reaksi lain, pembakaran pada dasarnya dicirikan oleh penggabungan bahan yang mudah terbakar dengan zat pengoksidasi. Ketika bahan bakar dan zat pengoksidasi dipanaskan hingga melampaui suhu tertentu, reaksi kimia eksotermik akan terjadi dan terus berlangsung berkat energi panas tambahan yang dihasilkan secara berkelanjutan oleh reaksi itu.
Sehingga, agar api dapat tercipta melalui proses pembakaran, maka diperlukan empat elemen utama. Hubungan ini, biasanya, dapat digambarkan melalui konsep tetrahedron api.
Tetrahedron api adalah representasi dari elemen-elemen yang diperlukan agar api dapat terjadi. Keempat sisi tetrahedron tersebut adalah bahan bakar, zat pengoksidasi (biasanya oksigen), energi panas, dan reaksi berantai yang tidak terhambat.
Bahaya dari reaksi kimia ini terletak pada sifatnya yang dapat berlangsung secara berkelanjutan. Api dapat menyebar justru karena adanya reaksi berantai yang tidak terhambat akibat proses pembakaran, serta energi panas yang menjaga bahan bakar tetap berada di atas flash point (titik nyala).
Panas dari kobaran api mampu memanaskan bahan bakar di sekitarnya, baik itu berupa kayu maupun cairan yang mudah terbakar. Jika bahan bakar di dekatnya dipanaskan hingga melampaui titik nyala, gas-gas yang mudah menguap akan dilepaskan seiring dengan perubahan bahan bakar itu ke fase gas.
Pada tahap ini, kobaran api dapat menyulut gas-gas dan menyebar. Selama masih tersedia bahan bakar dan oksigen, api akan terus merambat.
Adapun faktor utama yang menyebabkan api untuk merambat, adalah gravitasi. Dimana gas-gas panas yang ada pada api memiliki suhu yang lebih tinggi dan massa jenis yang lebih rendah dibandingkan udara di sekitarnya.
Sehingga, gas-gas itu bergerak ke atas menuju area dengan tekanan yang lebih rendah. Inilah penyebab mengapa api cenderung merambat ke arah atas, dan juga alasan mengapa bentuk kobaran api tampak meruncing ke atas.
Secara umum dan klasik, antonym (lawan kata) dari api adalah air.
Secara konsep elemen (sifat dasar), dapat dijelaskan bahwa api melambangkan unsur panas, pembakaran, atau energi yang menyala. Sementara air melambangkan unsur dingin dan sifat yang dapat memadamkan api.
Dimana api yang aktif akan membakarkan seluruh keadaan dan kebendaan di sekitarnya. Secara kontras, sebagai keadaan terakhir, hasil akhir dari proses pembakaran dari api, adalah; abu (: ash – English).
Sehingga, abu adalah perlambang dari kepunahan, secara kebendaan dan keadaan.
Proses menuju kepunahan inilah yang selalu dilakukan di setiap musim kemarau, sejak tahun 1990 lalu.*
