Psikopat Atau Sosiopat?
Lifestyle
June 25, 2026
Mahendra Wisnu

Karakter Harley Quinn dari DC Comics. (credits: Spokesman)
PSIKOPAT dan sosiopat, adalah sama-sama penyakit jiwa, yang umumnya dikaitkan dengan Antisocial Personality Disorder (APD). Tetapi, keduanya tentu saja berbeda.
Baik psikopat maupun sosiopat adalah gangguan mental yang disebabkan oleh rusaknya bagian otak yang mempengaruhi fungsi kognitif. Namun, area kerusakannya berbeda.
Secara ilmu jiwa, kedua kriteria ini akan mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) dan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ III).
Pengidap psikopat, mengutip Halodoc, memiliki kecenderungan untuk “menggunakaan topeng”. Kemampuan kamuflase seorang psikopat berasal dari sifat manipulatif dan penuh perhitungan.
Jika dilihat dari luarnya, pengidap gangguan mental psikopat ini sama seperti orang awam pada umumnya. Mereka dapat bergaul dan menempatkan diri dengan sangat baik di lingkup sosialnya.
Pun dari tampilan fisik, pengidap psikopat tampak karismatik, memikat dan cenderung memiliki otak cerdas. Karena tampilan fisik yang menarik dan struktur otak berbeda, sangat sulit untuk bisa mendeteksi karakter psikopat.

Film “Psycho” tahun 1960. (credits: Fandom)
Dalam merencanakan aksinya, pengidap psikopat penuh perhitungan dan matang.
Psikopat memiliki bentuk otak yang berbeda dengan orang biasa. Mereka memiliki sedikit materi berwarna abu-abu pada bagian otak, yang berguna untuk berempati atau memahami emosi orang lain.
Adapun gejala psikopat, adalah; memiliki harga diri yang tinggi, sering menipu orang lain, manipulative untuk mendapatkan kendali atas orang lain, tidak memiliki penyesalan atau rasa bersalah, cepat marah atau memiliki emosi yang dangkal, dan, tidak memiliki empati.
Ini tentu berbeda dengan Sosiopat. Sosiopat juga memiliki sikap licik dan manipulatif.
Tetapi, pengidap sosiopat juga adalah pembohong ulung, terlepas dari kepribadiannya yang terlihat tulus. Dan, mereka lebih suka mengasingkan diri dari lingkungan sekitarnya.
Sosiopat memiliki emosi yang labil, cenderung berantakan dan impulsif. Mereka terlihat sembrono dan cenderung bertindak tanpa memikirkan konsekuensi setelah perbuatannya.
Pengidap sosiopat juga cenderung terlihat tidak sabar, lebih mudah menyerah pada spontanitas dan minim persiapan.
Gangguan mental sosiopat dapat muncul sebagai akibat dari cacat otak bawaan. Namun, pola asuh orang tua juga memiliki potensi tinggi dalam perkembangan perilaku pengidap.
Adapun gejalanya, adalah; sering melanggar hukum atau norma social, ceroboh atau tidak memikirkan keselamatan diri sendiri atau orang lain, tidak memiliki rasa tanggungjawab, tidak merasa menyesal setelah menyakiti orang lain, sulit membuat rencana hidup dalam jangka panjang, sering berkelahi dengan orang lain, berbohong, dan, menipu.

Film “The Silence And The Lambs” (1991). (credits: Bloomsbury)
Secara sederhana, pengidap psikopat sama sekali tidak kenal takut, sementara sosiopat masih memiliki rasa takut. Psikopat juga tidak memiliki kemampuan membedakan benar dan salah, sementara sosiopat memiliki, tapi tidak memperdulikannya.
Intinya, baik psikopat dan sosiopat, keduanya sama-sama dapat membahayakan orang lain dan orang terdekat di sekitar pengidap. Biasanya gejala awal akan terlihat pada remaja mulai berusia 15 hingga 18 tahun.
Meskipun, baik psikopat maupun sosiopat memiliki kecendrunagn untuk “salah” secara norma dan aturan, namun tidak semua dari pengidap gangguan adalah pelaku kriminal.
Namun, kedua penyakit jiwa ini dapat diciutkan. Meskipun, kemungkinan untuk sembuh total teramat sulit.
Terdapat tiga jenis pengobatan bagi penderita psikopat dan sosiopat. Kesemuanya sangat tergantung dengan diagnosa.
Yakni; psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif, terapi berbasis mentalitas, dan, terapi psikodinamika. Lalu, konseling kelompok.
Dan terakhir, adalah; pemberian obat antidepresan, anticemas dan antipsikotik.
Yang patut digarisbawahi, adalah, seseorang dengan kondisi psikopat yang tidak segera mendapat penanganan dapat menunjukkan penurunan kualitas hidup, masalah pada interaksi sosial, hingga berbagai kondisi kesehatan lainnya.
Beberapa kondisi lainnya, yakni; kecanduan alkohol atau narkoba, melakukan pelecehan atau tindak kekerasan, sering melakukan tindak kriminal yang berujung masuk penjara, melakukan pembunuhan atau bunuh diri, dan, sering menunjukkan tanda depresi atau gangguan kecemasan.
Sebelum semuanya terlanjur, adalah lebih baik untuk menghubungi psikolog atau psikiater.*
