Kopi Robusta Dari Sepenat Unggul
Ekonomi & Bisnis
June 18, 2026
Jon Afrizal/Muara Kilis, Tebo

Biji kopi Robusta di KTH Sepenat Unggul. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
BENTANG Alam Bukit Tigapuluh (BABT) menyita banyak persoalan. Landscape yang berada di Provinsi Riau dan Jambi ini terus berhadapan dengan alih fungsi lahan.
Landscape seluas 500.000 hektare ini telah berubah fungsi dari hutan untuk menjadi perkebunan monokultur, permukiman, dan, pertambangan. Pembukaan lahan yang diawali dengan illegal logging pun telah meciutkan ruang hidup satwa liar.
Data dari WWF Indonesia menyebutkan bahwa tutupan hutan yang tersisa di landscape ini hanya sekitar 191.400 hektare saja. Dimana, seluas 140.000 hektare telah menetapkan oleh pemerintah sebagai Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) pada tahun 1995 lalu.
Namun satwa liar, adalah tidak mengenal batas-batas yang ditetapkan sebagai TNBT ini. Satwa, tetap mengikuti home range yang mereka kenal sejak lama, sebelum semaunay berubah.
“Keterlanjuran” ini pun harus dibarengi dengan berbagai inisiatif. Satu dari inisiatif itu, adalah: agrofestry. Agrofestry dapat diartikan sebagai tanaman berbagai jenis yang mirip dengan tegakan pepohonan hutan, namun dapat bermanfaaat secara ekonomi bagi petani di BTNBT.
Terdapat lima Kelompok Tani Hutan (KTH) yang didampingi WWF Indonesia di BTNBT di Kecamatan Tengah Ilir Kabupaten Tebo Provinsi Jambi. Yakni; KTH Sepenat Unggul, KTH Dusun Jelapang, KTH Bukit 30, KTH Bukit Indah Makmur, dan KTH Wono Lestari.

Mengolah biji kopi dengan cara tradisonal. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Adalah Suyati (70), satu dari 15 anggota KTH Sepenat Unggul, di Desa Muara Kilis Kecamatan Tengah Ilir Kabupaten Tebo. Ia adalah satu-satunya anggota perempuan di KTH ini.
Awalnya, Suyati menanam karet (Hevea brasiliensis) di lahan seluas 1 hektare. Namun, beberapa waktu lalu, ia mendapatkan bantuan beberapa puluh bibit dari WWF Indonesia. Setidaknya dua kali, ia telah mendapatkan bibit tanaman, seperti, bibit kopi robusta (Coffea canephora), dan juga meranti (Dipterocarpaceae).
Sebut saja ini adalah kebun campur. Dimana berbagai jenis tanaman di tanam di satu tempat.
Sehingga, nilai secara ekonomi pun dapat digilir per tanaman, sesuai masa panennya.
Berbekal pengetahuan sebelumnya tentang bertanam kopi, maka kopi yang ditanam Suyati telah menghasilkan. Setiap kali panen, ia dapat menjual biji kopi dengan harga IDR 50.000 per kilogram. Selebihnya.biji kopi diolah untuk dikonsumsi sendiri.
“Pola ini membantu saya. Setidaknya, penghasilan saya pun bertambah,” katanya.
Namun, ia dan petani karet lainnya, juga kerap menghadapi penyakit “akar putih” pada tanaman karet mereka. Juga termasuk rayap. Sejauh ini, belum ada solusi untuk persoalan ini. Pohon karet dapat roboh dalam waktu tidak ditentukan.
“Kami membenihkan bibit-bibit itu secara mandiri. Dan kebutuhan setiap anggota disesuaikan dengan bibit yang diiinginkannya,” kata Sofwan, Ketua KTH Sepenat Unggul.
KTH ini memiliki cerita lama berkonflik dengan HTI PT Wira Karya Sakti (WKS). Namun, sejak beberapa tahun lalu, wilayah mereka telah diakui, dan petani dapat berkegiatan dengan tenang.
Selain tanaman yang bernilai ekonomi cepat seperti kopi dan karet, petani pun menanam bibit meranti untuk mendapatkan kanopi hutan. Tapi, sejauh ini, menanam meranti bukanlah persoalan mudah.
“Hampir 70 persen bibit yang ditanam mati,” katanya.
Sehingga, katanya, petani butuh bantuan dalam hal penyuluhan. Agar tujuan forestry tercapai.
Sebab, meranti adalah tanaman forest yang sesungguhnya.*
