Extreme Heat Dan Pembelajaran Dari Terakota
Inovasi
November 7, 2026
Farokh Idris

Mohenjo-daro, Pakistan. (credits: Wiki Commons)
TERAKOTA bermakna umum sebagai: tembikar yang terbuat dari tanah liat. Penggunaan prinsip terakota, diketahui terjadi di sepanjang masa sejarah manusia.
Ketika, untuk pertama kali ditemukan, bahwa tanah liat dikeringkan di bawah sinar matahari setelah dibentuk. Dan lalu diletakkan di atas abu api unggun dengan tujuan untuk membuatnya menjadi keras.
Selanjutnya, teknologi pun berkembang, dimana pembakaran dilakukan dengan menggunakan tungku. Tetapi, produk terakota dapat juga digolongkan sebagai materi keramik, jika dilakukan pembakaran dengan suhu yang tinggi.
Secara kimia, produk terakota digunakan sebagai katalis heterogen. Dengan tujuan untuk memutus rantai panjang alkana.
Proses ini bertujuan untuk mendapatkan produk-produk turunan yang lebih bermanfaat. Seperti; bensin yang berasal dari bahan yang tidak bermanfaat, seperti rantai panjang alkana berkekentalan tinggi.
Dalam dunia seni, jika dibandingkan dengan pemahatan pada bahan perunggu, prinsip Terakota menggunakan cara yang jauh lebih sederhana dan dapat menekan biaya produksi. Selain itu, jika dibandingkan dengan patung marmer dan hasil karya batu lainnya, maka hasil karya Terakota, jauh lebih ringan secara berat, dan, dapat diglasir untuk menghasilkan produk dengan warna atau ketahanan yag lebih baik.
Para arkeolog masih meneliti secara mendalam terkait dua situs terakota di Mohenjo-daro dan Harappa, yang sekarang masuk ke dalam wilayah negara Pakistan dan India. Keduanya terdaftar sebagai situs WArisan Dunia UNESCO.
Kedua situs itu adalah dua situs perkotaan besar di Lembah Sungai Indus, sekitar tahun 2.600 Sebelum Masehi (SM). Dan menjadi satu pemukiman perkotaan pertama di dunia, bersama-samn dengan peradaban Mesir Kuno, Mesopotamia dan Yunani Kuno.
“Permukaan Terakota memungkinkan air menguap secara perlahan, dan membawa hawa panas dan sekaligus mendinginkan ruang di sekitarnya,” kata Adithya Pradyumna, peneliti kesehatan lingkungan dari Universitas Azim Premji di Bengaluru, mengutip Scientific American.

Harappa, India. (credits: Wiki Commons)
Menurutnya, berdasarkan prinsip ini, katanya, maka banyak arsitektur di perkotaan di India kembali beralih ke prinsip Terakota. Dengan tujuan untuk mendapatkan solusi pendinginan pasif yang baru.
Material bagi pendinginan pasif ini, meliputi; tanah liat, ubin berlubang, layar berventilasi, dan fasad. Material-material ini menciptakan ventilasi alami, dan membantu perpindahan panas dan kelembaban dari dalam ruangan ke luar ruangan.
Bahkan, melalui desain yang sedemikain rupa, air juga didistribusikan di keseluruhan permukaan terakota. Yang selanjutnya, air pun menguap dan dapat digunakan untuk menurunkan suhu di sekitarnya.
Prinsip Terakota, setidaknya dapat menjadi alternatif di masa Climate Change ini. Sebagai pengganti dari penggunaan Air Conditioner (AC).
India dan sekitarnya kerap mengalami Extreme Heat. Tercatat sebanyak 700 jiwa terdampak Extreme Heat pada tahun 2024.
Pendinginan pasif pada desain bangunan telah digunakan untuk mengatur suhu dalam ruangan dengan bahan alami, ventilasi strategis dan shading yang terkontrol dengan baik. Pola ini memberikan hasil yang maksimal di wilayah Mediterania dan tempat-tempat kering atau semi kering lainnya.
Seperti di bagian dari Pacific Northwest. Di wilayah sini, penelitian menemukan bahwa pendinginan pasif dapat mengurangi beban AC hingga 70 persen.
“Penurunan suhu sederhana dengan prinsip Terakota secara signifikan dapat membantu tubuh manusia mendinginkan dirinya dengan lebih efisien, terutama di dalam ruangan,” katanya melanjutkan.
Sehingga, dengan kembali ke prinsip Terakota, maka secara tidak langsung juag berhubungan dengan pengurangan penggunaan energi fosil pada sektor energi dan kosntruksi.*
