Jangan Saling Tuding; Sumatra Masih Terbakar!

Lingkungan & Krisis Iklim

August 24, 2026

Jon Afrizal/Kota Jambi

Kondisi udara di Sumatra per 22 Agustus 2026. (credits: IQ Air)

Adalah percuma untuk mengklaim bahwa kabut asap berasal dari satu wilayah, yang terkirim ke wilayah lainnya. Sebab, begitu banyak wilayah yang “menyala” di Sumatra.

UDARA bersih semakin sulit untuk didapat di Musim Karhutla (fire season) di penghujung bulan Agustus 2026 ini. Di Provinsi Jambi, mengutip laman IQ Air, udara di Kota Jambi per 22 Agustus 2026 menunjukan angka 153 PM 2.5 dengan kategori Tidak Sehat.

Bau asap mulai terasa menyengat di indera penciuman. Dan asap mulai terlihat memekat per pukul 11.00 WIB, Minggu (23/8).

Jika berada di luar ruangan, setiap orang sangat disarankan untuk menggunakan masker yang selalu dibasahi dengan air, untuk mengurangi dampak asap yang dapat menyebabkan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Dan, gunakan kaca mata serta tetes mata untuk menghindari mata yang perih akibat kabut asap.

Sungguh, kondisi yang tidak disarankan untuk keberlangsungan hidup setiap mahluk hidup. Meskipun, kabut asap akibat Karhutla di Provinsi Jambi telah terjadi sejak tahun 1991 lalu.

Pun begitu dengan Sengeti, ibukota Kabupaten Muarojambi, menunjukan angka 159 PM 2.5 atau berkategori Tidak Sehat.

Meskipun, sejauh ini jarak pandang di Kota Jambi masih Normal (10 kilometer), demikian mengutip laman Ventusky. Tetapi, jika hujan lebat sebagai satu-satunya cara ampuh untuk menghilangkan kabut asap dan karhutla, belum juga turun secepatnya, maka dipastikan beberapa hari ke depan visibility akan semakin menurun.

Luasan lahan dan hutan yang terbakar di Provinsi Jambi dari Januari hingga Agustus 2026 mencapai 658,29 hektare. Kabupaten Muaro Jambi menjadi daerah dengan luasan terbakar terbanyak yakni seluas 264,78 hektare. Selanjutnya Batanghari dengan 95,53 hektare, Tanjungjabung Barat 58,10 hektare, dan Tanjungjabung Timur 32,71 hektare.

“Satgas terus bergerak, baik melalui patroli darat maupun operasi udara, agar Karhutla tidak semakin meluas,” kata Gubernur Jambi Al Haris, mengutip Detik, Sabtu, (22/8).

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi menyebutkan terdapat 62 kasus karhutla yang ditangani sepanjang 2026. Sebanyak 55 kasus masih dalam tahap penyelidikan. Yakni di Kabupaten Sarolangun (26 kasus) dan Muarojambi (10 kasus).

Kondisi Karhutla di Sumatra per 22 Agustus 2026. (credits: GWIS)


Selain itu, tujuh kasus telah masuk tahap penyidikan. Sebanyak delapan orang telah ditetapkan sebagai tersangka (TSK).

Sejauh ini, mengutip laman GWIS, wilayah-wilayah di Sumatra Tengah hingga ke Sumatra Selatan umumnya “menyala” terbakar per 22 Agustus 2026.

Maka, para ahli segala ahli kemudian akan saling mengungkapkan pendapat, terkait apakah itu adalah “titik panas” (hotspot) atau “titik api” (firespot). Dan, seperti biasanya, selalu menyibukan diri dengan banyak istilah yang seolah-olah ilmiah.

Padahal, dengan “dunia dalam genggaman” saat ini, bagi yang memahami teknologi, data tentang Karhutla dan Kabut Asap per harian adalah hal yang lumrah, dan, tersedia untuk publik. Baik itu oleh penyedia data yang bersumber dari dalam negeri ataupun dari luar negeri.

Sehingga, adalah percuma untuk mengklaim bahwa kabut asap berasal dari satu wilayah, yang terkirim ke wilayah lainnya. Meskipun, lagi-lagi, prediksi-prediksi tentang arah angin seperti dapat menjadi pembenar soal kirim-mengirim kabut asap itu.

Sebab, sekali lagi, begitu banyak wilayah yang “menyala” terbakar.

Kondisi udara di Kota Jambi per 22 Agustus 2026. (credits: IQ Air)

Mengutip laman Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada 10 Agustus 2026 lalu telah resmi menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 16 Tahun 2026 tentang “Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar”. Kebijakan ini ditujukan kepada seluruh Gubernur, Bupati, dan Wali Kota sebagai langkah antisipasi cepat guna mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kebijakan ini diambil menyusul pemantauan kondisi iklim yang menunjukkan fenomena El-Nino Kuat telah berlangsung sejak Juli 2026 dan berpotensi memperparah kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengerahkan 314 tenaga medis yang terdiri dari terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog. Selain juga mendistribusikan bantuan logistik kesehatan ke wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Tenaga medis terkonsentrasi utama di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

“Ini adalah upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla,” kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Agus Jamaludin, mengutip Kompas, Sabtu (22/8).

Data Kemenkes, sebanyak 3 juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap akibat karhutla yang melanda tujuh provinsi di Indonesia.

Yakni; Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Sebenyak enam provinsi telah menetapkan status siaga darurat bencana seiring kemarau panjang yang berlangsung sejak awal 2026.

Kemenkes, katanya, telah mendistribusikan perlengkapan medis dan obat-obatan. Yakni; 278.940 masker, 56 unit Oxygen Concentrator (OC), 40 face shield, 1.000 pasang handscoon (sarung tangan medis), 36 tabung Oxycan, 8 set Alat Pelindung Diri (APD), 33 dus Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan juga obat-obatan dan vitamin.

“Pemerintah telah mendirikan pos kesehatan dan ruang oksigen di titik-titik rawan, seperti di Kabupaten Barito Utara, Barito Timur, dan Kota Palangkaraya,” katanya.153

Sementara itu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyiagakan 66.510 personel untuk mendukung pencegahan dan penanganan karhutla di berbagai wilayah Indonesia. Dari total personel itu, sebanyak 16.740 personel telah dikerahkan untuk menangani karhutla di sejumlah wilayah, pada Jumat (21/8). Demikian keterangan Kepala Bidang Penerangan Umum (Kabidpenum) Pusat Penerangan (Puspen) TNI Kolonel Laut (P) Agung Saptoadi, mengutip Kompas, Sabtu (22/8).*

Share:
avatar

Redaksi