Swarnabumi Dalam Mitologi Thailand
Budaya & Seni
June 1, 2026
Jon Afrizal

Detail di Temple of Dawn, Wat Arun, Bangkok, Thailand. (credits: Thailand Magazine)
Mitologi adalah berdiri sendiri. Mitologi tidak pernah menyatakan diri sebagai sebuah kebenaran mutlak. Namun, mitologi adalah penggambaran dari pikiran dan keinginan komunal itu sendiri. Yang termanifestasi sebagai sebuah kebanggaan dari suatu komunal.
TERAMAT sulit mencaritau tentang mitologi terkait Swarnabhumi, menurut Orang Thai. Semuanya, lebih terkendala pada bahasa. Umumnya, mitologi dari Thailand dan yang ditulis Orang Thai, tentu saja berbahasa Thailand. Dan, sangat sedikit penjelasan dalam teks berbahasa Inggris.
Pertanyaan ini menjadi menarik, sebab, Thailand memiliki “Swarnabhumi Airport”, yang telah beroperasi sejak tanggal 15 September 2006 lalu. “Swarnabhumi Airport” adalah bertujuan untuk menggantikan “Don Mueang Airport” yang telah ada sebelumnya.
Kata “Suvarnabhumi” adalah dua kata gabungan yang aslinya adalah bahasa Sanskrit. Yakni; suvarna (: emas) dan bhumi (tanah), yang secara harfiah berarti “Land of Gold”.
Adapun nama bandara Swarnabhumi dipilih oleh Raja Phra Bat Somdet Phra Poramenthramaha Bhumibol Adulyadej yang bergelar Rama IX (1927 – 2016). Menurutnya, nama airport itu mengacu pada “kerajaan emas Buddha”. Yakni sebuah tempat yang diduga berada di sebelah timur Sungai Gangga, atau mungkin di suatu tempat di Asia Tenggara.
Cukup menarik, dimana nama Bhumibol Adulyadej, dalam bahasa Thailand berarti: Kekuatan Tanah, Kekuasaan yang Tak Terbandingkan. Sebuah nama berbahasa Snskrit yang diberikan oleh pamannya, yakni Raja Phra Bat Somdet Phra Poramintharamaha Prajadhipok Phra Pok Klao Chao Yu Hua bergelar Rama VII. Meskipun, dalam akte kelahiran Amerika Serikat dari Bhumibol Adulyadej yang terlahir di Amerika Serikat itu, namanya hanya tertulis sebagai “Baby Songkla” saja.
Sebuah persektif yang berbeda, jika mengaitkan bahwa pendapat umum tentang Swarnabhumi selama ini adalah Pulau Sumatra, yang selalu terhubung dengan masa-masa pencarian emas di abad-abad awal Masehi. Sumatra, dalam catatan lampau, juga disebut Swarna Dwipa (: pulau emas).

Ku Phra Kona, di distrik Amphoe Suwannaphum, di selatan Provinsi Roi Et, Thailand. (credits: Wiki Commons)
Dan, tentunya, di Sumatra sendiri, hingga hari ini, pencarian emas masih dilakukan di banyak anak-anak sungai yang berada di wilayah hulu, ke arah Bukit Barisan yang secara geografi berada ditengah-tengah pulau Sumatra.
Di Thailand, baik itu pihak pemerintah ataupun museum nasional bersikukuh bahwa yang dimaksud dengan Suvarnabhumi adalah suatu tempat di pantai dataran tengah, dekat kota kuno Uhong, yang mungkin saja adalah asal usul budaya Dvaravati yang ada di India.
Meskipun klaim ini belum dapat dibuktikan, namun, melalui adanya Suvarnabhumi Airport, pemerintah Thailand telah merayakan tradisi Dvaravati ini.
Tetapi, mitologi adalah berdiri sendiri. Meskipun mitologi tidak pernah menyatakan diri sebagai kebenaran mutlak, namun, mitologi adalah penggambaran dari pikiran dan keinginan masyarakat itu sendiri. Yang, mitologi kerap termanifestasi sebagai sebuah kebanggaan dari suatu komunal.
Mitologi tentang Swarnabhumi, dengan kendala sangat sedikitnya teks berbahasa Inggris, akhirnya aku temukan pada artikel berjudul “Facts and Fiction: The Myth of Suvannabhumi Through the Thai and Burmese Looking Glass” yang ditulis oleh Nicolas Revire dari Faculty of Liberal Arts, Thammasat University, Thailand.
Revire menjelaskan bahwa dalam perspektif para penganut Buddha Ravada di seluruh dunia, bahwa “Suvannabhumi” adalah lebih dari sekadar nama tentang tanah yang kaya dan berlimpah. Tetapi, “Suvannabhumi” adalah sebuah konsep tentang penyebaran Buddhisme ke berbagai wilayah, yang satu wilayahnya disebut Suvannabhumi.
Sumber dari bahasa Pali yang paling penting adalah kronik Sinhala seperti Dipavamsa dan Mahavamsa di abad ke 4 dan 5 M. Sinhala atau Sinhala dvipa, adalah nama lain untuk: Sri Lanka. Kerjaaan Sinhala di Sri Lanka diklaim telah ada dari tahun 543 SM hingga 1815 M.
Sedangkan Pali adalah bahasa era klasik Indo-Arya Tengah. Yakni bahasa suci Buddhisme Theravada dan bahasa Tipitaka.
Pada kedua kronik Sinhala itu dinyatakan bahwa dua biksu senior, yakni Sona dan Uttara, dikirim ke Suvannabhumi untuk kegiatan penyebaran agama Buddha. Kejadian itu, adalah pada masa Raja Asoka, di abad ke-3 SM.

Seni pahat dan ukir tentang kisah perang di Swarnabhumi Airport, Bangkok, Thailand. (credits: Wiki Commons)
Raja Ashoka (Asyoka) adalah penguasa Kekaisaran Maurya Gupta, dari tahun 269 SM hingga 232 SM. Ia adalah seorang penganut agama Buddha.
The Great Asoka (Asoka Yang Agung), demikian gelarnya, menguasai sebagian besar anak benua India, yakni, yang sekarang disebut Afganistan hingga Bangladesh, dan di selatan hingga sejauh Mysore.
Patut dicermati, bahwa jarak antara terbitnya kronik Sinhala dengan masa pemerintahan Raja Asoka adalah sekitar tujuh abad, atau 700 tahun.
Sebagai perbandingan, meskipun berbeda era, Adityawarman raja Melayu dari Sumatra, penerus dari Dinasti Mauli (1347M – 1375 M) menggunakan gelar Maharajadiraja (: raja di atas raja). Yang, jika diperbandingkan, makna kata “Maharajadiraja” adalah sama dengan “Yang Agung”.
Selanjutnya, kronik ini dan juga interpretasinya, telah memberikan pengaruh pada Buddhisme di Asia Tenggara. Yang, kemudian menjelaskan mengapa berbagai entitas politik ini kemudian berusaha untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai satu wilayah yang disebut sebagai: Suvannabhumi.
Berdasarkan mitologi itu, munculah kebanggaan nasional, karena telah mengklaim diri sebagai negara Buddhis pertama di Asia Tenggara. Dan, ini yang terjadi di di Burma (: Myanmar) dan Thailand, yang keduanya mengklaim diri sebagai “Tanah Emas” Buddhisme.
Dalam bahasa Thailand, Swarnabhumi diucapkan “Suwannaphum”, sedangkan dalam bahasa Burma disebut “Thuwannabhumi”.
Mitologi Thailand tentang Swannabumi, merujuk pada dataran di sisi Sungai Chao Phraya. Kawasan ini adalah bagian dari wilayah Kekaisaran Khmer Angkor, pada abad ke-11 M.
Sehingga, mitologi tentang Swarnabhumi di Thailand dan Burma, adalah tentang masa-masa emas penyebaran agama Buddha. Yang dalam bahasa Inggris, biasa disebut dengan “Golden Era”.
Dan, sangat jauh berbeda dengan interpretasi umum, bahwa “Land of Gold” adalah tentang emas yang sesungguhnya, dengan unsur kimia Au.
Bahkan, U saw Mra Aung, presiden Arakan league for Democracy dari Myanmar pernah menyatakan, bahwa adalah tidak mungkin untuk memberi kesimpulan secara tepat dan akurat tentang lokasi tepat Swarnabhumi. Terkecuali, jika dilakukan dengan penelitian ilmiah secara menyeluruh, sehingga dapat mengungkapkan rahasia dari begitu banyaknya mitologi tentang Suvarnabhumi.
Begitulah, sehingga sekeras apapun opini umum menghubungkan antara “masa pencarian emas” dengan “masa keemasan Buddhisme”, tidak akan dapat terhubung. Sebab, setiap wilayah memiliki mitologinya masing-masing.*
