Ketika Cinta Dimanipulasi
Lifestyle
June 3, 2026
Zulfa Amira Zaed

Ilustrasi manipulasi cinta. (credits: iStock/Vecteezy)
LOVE Bombing adalah satu dari sekian banyak pola manipulasi dari seseorang terhadap orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, pola-pola manipulasi ini kerap disebut dengan dark psychology. Yakni, mengutip The Power Moves, adalah cara memanipulasi, mempengaruhi, dan memaksa yang digunakan seseorang untuk mendapatkan kekuasaan dengan mengorbankan orang lain.
Ketika dua orang berlainan jenis terlibat dalam hubungan cinta, asmara, dan romantisme, maka ketika itu pula terdapat unsur-unsur psikologi didalam hubungan itu.
Dalam banyak hubungan cinta, perasaan terhubung dan nyaman antar dua manusia adalah tanda “saling support”.
Namun, beberapa kasus yang lain, juga terjadi dimana pada awalnya hubungan asmara itu terasa menyenangkan, dan selanjutnya, hubungan itu dapat berubah menjadi sangat jelek. Itulah Love Bombing.
“Love Bombing”, mengutip Colorado Education, adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kasih sayang yang berlebihan dan seringkali tidak sesuai selama tahap awal hubungan cinta kasih asmara. Yakni ketika satu orang melakukan hal-hal di luar batas untuk menyenangkan orang lain dengan memberikan pujian yang berlebihan, mendesak komitmen atau lebih banyak waktu bersama, melakukan tindakan besar, dan mengirimkan hadiah yang berlebihan.
Alih-alih merasa diperhatikan, hasilnya membuat penerima merasa tidak nyaman, kewalahan, ataupun dimanipulasi.

Ilustrasi rasa sakit. (credits: Vector)
Adapun cara untuk mengetahuinya, adalah dengan lihat beberapa ciri dari “Love Bombing”.
Yakni; sanjungan yang berlebihan, terlalu cepat membahas hal-hal pribadi, tekanan untuk berkomitmen, pernyataan cinta yang berlebihan, membuat ketergantungan yang kuat, hadiah-hadiah yang berlebihan, dan, jaminan, pujian, atau pengakuan secara terus-menerus.
Padahal, dalam setiap hubungan, orang membutuhkan waktu untuk membangun kepercayaan, mempraktikkan strategi komunikasi yang bermanfaat, dan mencari cara untuk berbeda pendapat secara konstruktif. Namun, sifat “love bombing” yang berlebihan secara artifisial menciptakan kesan bahwa cinta ada sebelum orang-orang dalam suatu hubungan memiliki waktu untuk benar-benar membangun kepercayaan.
Seiring waktu, hubungan yang tidak memiliki batasan yang jelas dan kebiasaan yang saling mendukung dapat berubah menjadi menyakitkan.
Tanpa adanya sejarah kebersamaan, orang-orang dalam suatu hubungan mungkin mencoba memenuhi kebutuhan mereka dengan strategi lain. Hal itu dapat mencakup upaya seseorang untuk mengendalikan orang lain.
Sehingga, selanjutnya, pelaku akan membatasi akses seseorang kepada teman atau keluarga. Pun dengan cara melakukan gaslighting terhadap pasangannya.
Ia akan mengalihkan kesalahan, menyangkal kebenaran, meremehkan atau mengabaikan kebutuhan pasangannya, menggunakan cinta sebagai alasan untuk perilaku yang merugikan, dan seolah-olah cepat melupakan hal-hal buruk yang telah dialukannya.
Pelaku juga bertindak karena kecemburuan yang tidak beralasan, melakukan perilaku kasar lainnya seperti intimidasi atau kekerasan fisik.
Jika seseorang berada dalam hubungan baru dan merasa ada sesuatu yang tidak beres, itu tidak berarti mereka harus mengakhiri hubungan itu. Sebaliknya, mereka mungkin hanya perlu memperlambat dan merenungkan perasaannya, dan apa yang sebenarnya ia inginkan.
Meskipun, mencoba mengendalikan perilaku orang lain bukanlah ide yang baik. Ini berlaku bahkan ketika kita mencoba menjadi teman yang baik dan membantu orang yang kita cintai keluar dari hubungan yang tampaknya tidak begitu baik.
Tetapi, ketika kita, sebagai teman, mencoba meyakinkan atau membujuk seorang teman yang berada dalam kondisi Love Bombing, kita sering kehilangan kemampuan untuk menjadi pendengar yang suportif, dan dalam prosesnya kita pun akan kehilangan kepercayaannya.
Sehingga, membuka percakapan dan memberi ruang bagi seseorang untuk memproses apakah ia ingin berubah atau tidak, adalah satu cara terbaik untuk menawarkan dukungan.*
