Kisah Penakluk Api

Budaya & Seni

October 26, 2026

Jon Afrizal

Agni, Dewa Api. (credits: Wiki Commons)

“Wahai dewa api, kami sekarang siap untuk memenuhi permintaanmu. Dengan dipersenjatai Gandiva dan dibantu oleh Kresna, aku mampu menghadapi seluruh pasukan dewa yang bersatu dengan para Asura — apalagi Indra! Karena itu, kobarkan api sebanyak yang kau suka dan kepung hutan ini.” [Mahabharata; perkataan Arjuna kepada Agni]

KATA manggala berasal dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa manggala memiliki arti; pelindung (rohani), pemimpin, panglima.

Sedangkan kata agni juga berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti: api. Dalam tradisi Hindu, Agni adalah nama dewa api yang menjadi perantara antara manusia dan para dewa, serta simbol energi dan pengetahuan. Dalam perkembangan bahasa, kata ini diturunkan menjadi kata “geni” dalam bahasa Jawa.

Dalam ajaran Brahmanisme, Agni adalah putra dari Dyaus dan Pertiwi. Pun, dalam versi lainnya, Agni disebut sebagai Putra Brahma.

Agni digambarkan sebagai dewa dengan tubuh berwarna merah, dan dengan api berkobar sebagai rambutnya. Ia berkepala dua, memiliki enam mata, tujuh tangan, tujuh lidah, empat tanduk, tiga kaki, dan mengendarai kambing berwarna hitam.

Dewa Agni diberi gelar; Penguasa Api, dan, Raja dari segala hawa panas. Dengan aura yang membara, Dewa Agni meberikan hawa yang menakutkan bagi seluruh makhluk, termasuk sesama dewa.

Dewa Agni adalah dewa yang menghukum setan-setan, dan membinasakan mereka yang mengganggu manusia. Dalam kitab Mahabharata, Dewa Agni adalah dewa yang membakar hutan Kandhawa, untuk dapat memuaskan rasa laparnya.

Namun, hutan Kandhawa dilindungi Indra. Yang secara luas, hutan Kandhawa juga disebut dengan: Indraprastha.

Sehingga, setiap kali Agni menyalakan api Indra pun menurunkan hujan, dan memadamkan api. Lalu, Agni pun meminta pertolongan kepada Krishna dan Arjuna.

Pada tragedy kebakaran hutan Kandhawa, seluruh hutan dan mahluk hidup di dalamnya mati terbakar. Kecuali, tujuh jenis mahluk hidup, yang tidak dapat dimusahkan api.

Manggala Agni. (credist: Gakum Kehutanan)

Yakni; seekor naga bernama Ashvasena (putra Takshaka), Mayadanava, dan lima Sarangaka (burung). Kelima burung itu adalah Jarita (istri Rishi Mandapala) dan keempat anaknya yaitu Jaritari, Sarisrikka, Stambhamitra, dan Drona.

Memahami Karhutla dan Kabut Asap, adalah juga bagaimana memahami mitologi Agni yang membakar hutan Kandhawa. Karhutla terjadi karena rasa lapar yang berlebihan, yang berwujud menjadi keinginan manusia yang bersaing untuk bertanam sawit (elais), dengan cara membakar hutan sebagai upaya land clearing.

Mengutip laman Sipongi, kebakaran hutan telah terjadi sejak era pemerintah kolonial Belanda. Ini dapat terlihat melalui beberapa peraturan tentang Kehutanan dan kebakaran hutan yang dikeluarkan oleh kolonial.

Seperti; Ordonansi Hutan Untuk Jawa dan Madura 1927 (Pasal 20, Ayat 1 dan 2), Provinciale Bosverordening Midden Java (Article 14), Rijkblad – Soerakarta Ongko 11 (1939), Lombok Raad (1947), dan, Dewan Raja-Raja di Bali No. 9 (1948).

Namun, Karhutla dan Kabut Asap semakin exist di era tahun 1990-an. Yang berawal dari pembukaan lahan-lahan sawit skala besar, di Suamtra dan Kalimantan.

Ketika terjadi Karhutla dan Kabut Asap pada tahun 1997 – 1998, kebakaran tidak hanya terjadi di hutan saja, tetapi tetapi juga di lahan, khususnya di areal kebun.

Berdasarkan hasil evaluasi, maka maka Departemen Kehutanan kemudian membentuk Brigade Pengendalian kebakaran Hutan yang diberi nama: Manggala Agni. Yakni sebagai garda terdepan penyelamatan wilayah yang terbakar, baik itu hutan maupun lahan.

Selayaknya Indra, dewa penguasa langit, cuaca, guntur, badai, hujan, curah air, dan juga peperangan. Maka, karhutla yang diakibatkan dari keserakahan Agni pun harus dipadamkan.

Indra memiliki senjata ampuh, yakni: Bajra. Yakni elemen petir yang dapat menembakkan halilintar dahsyat, yang diciptakan oleh Wiswakarma, dengan bahan tulang Resi Dadici.

Indra pun menunggangi seekor gajah putih yang bernama Airawata. Mitologi Hindu menyebutkan bahwa Airawata adalah gajah penjaga alam semesta, dan pemimpin gajah-gajah lainnya.

Maka, tidak hanya hutan dan lahan yang harus dilindungi. Tapi juga Airawata, dan mahluk-mahluk lainnya, yang terdampak oleh kerakusan Agni.*

Share:
avatar

Redaksi