Nilai Tukar Rupiah; Wait And See
Ekonomi & Bisnis
May 9, 2026
Regata Deblanca

Mata uang USD dan IDR. (credits: Antara)
PERANG yang berkecamuk di Iran dan tertutupnya kases di Selat Hormuz, telah menyebabkan nilai tukar beberapa mata uang terhadap dollar AS melemah. Sebagai efek domino dari perang dan penutupan akses Selat Hormuz, maka harga minyak naik, dan membuat impor barang menjadi mahal, dan berdampak terhadap manufaktur.
Data RTI Infokom menyebutkan nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar AS (USD) melemah pada level IDR 17.390 hingga IDR 17.440 per dolar AS, pada Selasa (5/5). Tidak hanya rupiah saja, dolar Singapura juga melemah 0,17% dan baht Thailand melemah 0,43%.
Namun, won Korea menguat 0,23%, yen Jepang menguat 0,08%, dan dolar Hong Kong menguat 0,01%. Juga, dolar Taiwan menguat 0,11%.
Selain itu, dolar Australia naik 0,1%, euro naik 0,1%, dan, poundsterling Inggris naik 0,1% menjadi US$ 1,3586.
“Perang yang terjadi di Iran berdampak pada kenaikan harga minyak mentah, yang pada gilirannya turut meningkatkan inflasi,” kata Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengutip Bisnis.
Menurutnya, ketegangan antara Ukraina dan Rusia, juga menjadi soalan. Yang telah mengganggu proses produksi minyak di kawasan Eropa Timur saat ini.

Nilai tular rupiah terhadap dolar AS, Rabu (6/5). (Credist: Google Finance)
Sedangkan persoalan dari dalam negeri, katanya, data PMI Manufaktur yang terkontraksi yang terjadi lantaran kenaikan harga minyak, turut membuat sejumlah harga barang mengalami kenaikan. Yang pada akhirnya telah membuat impor barang-barang yang cukup mahal, sehingga berdampak terhadap manufaktur,” katanya.
Sejauh ini, mengutip Investor, analis mempertanyakan apakah intervensi unilateral akan terbukti efektif. Sebab, menurut Mahjabeen Zaman, kepala riset valuta asing di ANZ Bank di Sydney, pasar Jepang tutup untuk liburan Golden Week dan likuiditas akan lebih tipis selama waktu ini.
Dan juga, patutu dipertimbangkan tentang; apakah AS akan bergabung dengan upaya Jepang dalam mendukung yen. Sebab, jika yen melemah lebih lanjut, maka berkemungkinan intervensi bilateral akan meningkat.
Namun, mengutip Kompas, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (5/5) dengan penguatan terbatas. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan bahwa IHSG tercatat naik 25,110 poin atau 0,36 persen ke level 6.997,064.
Indeks sempat dibuka di posisi 6.968,566, lalu bergerak fluktuatif dengan tekanan awal hingga menyentuh angka terendah di 6.921,609. Namun, setelah tekanan tersebut, IHSG berbalik arah dan menguat hingga menyentuh area tertinggi di 6.998,302, mendekati kembali area psikologis 7.000.
Adapun, aktifitas perdagangan cukup ramai. Volume transaksi mencapai 9,617 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar IDR 2,377 triliun, serta frekuensi perdagangan sebanyak 410.333 kali.
Pergerakan saham tercatat cenderung berimbang, dengan 270 saham menguat, 280 saham melemah, dan 165 saham stagnan.*
