Meramu Akar, Menguatkan Tradisi

Lingkungan & Krisis Iklim

February 17, 2026

Jon Afrizal/Bungku, Batanghari

Ramuan herbal Orang Batin Sembilan. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)

ORANG Batin Sembilan telah lama menggunakan beragam jenis akar, umbi-umbian, kulit kayu dan dedaunan sebagai ramuan herbal, yang mereka yakini, dapat meminimalisir serangan suatu penyakit. Sebagaimana pengetahuan banyak kelompok masyakarat di Nusantara.

Hari ini, Minggu (15/2), PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki) selaku pengelelola kawasan “Hutan Harapan” sebagai tempat Orang Batin Sembilan bertempattinggal selama ini, menggugah kembali ingatan mereka terhadap bentuk pengetahuan itu, dalam tema besar “Festival Kesehatan Lingkungan”.

Baik itu sebagai sarana mengumpulkan beragam pengetahuan lokal tentang pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), dan juga untuk memaksimalkan pelaksanaan restorasi.

Sebab, bahan obat-obatan herbal yang mereka butuhkan, akan tetap ada, jika hutan masih ada dan terjaga.

Maka, Empedu Tanah atau Pasak Bumi (Eurycoma longifolia) akan kembali berada di posisinya. Yakni, sebagai ramuan untuk diminum bagi ibu selepas proses persalinan.

“Kegunaannya, adalah untuk membersihkan rahim dari darah yang kotor,” kata Yu Nani, perempuan dari Simpang Macan Luar.

Jenis pengetahuan ini, katanya, telah mereka gunakan secara turun temurun. Pun, mereka mengenal kegunaan daun Senduduk (Melastoma malabathricum) sebagai obat sakit perut, diare ataupun juga penyakit mag.

Sementara, Sarimunawati, perempuan dari Kelompok Gelindingan memperkenalkan kegunaan kulit kayu Beruntung atau Lantung (Artocarpus Altilis) dan Sengkuang atau Dahu (Dracontomelon dao). Kedua jenis obat herbal ini, biasa mereka gunakan sebagai obat malaria, dan cacar.

Sedangkan Mariyam, perempuan dari Kelompok Kelumpang, meramu berbagai macam tumbuhan yang biasa digunakan untuk bumbu dapur. Seperti; kunyit, serai dan juga Brotowali (Tinospora cordifolia).

Bahan ramuan herbal Orang Batin Sembilan. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)

Umummya, beragam bahan obat herbal itu diolah dengan cara direbus, sekitar 10 hingga 15 menit. Aroma yang tersebar dari setiap ramuan ketika direbus, tergambar jelas rasa pahitnya.

Beberapa ramuan yang sudah direbus, dapat langsung diminum, dengan menambahkan “Garam Jantan” (garam kasar).

Sementara beberapa ramuan lainnya, digunakan dengan cara diusapkan ke bagian tubuh. Terutama yang terkait dengan obat-obatan herbal pasca proses persalinan.

Tidak seperti yang kita pikirkan, bahwa tidak semua ramuan herbal dapat diseduh dengan menggunakan madu Sialang.

“Madu adalah obat tersendiri, dan tidak dapat dicampurbaurkan dengan ramuan lain,” kata Bi Teguh, perempuan dari Kelompok Kelumpang.

Madu, katanya, berasal dari ratusan jenis bunga yang tumbuh di hutan rimba. Setiap jenis bunga mengandung khasiatnya masing-masing.

Penggunaan madu Sialang untuk ramuan herbal. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)

Maka, jikapun ingin mencampurkan madu, cukuplah untuk ramuan kunyit dan serai saja.

“Masing-masing ramuan punya khasiatnya,” katanya.

Maka, adalah benar, jika setiap Orang Batin Sembilan menganggap bahwa pohon Madu Sialang tempat lebah bersarang adalah “harta” yang tidak dapat dinilai harganya.

Madu Sialang di hutan adalah milik per pribadi. Jika ada orang lain yang merusak atau menebangnya sehingga tidak berproduksi lagi, maka, sebagaimana petatah petitih Orang Batin Sembilan, harus membayar kepada pemilik Pohon Sialang seharga yang telah ditetapkan oleh pemiliknya.

Uce Lestari, dosen dari jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Jambi pun memaparkan tentang aspek kebersihan dalam pengolahan setiap ramuan. Sebab, katanya, ramuan yang tidak diolah sesuai kaidah Kesehatan, tidak dapat meredakan penyakit, melainkan malah mendatangkan penyakit baru.

“Butuh ketelatenan dalam hal kebersihan. Setiap bahan ramuan harus dicuci bersih, dan menghindari jamur yang tumbuh, agar tidak memberikan efek buruk bagi orang yang menggunakannya,” katanya.

Dan, sebagaimana obat-obatan herbal lainnya, tentu butuh uji klinis dan beragam uji modern lainnya. Agar sesuai dengan standar kesehatan, dan penggunaannya tidak berbahaya bagi manusia.

“Kami menghargai pengetahuan lokal,” kata Adam Aziz, direktur PT Reki.

Pengetahuan lokal, katanya, adalah cara bagi kelompok indigenous people ini untuk tetap bertahan hingga hari ini. Sehingga, peran restorasi ekosistem adalah untuk memperbaiki kawasan tempat mereka hidup.

Jika pun ramuan herbal ini, nantinya, dapat diolah menjadi ramuan “siap jual”, ini tentunya akan menjadi nilai tambah bagi perekonomian Orang Batin Sembilan.*

Share:
avatar

Redaksi