Jejak Jambi Di Bandar Tongkang Pechah

Inovasi

September 1, 2026

Jon Afrizal

Landmark Bandar Tongkang Pechah. (credits: Wiki Commons)

Kerabat Kesultanan Jambi menghindari kejaran Belanda, dan berlayar menuju pantai barat Semenanjung Malaya. Akhirnya, gelombang laut membawa tongkang mereka ke sebuah sungai di Batu Pahat, Johor.

TONGKANG Pechah, di Distrik Batu Pahat, Johor, Malaysia. Bandar (kota) Tongkang Pechah, berjarak sekitar 15 kilometer dari Bandar Penggaram, ibukota Distrik Batu Pahat.

Tongkang Pechah adalah pemukiman ke-6, menurut sistem pemukiman di Distrik Batu Pahat.

Bandar Tongkang Pechah terletak di tengah-tengah antara kota Parit Sulong dan kota Seri Medan. Yang juga adalah pertemuan dua sungai utama di Batu Pahat, yakni; Sungai Simpang Kanan dan Sungai Simpang Kiri.

Dari sungai-sungai itulah sejarah berawal. Dan, kenyataannya, berdirinya bandar Tongkang Pechah terkait dengan Kesultanan Jambi di abadb ke-18 M.

“Wilayahnya ini awalnya dijelajahi oleh sekelompok orang yang memiliki hubungan darah dengan para pemimpin Kesultanan Jambi dan beberapa pengikut setia,” kata Kamdi Kamil, petugas dari Johor Heritage Foundation mengutip Budak Melayu Nusa Antara.

Mereka menghindari kejaran Belanda, dan berlayar menuju pantai barat Semenanjung Malaya. Akhirnya, gelombang laut membawa tongkang mereka ke sebuah sungai di Batu Pahat.

Peta Bandar Tongkang Pechah. (credits: Google Maps)

Ketika itu, tongkang (: sejenis kapal yang dengan lambung datar) yang mereka tumpangi rusak atau pecah pada bagian lambung. Dan, wilayah ini, sewaktu itu tidak berpenghuni, sehingga aman untuk ditempati.

Untuk mengingat peristiwa itu, sekaligus menjadi penanda tempat, maka disebutlah wilayah itu sebagai: Tongkang Pechah.

Setelah beberapa waktu, mereka, para penghuni baru itu, menghadap Sultan Abu Bakar, sultan dari Kesultanan Melayu Johor-Riau-Lingga, untuk meminta izin menetap di sana.

Titik yang mereka tempati itu, kini dikenal dengan nama; Parit Sulong, dan Parit Jambu.

Hingga saat ini, keturunan mereka pun berketurunan di sana. Bahkan, adat istiadat pun memiliki kemiripan dengan adat istiadat di Melayu Jambi

Selanjutnya, di abad ke 21 ini, dibuatkanlah landmark berupa replika tongkang dengan tulisan “Tongkang Pechah” di kota ini. Sebagai pengingat sesiapa saja, bagaimana kota ini bermula.

Hari ini, Tongkang Pechah adalah pusat perdagangan dan jasa di wilayah barat Johor.  Terdapat tiga pabrik biskuit di sana. Yakni; Munchy, Hup Seng, dan Hwa Tai.

Pun juga terdapat pula pabrik tekstil, makanan ringan, dan manufaktur plastik. Karet dan sawit juga menjadi sumber mata pencaharian bagi penduduk di sekitar kota ini.

Tongkang Pechah, berjarak 243 kilometer dari Kuala Lumpur. Jika berkendara kendaraan roda empat dari Kuala Lumpur, akan memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan, melalui Jalan Tol Utara-Selatan/E2.

Satu sisi Bandar Tongkang Pechah. (credits: Wiki Commons)

Adapun Distrik Batu Pahat, adalah satu pusat ekonomi, pendidikan, industri, dan pariwisata terpenting di negara bagian Johor. Mengutip laman Jabatan Perangkaan Malaysia, penduduk Distrik Batu Pahat tercatat sebanyak 495.338 jiwa berdasarkan sensus resmi MyCensus 2020.

Perkiraan terbaru, penduduk Distrik Batu Pahat berjumlah sekitar 517.900 jiwa. Ini menjadikan Distrik Batu Pahat sebagai satu distrik terpadat di Malaysia, setelah Johor Bahru.

Sayangnya, hingga deadline, aku belum menemukan penanggalan yang tepat tentang waktu berlabuhnya para kerabat Kesultanan Jambi ke Tongkang Pechah. Pun belum dapat diketahui sesiapa saja kerabat Kesultanan Jambi itu.

Dan entah mengapa, angin dan laut membawa tongkang kerabat Kesultanan Jambi ini untuk berlabuh ke Tongkang Pechah.

Padahal, di era lampau, di tahun 1600-an, terjadi perang 30 tahun antara Jambi dengan Johor yang didukung oleh Kesultanan Indragiri untuk memperebutkan Kuala Tungkal.

Meskipun, sebagai diplomasi damai, telah terjadi dua kali pernikahan antara pihak Kerajaan Jambi dengan Kesultanan Johor. Pertama, Sultan Hammat Syah Johor menikahi seorang puteri keraton Jambi, yakni puteri dari Raja Jambi Penembahan Koto Baru (berkuasa hingga 1615 M).

Kedua, di tahun 1659 Raja Muda Johor Ibrahim Sultan Shah, yang adalah putra Sultan Hammat Syah pun menikah dengan seorang putri dari Pangeran Keda Abdul Kohar (berkuasa hingga 1630 M). Sewaktu itu, Kerajaan Jambi telah berubah bentuk menjadi Kesultanan Jambi.

Namun, setelah era perang serumpun ini, malah terjadi saling dukung antara Johor dan Jambi. Yakni, ketika ulama dari Tongkang Pechah mendukung gerakan perlawanan Salindang Mirah, yang juga berada di Kuala Tungkal, Tanjungjabung Barat Provinsi Jambi, yang diperebutkan beberapa abad sebelumnya sebelumnya.

Salindang Mirah tercatat melawan tantara Belanda pada Agresi Belanda ke-2, tahun 1949. Dengan pusat gerakan di Masjid Pasar Rebo Bram Itam.

Begitulah, sejarah adalah bentuk pengulangan. Ia akan mengulang dirinya sendiri, dari satu masa ke masa yang lainnya.*

Share:
avatar

Redaksi